“Sudahi kegilaan ini, Permaisuri.” Sulur-sulur berdenyar, seperti degup jantung. Sesuatu dalam hati Ciara benar-benar menuntut pembalasan. Bahkan meskipun di akhir cerita, yang membawa kehancuran, turut lebur dan musnah; dia tidak menyesal. “Anda benar-benar tega, Yang Mulia,” katanya, getir. “Saya berusaha mewujudkan segala yang Anda tidak sanggup penuhi. Sekalipun di hati Anda tertulis namanya,” tunjuk Ciara kepada Moira. “Bukan saya. Setidaknya Anda bisa berpura-pura mencintai saya.” Nyala api di pedang Adrin mulai surut, lantas padam, meninggalkan besi membara. “Kesepakatan di antara kita tidak termasuk ‘cinta’, Permaisuri.” *** ‘Kesepakatan di antara kita tidak termasuk cinta.’ Barangkali menghantamkan kepala Adrin ke dinding merupakan ide bagus. Dari sekian alasan yang bisa sa

