“Nining! Kemari kamu!” Suara Doni melengking sempurna, membuat Nining yang sedang membersihkan piring kaget dan menjatuhkan piring yang sedang dia pegang. “Mas Dony. Kenapa dia teriak-teriak? Gak biasanya dia berkata semarah dan sekencang itu. Pasti ada apa-apa.” Nining bergumam sambil mengusap piring kotor sg spons berbusa. “Nining. Cepat ke sini!” teriak Dony se]kali lagi. Dia terdengar semakin marah. “Aduh. Yah, jatuh. I—iya, Mas.” Nining tidak fokus hingga menjatuhkan piring ke lantai. Piring pun pecah dan pecahannya berserakan di lantai. Dengan melewati pecahan piring, Nining segera menghampiri suaminya yang sedang ada di kamar. Baginya mendahulukan suaminya adalah kewajiban yang utama dari pada yang lain. Wajah Doni sangat marah dengan rahang mengeras dan gigi yang bergemerutuk.

