Bab 8

1368 Kata
Perempuan itu tercekat. Sudah tahu semuanya? Jangan-jangan… Elang memang telah membeberkan segalanya pada Baskara. Senja kian gelisah. Pikirannya melayang tak menentu. Satu tangannya meremas sisi gaun hingga kusut, seolah itu satu-satunya cara menahan diri agar tetap berdiri. “Mas… sudah tahu semuanya?” Baskara mengangguk sekali, mantap. “Iya. Apa pun tentang kamu, saya sudah tahu semuanya.” Kaki Senja mendadak terasa lemah. Tubuhnya nyaris roboh, tenaganya luruh seketika. Tatapan Baskara yang semula dingin kini berubah tajam, menusuk dan mencekam. Senja gelagapan; udara di sekitarnya terasa semakin menipis. Ia menekan dadanya. Ada sesak yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata. Rasa takut menyergap—Senja tak ingin gagal untuk kedua kalinya. Meski pernikahan ini tanpa cinta, tanpa rasa, tapi Senja tetap berusaha untuk mempertahankan semuanya. Walaupun sikap Baskara juga sudah jelas terlihat, ia akan berusaha menjalaninya. Selagi Baskara tidak menceraikannya, tidak ada alasan untuk perempuan tersebut mundur dari pernikahannya yang kedua. Bukan bodoh, tapi ini adalah konsekuensi. Konsekuensinya dari keputusan menikah cepat, bahkan satu hari setelah masa idahnya selesai. Ya, walaupun ... pernikahan ini adalah paksaan yang lagi-lagi datang dari ibunya. “Mas ... tau dari mana?” Akhirnya, pertanyaan tersebut lolos begitu saja dari mulut Senja di tengah rasa takutnya. “Dari mata kamu.” Senja memiringkan kepala, saking tidak paham dengan maksud ucapan sang suami. Kelopak matanya berkedip beberapa kali. “Saya tau kamu masih sayang sama mantan suami kamu,” ungkap Baskara saat menyadari istrinya tidak paham. Ia merangkul. Awalnya lembut, tapi detik berikutnya langsung mencengkeram lengannya. “Saya akan cari dia dan menghabisinya di depan kamu.” Ancaman itu dikatakan tepat di telinga Senja. Perempuan tersebut menegang. Bagaimana jika memang Baskara sudah tahu kalau Elang mantan suaminya? Ia menoleh, kemudian menggeleng lemah. “Jangan, Mas. Kami udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Aku juga nggak pernah mikirin dia.” “Dan kamu pikir saya percaya?” Napas perempuan tersebut terputus-putus. Senja dibuat sesak napas oleh kalimat yang diucap Baskara. Pria tersebut hampir membuatnya tidak bisa bergerak. “Aku mau minta maaf kalo seandainya belum bisa layanin kamu secara penuh, Mas.” Baskara hanya mengangkat satu sudut bibirnya. Matanya memicing. “Maaf nggak akan pernah mengubah keadaan.” Sebuah kesialan untuk Senja ketika mendapat sikap Baskara yang lebih kejam dari Elang. Ternyata, penilaiannya tentang Baskara salah besar. Senja pikir ... menikah dengan pria matang akan membuat hatinya sedikit tenang. Ternyata, impian itu hanya harapan kosong. Faktanya Baskara jauh dari kata baik dan pemaaf. Ia tidak bisa mentoleransi kesalahan sedikit pun. Pria tersebut juga menuntut banyak hal dalam diri Senja. “Lalu aku harus gimana, Mas?” Baskara menyunggingkan senyum. “Terlambat. Sekali menolak, kamu akan terima konsekuensinya seumur hidup.” ** Malam hari … Kali ini Senja sibuk di dapur. Untuk pertama kalinya, ia ikut mempersiapkan makan malam bagi Baskara. Ia menunjukkan baktinya lewat hal-hal kecil. Beberapa bocoran menu kesukaan sang suami ia dapatkan dari juru masak rumah itu. Senja berusaha mencari cara agar selalu bisa menyenangkan hati Baskara. Ia berharap, dengan begitu, suaminya mau bersikap sedikit lebih lembut padanya. “Sudah, Nyonya. Nanti kalau Tuan lihat, bisa-bisa kami yang dimarahi.” Juru masak itu menegur dengan nada sungkan, merasa tak enak hati melihat Senja terus berada di dapur dan ikut mengolah masakan. “Tenang aja, Mbak. Nanti biar saya yang bicara sama Mas Bas.” Senja tetap bersikeras. Ia menuangkan sup udang ke dalam mangkuk, lalu membawanya ke meja makan. Beberapa menu lain menyusul, diantarkan oleh para pembantu rumah. Kini meja makan penuh dengan hidangan yang tersaji lengkap—semuanya kesukaan Baskara. Senja tersenyum lebar, merasa puas menatap hasil usahanya. Tak lama kemudian, bel pintu utama berbunyi. Hati Senja mendadak kalut. Jangan sampai Elang yang datang. Ia tak ingin kejadian tak diinginkan terulang lagi. Baskara yang baru turun dari lantai dua menghampiri Senja. “Itu pasti Papa dan Mama.” “Papa dan Mama?” Senja bertanya, mengulangi ucapan sang suami. Mengangguk, “Iya.” “Kok, kamu nggak bilang ke aku, Mas?” Baskara memberikan tatapan dinginnya pada sang istri. “Cukup perlakukan mereka dengan baik dan hormat. Kalau kamu sampai membeberkan apa yang terjadi di sini, saya nggak segan-segan buat kaki kamu pincang!” Tepat ketika kalimat itu selesai, pasangan suami-istri yang sudah berumur setengah abad lebih itu masuk, menghampiri Senja dan Baskara. “Wah, cantik sekali menantu Mama.” Pujian itu langsung terlayang oleh Mirasih—mama Baskara. Ia memeluk Senja dan mengusap kepalanya. “Dia memang selalu cantik, Ma.” Baskara terdengar begitu membanggakan istrinya. Ia merangkul Senja supaya lebih dekat dengannya—seolah-olah untuk memperlihatkan pria tersebut ada seorang suami yang begitu sayang pada istrinya. “Kamu memang pandai memilih istri, Baskara.” Gunawan selaku papa Baskara turut menimpali. Ruang makan itu diisi oleh tawa hangat yang bersahutan. Baskara dan Senja mempersilakan keduanya untuk ikut makan malam. “Tumben sekali Papa dan Mama datang.” Baskara menyinggung sesuatu yang tidak biasa dilakukan oleh orang tuanya. Mirasih menatap Gunawan. Suaminya itu mengangguk. Ia lantas kembali menatap anak dan menantunya bergantian. “Ada sesuatu yang mau Mama dan Papa bicarakan soal kalian.” “Oke. Kita bicara setelah makan, Ma." Setelah ucapan Baskara, mereka memulai makanan malamnya dalam keadaan hening. Sesekali Mirasih menilai rasa dari makanan yang ia santap. Ekspresinya terlihat menikmati. Sekitar lima belas menit, makan malam itu selesai dan ditutup dengan puding pandan buatan Senja. "Masakan malam ini rasanya beda, Bas." Gunawan yang memang lebih jeli dalam hal makanan mulai berkomentar. Ia sudah hafal dengan ciri khas juru masak di rumah putranya. Tapi, kali ini ada yang berbeda. Masakan itu benar-benar memiliki rasa lain yang bisa dibilang lebih lezat dari biasanya. "Maaf kalo masakan Senja nggak enak, Pa. Tadi memang yang masak Senja semua." Senja berucap agak takut. Mirasih langsung menggeleng. Ia menepuk pundak Senja. "Masakan kamu bahkan jauh lebih enak dari juru masak di rumah ini, Senja." Senja menoleh ke mama mertuanya. Ia mengerjap beberapa kali, lebih ke arah heran. Tidak mungkin masakan yang ia olah lebih lezat dari juru masak yang sudah berpengalaman selama bertahun-tahun. "Para pembantu yang nyuruh kamu masak, Senja?" Pertanyaan Baskara langsung dijawab gelengan oleh Senja. Ia masak tanpa tekanan dari siapa pun. Ini murni keinginannya sendiri. "Bukan, Mas. Ini memang kemauan aku sendiri. Aku sengaja nyiapin buat Mas Baskara." Baskara tersenyum penuh arti. Senja tahu ini bukanlah sebuah tanda aman baginya. Perempuan tersebut paham jika sang suami tengah menyiapkan sesuatu untuk menyakitinya. “Terima kasih, Senja.” “Iya, Mas, sama-sama.” Tanpa sadar, Gunawan dan Mirasih tersenyum melihat hubungan anak dan menantunya yang cukup harmonis. "Mama dan Papa mau nginep di sini? Biar Senja siapin kamarnya." Gunawan langsung mengangkat tangannya ke udara. Ia mengibas ringan dan menggeleng. "Nggak, Nak. Kami ke sini mampir sekalian mau membicarakan sesuatu." Senja hanya mengangguk. Ia diam. Tubuhnya bersandar di kursi meja makan. Perempuan tersebut seolah menunggu hal yang sepertinya begitu penting untuk dibicarakan kedua mertuanya. "Begini, Baskara. Kamu keturunan satu-satunya Mama dan Papa." Mirasih mulai berbicara. Matanya menatap dalam ke arah Senja dan Baskara. “Ada baiknya kalian segera melakukan program hamil.” Permintaan Mirasih membuat Senja tidak bisa memberi tanggapan cepat. Wajahnya menegang. Ini adalah hal yang tidak mungkin dikabulkan dalam waktu dekat. Ia sungguh belum siap. Beda halnya dengan Baskara. Pria tersebut hanya diam. Namun, bola matanya bergerak, melirik ke arah Senja. Ia seakan menegaskan bahwa permintaannya sejak malam pertama harus segera terpenuhi. Baskara lantas tersenyum sumbang. “Papa dan Mama selalu terburu-buru.” Ia berusaha mencari dalih tanpa menyinggung perasaan kedua orang tuanya. “Lagi pula, ada Yogas. Anak itu bisa kalian harapkan sebagai pewaris.” Mirasih berdecak kesal. Ia bersedekap d.a.da. “Kamu ini! Harta keluarga kita melimpah, Baskara! Satu anak nggak akan cukup untuk mengelola semuanya.” “Benar kata mama kamu, Baskara.” Gunawan menyahuti. Ia setuju dengan ucapan sang istri. “Yogas sudah tentu punya bagian sendiri. Lagi pula, kamu nggak pengen punya keturunan dari Senja?” Senja dan Baskara sama-sama diam. Suasana meja makan itu mendadak hening. Keduanya tidak memberi tanggapan apa pun atas desakan Mirasih dan Gunawan. “Senja pasti nggak akan keberatan kalau kasih cucu ke kami dalam waktu dekat.” Mirasih mengambil kesimpulannya sendiri. “Iya, kan, Nak?” Perempuan yang merasa terpanggil itu mengangkat pandangannya. Ia menampilkan senyum tipisnya dan mengangguk tidak yakin. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN