29

513 Kata
Pembicaraan Bagus saat ini dengan Cantika cukup serius. Bagus mengeluarkan pendapat dan idenya. Cantika juga ikut berpikir memutar otaknya. Mereka saling mencari dan saling membantu untuk mengambil sebuah keputusan atas solusi yang sedang di hadapinya. "Ada masukan sayang? Atau solusi apa? Kok Mas idenya lagi buntu ya?" tanya Bagus pada Cantika. "Ekhemm ... Ada sih. Tapi Mas bakal terima atau gak?" tanya Cantika menyelidik. "Memang bagaimana?" tanya Bagus menatap lekat ke arah Cantika. "Jadi gini. Mungkin bulan depan aku juga melahirkan. Aku rasanya sudah gak snaggup meraskan nyeri di pinggang dan punggung. Nah, pas lahir kita minta dokter untuk menyatukan putra sulung kita. Bilang sama Ayah dan Bunda kalau anak kita kembar empat," ucap Cantika pelan. "Tapi ukurannya kan beda. Ekhemm maksud Mas. Tiga bayi kembar kita pasti mungil karena baru lahir dan di lahirkan dengan jumlah yang banyak. Tentu akan berbeda dengan putra sulung kita," ucap Bagus memberikan penjelasan. "Hemm ... Hanya itu cara kita satu -satunya. Semoga saja tidak terlalu kentara atau kita minta dokter segera mengeluarkan bayi kita?" tanya Cantika pelan. Bagus hanya menghembuskan napasnya kasar. "Mas belum siap Tika. Dokter belum mengijinkan kamu untuk melahirkan. Sudahlah bilanh saja kita adopsi. Karena orang tuanya meninggal. Gitu aja. Gimana?" tanya Bagus pelan. "Mas? Itu anak kamu!! Masa kamu bilang orang tuanya meninggal. Kamu masih hidup dan segar bugar?" ucap Cantika sedikit marah. "Tika ... Ada hal yang ingin Mas katakan sama kamu," ucap Bagus lantang. Rasanya sudah tak mungkin lagi menyimpan rahasia ini. Bagus hanya ingin meluruskam semuanya tanpa ada masalah dan salah paham di kemudian hari. Baru juga membahas hal ini. Ponsel Bagus berbunyi nyaring. "Ya Hallo? Hah? Apa? Di mana sekarang? Baiklah saya akan kesana sekarang," tanya Bagus pelan. Cantika menatap Bagus. Seolah ada sesuatu yang terjadi dan sangat penting bagi Bagus. "Ada apa Mas?" tanya Cantika pelan sambil menatap Bagus meminta penjelasan. "Raka kecelakaan. Dia koma. Kita kesana sekarang. Kamu mau ikut atau tidak?" tanya Bagus dengan cepat sambil memakai jaket favoritnya dan celana jeans. "Aku ikut. Aku mau lihat keadaan Raka," ucap Cantika pelan. Saat berdiri, Cantika berteriak keras. Pinggangnya terasa sakit sekali. "Arghhhh ... Sakit Mas. Pinggangku sakit sekali?" teriak Cantika keras sambil memegang di bagian bawah perutnya. Bagus langsung menghampiri Cantika dan membantu istrinya untuk tiduran di kasur empuk. "Kamu kenapa Tika? Ada rasa sakit di bagian mana? Jangan bikin Mas khawatir," ucap Bagus bingung. Bagus mulai panik. Ia panik memddngar kabar Raka. Kini ia juga panik melihat Cantika yang terus merintih kesakitan. "Sudah Mas. Gak apa -apa. Cantika baik -baik saja. Paling hanya butuh istirahat saja. Mas jenguk Raka saja. Kabari Cantika ya?" titah Cantika pada Bagus. "Gak Tika. Mas gak mau meninggalkan kamu di rumah kalau kamu kesakitan. Kita ke rumah sakit saja. Kita periksa agar Mas gak khawatir Sayang," ucap Bagus pelan. "Aku gak apa -apa Mas. Mas harus percaya sama Cantika. Cantika baik -baik saja," ucal Cantika pelan. Bagus mengusap pelan kepala Cantika lalu mengecupnya dengan kasih sayang. "Kamu yakin? Gak apa -apa? Mas pergi ya? Mau tahu keadaan Raka. Kalau ada apa -apa langsung telepon Mas," titah Bagus pada Cantika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN