48

1414 Kata

Tenggorokkanku sakit. Seolah ada jarum menusuk-nusuk hingga sulit berbicara. Adrin membopongku keluar dari bangunan. Bahkan di saat terakhir pun dia tidak terlihat menyesal, sekadar mengucapkan selamat tinggal kepada Ciara. Kata-kata belasungkawa maupun dukacita tidak terlontar dari bibir Adrin. Ciara, wanita yang dulu menjadi cinta sejati Adrin, kini berubah menjadi karakter menyedihkan. Aku tidak mengerti. Barangkali lebih mudah membenci daripada mencintai. Bisa saja seseorang tidak cukup bijak dalam membedakan antara benci dan cinta atau, mungkin, Ciara hanya ingin mencari sesuatu dalam diri Adrin. Entahlah. Aku tidak mungkin bisa melupakan kejadian antara Adrin dan Ciara. Ingatan-ingatan itu akan melekat erat dalam sanubari, kekal, dan mendarah daging dalam diriku sebagai sebuah p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN