Senja menggeleng. Ia berusaha untuk tetap melepaskan diri dari dekapan Elang. Debaran di hatinya tidak pernah tenang, seperti ombak besar yang menghantam karang terus-menerus. Bening yang tidak tega dengan sahabatnya lantas berinisiatif untuk pergi dari meja. Ia menghampiri Baskara dan menyapanya. “Hai, Om. Om cari Senja, ya?” Kehadiran perempuan tersebut membuat Baskara menyimpan ponselnya. Ia menatap Bening yang tengah tersenyum padanya. “Iya. Kamu ... sahabat istri saya, ‘kan?” Bening mengangguk. “Iya, Om. Senja kayaknya udah keluar, deh, Om. Tadi dia bilang mau ke kamar mandi, terus mau langsung pulang lewat pintu belakang.” Baskara menoleh ke belakang, melihat area parkir yang masih tampak sepi. Ia tidak yakin Senja sudah di sana. Kembali, ia memutar kepala dan memandang Ben

