Pasangan suami istri itu bingung saat di kabari, Sonya telah pergi dari rumah sakit dan meninggalkan bayinya untuk di asuh oleh Cantika dan Bagus.
Perihal itu, Bagus sudah tidak kaget. Tapi, bagi Cantika. Ia bingung dan malah merasa bersalah.
"Kenapa Sonya harus pergi? Bukankah dia tidak mau berikan putranya untuk kita?" tanya Cantika pelan. Tubuhnya makin membesar seiring pertumbuhan ketiga janinnya yang mulai tumbuh kembang dengan sempurna.
Bagus menghampiri Cantika yang sedang menyisir rambutnya dan memakai lipstik berwarna merah muda agar wajahnya tidak terlihat pucat.
Bagus berdiri di belakang Cantika dan memegang bahu istrinya lalu di kecup kedua pipi yang makin gembil bagai bakpau.
"Sejak kapan kamu peduli sama Sonya? Sepertinya kamu sempat berselisih dengannya," ucap Bagus pelan.
Cantika mendongakkan kepalanya ke arah atas menatap Bagus dengan jakunnya yang bergerak naik turun saat berbicara.
"Kamu salah Mas. Bukan berselisih. Apa aku salah? Kalau aku minta hak ku atas anak yang ia kandung. Anak itu anakmu Mas," tegas Cantika dengan suara keras.
"Mas tidak menyalahkan kamu, Cantika. Cuma, kamu yakin? Kalau anak itu anak Mas dan Sonya? Kamu yakin gak?" tanya Bagus tertawa.
"Mas? Kamu apa -apaan sih? Kamu kan sudah melakukannya dengan Sonya," ucap Cantika tak mau kalah.
Cantika ingat betul, malam itu ia campurkan minuman Bagus dengan sedikit obat perangsang. Dan Cantika mengantarkan langsung Bagus ke dalam kamar Sonya.
Setelah itu, Cantika kembali ke kamar lagi dan tidak tahu kelanjutannya. Cantika tidak tega melihat suaminya harus tidur bersama dengan wanita lain. Berat ternyata. Tapi, itu semua keputusannya. Sedikit ada penyesalan setelah tahu Cantika bisa hamil dan benar hamil.
"Kamu akan tahu satu hal besar. Mas harap, kamu tidak kaget dengan sesuatu hal yang besar ini," ucap Bagus pada Cantika.
"Apa sih? Mas jangan bikin aku penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi," tanya Cantika makin penasaran.
"Sudah nanti. Mau ke rumah sakit gak? Kita sudah di tunggu dokter untuk kontrol sekalian kita jenguk bayi Sonya. Gimana? Setuju?" titah Bagus menyarankan.
"Setuju dong," jawab Cantika pelan.
***
Keduanya pun berjalan menuju ruang periksa kandungan. Sudah saatnya Cantika harus kontrol dan konsultasi, tindakan apa yang terbaik bagi ketiga buah hatinya.
"Ini sudah menginjak tujuh bukan ya? Semua organ tubuh bayi sudah lengkap dan sempurna, hanya saja ukuran bayinya masih terlalu kecil dan mungil," jelas dokter kandungan itu melihat dari hasil layar monitor USG.
Cantika menatap monitor dan melihat ketiga bayi itu bergerak gerak. Rasanya ingin segera menggendong buah hatinya satu per satu dan di kecupi pelan dan di ciumi seluruh tubuh bayi mungil itu.
"Tapi semuanya sehat kan dokter?" tanya Bagus pelan dan penasaran.
"Sehat semua. Lihat saja, Ibunya saja makin sehat, tentunya tiga buah hatinya juga sehat. Kalau tidak ada masalah, kita tunggu sampai waktunya lahir. Kalau ada masalah, kita bisa amnil tindakan caesar. Kalau sudah usia besar begini, harus sering -sering kontrol dan gerak cepat kalau ada keluhan," titah dokter kandungan itu menyarankan.
***
Setelah selesai periksa. Bagus mengajak Cantika menuju ruang bayi untuk menjenguk bayi Sonya. Bayi lelaki yanh sehat dan tubuhnya kini mulai terlihat berisi.
"Mau di kasih nama siapa?" tanya Cantika pelan.
"Nanti kita pikirkan ya," jawba Bagus pelan.
"Mas ... Bagaimana dengan Ayah dan Bunda nanti? Kalau anak kita ada empat? Padahal lahirnya hanya tiga?" tanya Cantika pelan.
Bagus menoleh ke arah Cantika. Ia tak kepikiran soal ini. Benar juga kata Cantika. Alasan apa yang harus ia buat agar kedua orang tuanya yakin.