Satu sudut bibir Senja terangkat, membentuk senyum meremehkan. “Aku nggak sudi ngehargain orang yang udah coba ganggu rumah tanggaku.” Senja benar-benar cari mati. Ia bahkan tidak berpikir panjang untuk mengucap kalimat tersebut pada Elang. Pria tersebut merasa Senja memang ingin menyalakan genderang peperangan dengannya. Perempuan itu bahkan tidak ada rasa gentar sedikit pun saat menatap Elang. “Oke. Kamu yang memilih jalan ini, Senja.” Elang menatap sekitar. Beberapa pembantu rumah Baskara bahkan tertangkap tengah memperhatikan keduanya. Sementara Senja, ia berusaha mengalihkan perhatian dari Elang. Sesuai permintaan Baskara, perempuan tersebut melayani Elang dengan sewajarnya. Mengambilkan nasi dan lauk-pauk, menyeduhkan air putih hangat, dan menyediakan hidangan penutup untuk

