Bab 6

1433 Kata
Satu sudut bibir Senja terangkat, membentuk senyum meremehkan. “Aku nggak sudi ngehargain orang yang udah coba ganggu rumah tanggaku.” Senja benar-benar cari mati. Ia bahkan tidak berpikir panjang untuk mengucap kalimat tersebut pada Elang. Pria tersebut merasa Senja memang ingin menyalakan genderang peperangan dengannya. Perempuan itu bahkan tidak ada rasa gentar sedikit pun saat menatap Elang. “Oke. Kamu yang memilih jalan ini, Senja.” Elang menatap sekitar. Beberapa pembantu rumah Baskara bahkan tertangkap tengah memperhatikan keduanya. Sementara Senja, ia berusaha mengalihkan perhatian dari Elang. Sesuai permintaan Baskara, perempuan tersebut melayani Elang dengan sewajarnya. Mengambilkan nasi dan lauk-pauk, menyeduhkan air putih hangat, dan menyediakan hidangan penutup untuk Elang. “Di sini kita nggak berdua, Senja.” Ucapan Elang membuat Senja tertegun sejenak. Bola matanya bergerak, meneliti keadaan sekitar. Di sana ada beberapa pembantu yang lalu-lalang dan sesekali memperhatikannya. “Kamu nggak mau mereka salah paham dengan hubungan kita, ‘kan?” Senja menoleh. Tatapannya seperti petir yang menyambar. Ada kilat kemarahan yang tertera jelas melalui sorot matanya. “Jangan berbuat macam-macam, Kak.” Senja memperingatkan dengan nada tertahan. “Cukup sekali Kak Elang menghancurkan hidup aku.” Piring berisi menu lengkap itu ia sodorkan ke hadapan Elang dengan gerakan yang tak sepenuhnya halus. Kekesalannya sudah di ujung tanduk; ia tak sanggup lagi berpura-pura ramah. Bunyi piring yang beradu dengan meja terdengar nyaring. Beberapa pembantu rumah bahkan sempat menghentikan aktivitasnya, menoleh karena tak sengaja mendengar. “Sopan sekali kamu,” ujar Elang dingin, nyaris tanpa emosi. “Begini caranya Nyonya Baskara yang terpandang menyambut tamu?” Cukup. Senja merasa Elang sudah terlalu jauh menguji kesabarannya. Ada rasa panas menjalar di telapak tangannya setiap kali sikap mantan suaminya itu mempermainkannya sesuka hati. “Sikapku tergantung sikap Kak Elang,” jawab Senja mantap. “Kak Elang datang ke sini tanpa diundang. Aku nggak pernah minta, dan aku nggak pernah sedikit pun berharap Kak Elang ada di sini!” Rahang Elang mengetat. Tatapannya menggelap. Tangannya langsung bergerak, menyentuh kembali paha kanan Senja. Ia menggenggamnya kuat, seolah sedang mempertahankan sesuatu. Tangannya bergerak naik, menyentuh pangkal paha Senja. “Kamu nggak bahagia sama dia, Senja.” Elang makin melancarkan aksinya. Jarinya menyelusup ke balik panties yang dikenakan perempuan tersebut. Rasa cemburu yang tidak bisa dikontrol membuatnya melakukan hal itu tanpa pertimbangan. Napas Senja tertahan dalam beberapa detik. Matanya memejam, menahan sesuatu yang bergejolak di d.a.da. Sentuhan di balik p.a.n.t.i.e.s itu terasa lembut, tapi menekan di satu titik. Senja merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. “S-stop, Kak ….” “Ingat, Senja. Di sini bukan cuma kita berdua. Ada orang lain yang bisa saja melihat apa yang sedang terjadi.” Napas Senja terengah. Ia hanya bisa terdiam, terlebih ketika jari-jemari itu bergerak semakin jauh. Ada dorongan kuat untuk berteriak, tetapi nyalinya seakan terkunci oleh sesuatu yang tak kasatmata. “Aku mohon berhenti, Kak—ah ….” Suara menjijikkan itu seketika lolos. Senja langsung menunduk. Ia sembunyikan wajahnya yang seperti menahan rasa aneh itu. Kepalanya sudah tidak bisa berpikir jernih. Elang terlalu pintar mempermainkan kondisi. Senja bahkan tidak bisa berkutik. “Saya tidak akan pernah membiarkan kehidupan kamu nyaman, Senja!” Elang berucap sambil memperdalam gerakan jarinya yang menyelusup ke dalam sana. “Akhhh ....” Suara sialan itu keluar begitu saja dari bibir Senja. Perempuan tersebut tetap menunduk, berusaha menetralisir gelenyar yang menyusup ke kulit. Tidak ada rasa sakit. Namun, bukan berarti Senja juga nyaman. Sentuhan itu seperti sebuah getaran halus yang membuat tubuhnya tersentak. Degup jantungnya makin cepat, memburu. Di sana seperti ada pukulan-pukulan kecil yang membuat napasnya terus berderu panas. “Kamu menikmatinya, Senja?” Senja hanya menggeleng. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya secara penuh. Matanya memejam, rapat. Pegangan tangan pada sendok dan garpu itu makin kuat. Saat dirinya tidak lagi kuasa menahan sensasi itu, dua benda tersebut terjatuh begitu saja. “Jangan munafik. Katakan bahwa kamu menikmatinya.” Desakan itu membuat Senja makin meronta. Ia menahan diri agar tidak melenguh untuk yang kedua kali. Kedua tangannya mencengkeram sisi meja. Beberapa saat kemudian, ia berusaha mengumpulkan kesadaran. Setelahnya, perlahan-lahan Senja membangun kekuatan. Ia memegangi pergelangan tangan Elang dan membuka matanya cepat. “Berhenti, Kak.” Elang memiringkan kepala. Tangannya masih tetap berada di sana, seolah mencari tempat ternyaman untuk bersemayam. “Why?” Pertanyaan singkat Elang dibersamai dengan permainan jarinya yang makin dalam. Pria tersebut bahkan bertindak lebih jauh dari yang Senja duga. “Kak!” Senja kelepasan. Teriakan pendek itu meluncur tanpa ia sadari—cukup nyaring untuk menarik perhatian para pembantu rumah. Untuk kedua kalinya, ia menjadi pusat atensi. “Nyonya baik-baik saja?” tanya salah seorang pembantu sambil menghampiri, matanya meneliti wajah Senja dengan cermat. Senja menggeleng pelan, lalu berdeham singkat. Ia berusaha menormalkan dirinya, menekan rasa tak nyaman yang masih mengendap agar tak memicu kecurigaan. “S-saya baik, Mbak. Saya baik-baik aja, kok.” Pembantu tersebut mengangguk, lantas pamit dari sana. Pada saat yang bersamaan, Elang menarik tangannya dari paha dalam Senja. Ia tersenyum puas ketika melihat jari-jemarinya yang basah. Sang mantan istri bahkan mendapat pelepasan hanya dengan permainan jari Elang. Pria tersebut sungguh merasa menang kali ini. Senja membuang napasnya kasar. Kedua tangannya yang mencengkeram sisi meja terlepas begitu saja. Ia masih menunduk, menatap pangkuannya sendiri. Elang lantas berdiri. Beruntung para pembantu rumah Baskara tidak lagi di sana. Ia lekas mencuci tangannya dengan sabun di wastafel. Diam-diam ia tersenyum puas setelah membuat Senja kewalahan dengan sikapnya yang liar. Ini belum seberapa. Anggap saja, kali ini hanya sebatas pemanasan. Ia kembali ke meja makan. Wajah Senja langsung dibelai dengan lembut. Satu noda merah yang cukup lebar di dahi menjadi pusat perhatiannya sedari tadi. “Dia yang melakukannya? Hm?” Elang bertanya. Nadanya lembut, prihatin. Tatapan yang biasanya dingin mulai menghangat, penuh iba. Jarinya terulur, hendak menyentuh luka itu. Tapi, Senja lebih dulu menghindar. Ia memalingkan wajah dan kembali menutupi lukanya dengan helai rambut. Anehnya, Elang bisa melihat luka tersebut meski sudah disamarkan oleh makeup. “Lihat saya, Senja.” Senja enggan menuruti perintah Elang. Ia tetap bertahan pada posisinya untuk cari aman. Perempuan itu hanya takut Baskara tahu. “Saya akan buat kamu lepas darinya.” Elang menyandarkan punggung ke kursi. Ekor matanya masih melirik sisi wajah Senja yang bertekuk masam. Perempuan yang selalu keras kepala itu justru terlihat beda sekarang. Senja menoleh, tapi tatapannya tidak pernah fokus ke sosok pria tersebut. Ia benar-benar enggan terlibat apa pun lagi dengan mantan suaminya. “Aku bahagia sama Mas Baskara. Dan tolong Kak Elang jangan lagi mencampuri urusanku!” Belum sampai Elang menjawab, dari ujung tangga terdengar langkah tegas dan teratur. Baskara mulai turun dan kembali duduk di kursi meja makannya. “Sepertinya, kalian sedang membicarakan sesuatu.” Begitu duduk, Baskara langsung berucap demikian saat menyadari wajah Senja yang berkeringat tipis di bagian dahi. Senja terenyak. Sudut matanya diam-diam melirik Elang yang duduk di sampingnya. Ingin sekali ia memaki pria tersebut di depan Baskara langsung. “Cuma bicara ringan. Bahas soal bisnis Mas sama Pak Elang.” Senja berusaha mencari dalih sevalid mungkin. Baskara tidak menjawab. Mulutnya diam, tapi tangannya bergerak meraih satu lembar tisu dan mengusap dahi sang istri. Senja mundur, seolah-olah takut dengan tindakan Baskara. Ia mengira pria tersebut hendak memberinya pukulan. Momen intens tersebut disaksikan langsung oleh Elang. Dari sikap Senja yang tampak tidak nyaman saja ia sudah tahu. Sang mantan istri tertekan dengan sikap Baskara. Emosi Elang tidak pernah benar-benar redam. Ia merasakan sesuatu yang bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Lidahnya kaku hanya untuk sekadar mengatakan bahwa ia cemburu. Gengsinya terlalu tinggi. Bahkan, hal sekecil apa pun tentang Senja selalu berhasil mengusik ketenangannya. Ia sakit. Hatinya terluka melihat wajah Senja yang penuh beban. Apalagi luka di dahi itu ... makin membuat pikirannya tidak bisa lepas dari bayangan perempuan tersebut. “Habiskan sarapan kamu dulu. Setelah itu istirahat.” Baskara berucap penuh arti. Tatapannya mengintimidasi. “Iya, Mas.” Baskara lantas menoleh ke arah Elang. “Kamu belum mulai sarapan, Elang?” “Belum. Tadi sempat berbincang sebentar dengan istri Pak Baskara.” Senja mendecih pelan. Berbincang, katanya. Setelah semua yang dilakukan pria itu, Elang masih mampu bersandiwara dengan begitu rapi. “Benarkah?” tanggap Baskara, terdengar antusias. Elang mengangguk. Ia meraih sendok dan garpu, bersiap menyantap hidangan di meja. Sebelum itu, pandangannya meluncur ke arah Senja—singkat, penuh arti. “Istri Anda ini terlalu pandai,” ujar Elang santai. “Pasti ada sisi lain yang belum Pak Baskara ketahui, ’kan?” Senja mendelik. Tatapannya menajam ke arah pria di sampingnya, disertai gelengan kecil—kode diam-diam agar Elang menjaga rahasia. “Sisi lain?” Baskara mengulang, jelas tak paham. “Iya.” Elang memaku pandangannya pada Baskara, senyumnya samar. “Sisi lain… yang bagaimana, Elang?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN