27

530 Kata
Beberapa hari kemudian ... Sonya sudah pulih dan ia akan pergi meninggalkan bayinya agar di urus oleh Cantika. Menurut dokter yang menanganinya dan dokter yang menangani bayinya. Bayi mungilnya itu tidak tertular virus HIV. Jadi aman untuk di adopsi oleh orang lain. Sonya sama sekali tak mau bertemu dengan anak lelaki yang terlihat tampan dari layar ponselnya. Dokter yang menanganinya memberikan beberapa goto bayinya untuk Sonya. "Kamu sudah ikhlas?" tanya dokter itu pada Sonya. "Sudah dokter. Untuk apa tidak ikhlas. Ini malah keputusan yang terbaik untuk bayiku. Ini juga adalah sesuai hasil kesepakatan kkntrak itu. Biarkan anak itu di urus oleh ayah kandungnya dan ibu sambungnya. Aku tidak akan mengusiknya lagi. Aku akan hidup lebih baik lagi agar aku bisa melihat anak itu tumbuh kembang dan dewasa, cukup dari kejauhan saja," ucap Sonya lirih. Hatinya perih sekali. Tetap saja, hati seorang Ibu tak bisa di bohongi. Bagaimana ia harus melepaskan buah hatinya yang sudah di kandung berbulan -bulan dan melahirkan dengan pertarungan nyawanya. Setiap Ibu pasti merasa tak sanggup berpisah. Kontrak rahim dan benih itu tak mungkin bisa berjalan baik, kecuali sang ibunya pun ikut di nikahi dan mereka mendapatkan haknya. Asal si ibu dan buah hatinya tak di pisahkan. "Lalu kamu mau kemana?" tanya dokter muda itu pada Sonya. "Aku akan pergi malam ini juga. Menghilang dalam waktu yang cukup lama itu adalah keputusan terbaik. Aku ingin menyimpan nomormu dokter. Tolong, bila ada perkembangan pada bayiku berikan aku foto terbaik dan terlucunya. Mungkin dengan begitu, keinginan hidupku lebih panjang lagi," ucap Sonya tertawa lepas. "Aku akan berikan apa yang kamu butuhkan. Tapi sesuai kemampuanku," ucap dokter itu pada Sonya. Sonya sangat berterima kasih. Karena selalu di kelilingi oleh banyak orang baik. Malam ini Sonya pergi dari rumah sakit itu. Semua administrasi sudah di bayar oleh Bagus dan Cantika. Sonya langsung menuju Bandara dan akan pergi ke suatu tempat yang sangat ia inginkan sejak lama. Ya, Kota Paris. Kota terindah dan teromantis. Setidaknya hidupnya kini bebas. Sonya bebas melakukan apapun sesuai kehendaknya. Ia akan membatasi dri dengan orang baru. Menikmati hidupnya sendiri dengan caranya sendiri agar bahagia. *** Bagus dan Cantika duduk berdua di teras samping. Bagus duduk di ayunan bertali dan Cantika duduk berselonjor di kursi empuk khusus dirinya. Rencananya besok pagi, Cantika dan Bagus akan menemui Sonya. Bagus dan Raka juga sudah bulat akan membuka tabir rahasia besar ini. "Aku senang Mas. Akhirnya bayi Sonya ikut selamat juga. Keduanya selamat dan sehat. Walaupun kondisi bayi itu masih terlihat lemah. Tapi, kata dokter tidak ada kelainan atau hal apapun yang tidam wajar," ucap Cantika mengulang ucapan dokter yang menangani bayi itu, siang tadi. Bagus menoleh ke arah Cantika dan tersenyum pada istrinya yang semakin hari semakin cantik saja. Bagus juga lega saat tahu hasil pemerikaaan bayi itu negatif. Bayi itu tak tertular HIV dari Sonya. Beruntung sekali bayi itu. Cantika menatap Bagus yang malah melamun dan menatap ke arah langit yang penuh dengan bintang. "Mas Bagus kenapa? Sejak bayi itu lahir, kok geregetnya kurang sih? Kayak bukan darah daging Mas sendiri. Berbeda saat tahu, Cantika positif hamil," tanya Cantika merasa aneh sejak awal. Deg ... Bagus menatap Cantika lekat. Ia harus menutupi semuanya dan sama sekali tidak boleh bocor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN