“Wanita cantik dan paket komplit seperti Senja pasti punya rahasia sampai bisa menarik hati Pak Baskara.”
Tawa renyah terdengar dari Baskara. Elang mulai menyuap makanannya ke mulut. Sesekali lirikannya mengarah pada Senja.
“Kamu ini bisa saja, Elang.” Baskara mengangguk beberapa kali. “Ya, saya termasuk beruntung. Entah pria bodoh mana yang dulu menyia-nyiakan perempuan seperti Senja.”
Deg!
Kalimat itu membuat suasana hati Elang makin panas. Andai Baskara tahu jika pria yang dimaki seperti itu sekarang ada di depan matanya.
Elang berusaha menarik napasnya dalam, kemudian mengembuskannya pelan. Ia memasang senyum, sehangat mungkin.
Di lain sisi, Senja tertawa dalam hati. Ia bisa melihat jelas bagaimana raut wajah Elang yang menahan kemarahannya ketika Baskara berkata seperti tadi.
“Silahkan dimakan, Elang. Nikmati semua ini.”
Mengangguk, Elang mulai menyantap makanan yang sudah diambilkan Senja tadi. Suasana meja makan itu hanya diisi oleh denting sendok dan piring yang saling bergesekan.
Beberapa saat kemudian ....
Ritual sarapan itu telah selesai. Senja lebih dulu beranjak, berniat untuk membawa peralatan makan yang kotor ke wastafel. Namun, suara Baskara seketika membuatnya terdiam.
“Biar Si Mba yang kerjain, Senja. Saya sudah bilang, tugas kamu hanya melayani saya.”
Kalimat itu membuat Elang menatap ke arah Senja yang masih berdiri tepat di belakang Baskara. Ia menyipitkan mata, mempertajam tatapannya.
“Ah, begitu, ya? Oke, Mas. Kalo begitu, aku ke kamar dulu.”
Meski Senja tahu ini hanya sandiwara Baskara, tapi ia memang menikmati perannya. Perempuan tersebut berusaha untuk tetap mengikuti apa saja yang dikatakan sang suami.
Baskara mengangguk. “Iya. Saya mau keluar sebentar sama Elang untuk cek proyek. Telepon aku kalau kamu butuh sesuatu.”
Senja menoleh ke arah Baskara. Ia mengangguk. Tidak lama, suaminya itu berdiri, kemudian memberinya kecupan di dahi.
Tanpa keduanya tahu, Elang yang menyaksikan hal tersebut mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Wajah hangatnya memudar.
Ia bisa menyaksikan bagaimana posesifnya kecupan itu. Elang melihat sorot mata mantan istrinya yang tidak memberi penolakan sedikit pun.
Perempuan tersebut terkesan menerima. Tidak ada penolakan. Tidak ada bantahan. Hanya ada sikap tunduk, mempersilakan Baskara memberinya perhatian.
Detik berikutnya, Senja menyalami tangan kanan Baskara. Bukankah pemandangan tersebut cukup manis untuk ukuran pasangan suami-istri?
Tapi, nyatanya ada sesuatu yang tidak bisa diperlihatkan oleh Elang. Pria tersebut menahan rasa tidak relanya dengan mengepalkan tangannya makin erat.
Saking eratnya, telapak tangan yang sudah merah tersebut mendapat bekas dari kukunya yang seakan hendak menancap dalam.
Sekilas, Senja bisa melihat raut wajah Elang. Tatapannya bertemu dengan mata tajam yang berkilat amarah milik pria tersebut.
Ia menyunggingkan senyum—merasa menang atas permainannya kali ini. Sementara Elang makin menyipitkan mata, memberi perhitungan.
“Aku tau kamu sedang pura-pura, Senja.” Elang berucap dalam hati.
Baskara memegang kedua lengan Senja. “Saya pergi dulu.”
Senja mengangguk. “Hati-hati, ya, Mas.”
“Iya, Sayang.”
Pemandangan itu justru membuat Elang makin yakin bahwa keduanya hanya sandiwara. Dari tatapan Senja ke Baskara saja sudah terlihat bahwa ada sesuatu yang menekannya dari dalam.
“Ayo, Elang. Kita bahas yang kata kamu tadi ada pihak ketiga.”
Elang berdiri, ia melangkah beriringan dengan meninggalkan tatapan penuh makna pada Senja.
Perempuan itu menunduk, memutus kontak mata dengan pria yang pernah menjadi suaminya. Senja ingin semua ini berakhir. Ia tidak mau terjebak.
Ting!
Satu pesan masuk. Senja melihat ke arah layar. Baru saja beberapa detik meninggalkan ruang tamu, Elang sudah mengiriminya pesan.
[“Saya akan buat kamu cerai dari Baskara.”]
Senja menggigit bibir bawah ketika membacanya. Ia tidak percaya jika Elang akan benar-benar merebutnya dari Baskara.
Tanpa Senja sadari, dari jarak jauh ada sepasang mata yang menangkap bagaimana interaksi Senja dengan Elang pada saat tidak ada Baskara di meja makan.
Kedua tangannya mengepal erat di samping tubuh. Ia benci melihat pemandangan itu. Wajah tampan itu menatap dingin ke arah Senja. Tatapannya tidak bersahabat sama sekali.
“Kamu nggak akan pernah bisa gantiin posisi Mama. Kamu cuma benalu yang numpang hidup enak sama Papa.”
**
Keesokan harinya ....
Tidak ada hal spesial yang dilalui Senja. Larangan untuk bekerja lagi membuatnya bosan sekaligus khawatir. Ia takut kehilangan kariernya.
Harusnya ia menikmati pernikahan keduanya. Namun, entah kenapa takdir seolah suka sekali melihatnya menderita.
Semuanya terlalu rumit. Selalu ada sesuatu yang membuat Senja seperti gelisah setiap waktu. Ia merasa diawasi dari jauh.
Tapi, tiap kali Senja memastikan, tidak ada siapa pun di luar. Elang juga tidak menampakkan diri semenjak kedatangannya kemarin pagi dan mengirim pesan padanya.
Senja berdiri di balkon kamar. Cuaca hari ini cerah. Cahaya matahari itu menyengat di kulit tangannya yang memakai dress lengan pendek.
Wajahnya terlihat berkilau dan bersih ketika terpapar oleh hangatnya sinar matahari. Ia memejam, merasakan udara pagi yang terasa segar karena tanaman hijau di pekarangan rumah.
Angin berembus pelan menerpa kulit. Di tengah kegiatannya menikmati momen tersebut, sebuah rengkuhan menarik pinggangnya lembut.
“Eh!”
Senja terlonjak kaget. Ia menarik tubuhnya refleks hingga rengkuhan itu terlepas. Tubuhnya berbalik. Di hadapannya kini ada Baskara.
Pria tersebut terlihat begitu gagah dengan tampilan nonformalnya. Rambutnya disisir rapi. Aroma tubuhnya yang khas tercium kuat oleh hidung Senja.
“Maaf, Mas. Aku kira siapa.”
Selalu saja begini. Senja seperti menghindar tiap kali Baskara memberi sentuhan. Ia teringat dengan cara pria itu memperlakukan.
“Memangnya kamu pikir siapa, huh?” Satu alis Baskara menukik. “Kamu berharap ada pria lain di sini?”
Senja tersenyum canggung. Fakta yang Baskara ucap terdengar pahit. Mau tak mau, memang inilah kenyataannya.
Baskara tidak pernah mengizinkan orang lain untuk masuk ke kamarnya, termasuk pembantunya. Baginya, kamar tidur adalah ranah privasinya dengan Senja.
Meski nyatanya, kamar tersebut belum memiliki kehangatan. Senja belum mengizinkan pria tersebut menyentuhnya sampai akhirnya harus mendapat perlakuan kasar.
“Kamu salah, Mas. Aku nggak pernah berharap kayak gitu.”
Ada rasa takut hingga tubuhnya refleks menolak sentuhan Baskara. Ia tidak jijik. Sikapnya itu bukan juga sebagai bentuk ketidaksukaannya terhadap sang suami.
Hanya saja ... masih ada sesuatu yang asing. Sampai akhirnya, otaknya berkata jika Senja harus tetap menjaga jarak dari siapa pun.
Benar-benar pikiran yang gila. Senja bahkan menganggap dirinya sudah tak waras. Entahlah. Semuanya terlalu susah untuk dicerna.
Baskara menyandarkan tubuhnya di pagar besi balkon kamar tersebut. Ia berada tepat di samping Senja. Dekat, tapi masih ada sedikit celah sebagai jarak.
“Saya mau tanya sesuatu sama kamu.” Tatapannya garang, bak burung elang yang mengincar mangsa.
Hati Senja makin berdebar tidak karuan. Ia takut jika sang suami bertanya hal macam-macam. Apalagi ia tahu jika Baskara seperti sadar jika sikapnya aneh.
“Soal apa, Mas?”
Pria tersebut diam dalam beberapa saat. Ia memiringkan tubuhnya. Tatapannya dipaku dalam-dalam. Baskara bersiap untuk memulai berbicara serius.
“Siapa yang kamu pikirkan?”
Senja termangu mendengar permintaan itu. Ia mengerjap. Raut wajahnya dipenuhi kebingungan. Selama ini, perempuan tersebut memang tidak bicara banyak soal mantan suaminya dulu.
“Maksud kamu ... gimana, Mas?”
“Jangan pura-pura bodoh, Senja! Saya tau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari saya.”
Baskara mendesak. Senja tidak langsung merespons. Ia gelisah. Posisinya kembali terancam. Ia takut tiba-tiba suaminya berbuat kasar lagi.
Tapi, di sisi lain, mungkinkah ini saatnya ia harus terbuka? Setidaknya, dengan cara ia bercerita jika Elang mengganggunya, Baskara akan bertindak pada pria itu.
Ah, tidak. Apa yang dipikirkannya itu terlalu berisiko. Bagaimana jika Senja bicara dan Elang justru membalikkan fakta pada Baskara? Sungguh, mantan suaminya itu selalu punya siasat.
Pikiran Senja seperti terpecah jadi dua. Antara ingin maju dan mundur. Mengungkap atau tetap menjaga rahasia.
“Nggak ada, Mas. Aku cuma mikirin kerjaan, kok,” kata Senja akhirnya. Ia menunduk, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyamannya. “Aku nggak mikirin siapa-siapa, seperti dugaan kamu.”
Baskara meneliti baik-baik ucapan Senja. Dari sikap sang istri, ia menyadari sesuatu. Senja terlihat polos, tapi menyimpan banyak rahasia.
“Siapa mantan suami kamu?”
Senja mengangkat kepala. Ia putar sedikit hingga tatapannya hingga bertemu dengan mata tajam pria matang tersebut.
“Biar itu jadi masa laluku, Mas.”
“Enough.” Satu kata Baskara terdengar tegas. “Saya sudah tau semuanya, Senja.”
***