Tubuh Sonya sudah berada di atas meja operasi dan perutnya akan di sayat untuk mengeluarkan bayi yang ada di dalamnya. Tekanan darahnya mendadak naik dan sangat tinggi sekali.
Kebetulan Sonya hanya di bius setengah saja. Matanya, otaknya dan dadanya masih bisa di gerakkan dan telinganya masib sanggup mendengar jelas suara dari kejauhan sekali pun.
Bagus dan Cantika masuk ke dekat kamar operasi. Sayup -sayup terdengar suara Bagus dan Cantika sedang berbincang serius dengan dokter yang menanganinya.
"Kalian mau pilih Ibunya atau banyinya," tanya dokter itu serius.
Karena tidak memungkinkan menyelamatkan keduanya. Harus salah satunya.
"Ibunya. Selamatkan ibunya," titah Cantika dengan suara keras dan lantang.
Dari kejauhan Raka pun mendengarnya. Apapun pilihan Cantika itu adalah pilihan terbaik. Dengan Cantika memilih Ibunya, Raka tidak punya beban apapun. Jadi, ia bisa meninggal dengan lega tanla harus menyusahkan orang.
Bagus menatap Cantika lekat.
"Kamu yakin memilih Ibunya? Bukan bayinya? Bukankah kamu menginginkan bayi itu," tanya Bagus mencoba membuat Cantika dilema.
Cantika menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku pilih ibunya bukan karena aku sudah mengandung tiga bayi kembar. Aku memilih ibunya, karena ibunya masih punya harapan dan cita -cita yang munhkin beljm tercapai. Kalau aki pilih bayinya, sama saja aku membuat anak itu tak memiliki ibu dan hanya memiliki Ayah serta ibu sambung saja. Kamu tahu Mas? Hamil itu berat, makanya aku tahu rasanya kenapa Sonya tisak mau memberikan bayi itu padaku. Itu karena ia tahu rasanya mengandung. Berbicara lada bayi kita di dalam perut dan itu hal menyenangkan. Jadi ... selamatkan ibunya," tegas Cantika berulang kali pada dokter tersebut.
Dokter itu mengangguk dan masuk ke dalam kembali menanganinya.
Bagus hanya takjub dengan jawaban istrinya yang begitu bijak. Tangannya merangkul Cantika erat.
Dokter itu akan mengupayakan yang terbaik. Kalai memang di mungkinkan keudanua harus selamat.
Air mata Sonya luruh membasahi pipi. Ia malu pada Cantika. Ia telah salah. Niatnya mau membalas dendam pada semua laki -laki yang menidurinya karena mereka sengaja menularkan penyakit ini pada Sonya. Sonya memang tahu ia sakit tapi ia sengaja tak mau periksa dan memalsukan semua hasil pemeriksaannya.
Ia hanya memikirkan dirinya bisa kaya dan banyak uang lalu merusak para lelaki dengan virus yang ia bawa.
Tapi kejadian ini membuat Sinya sadar. Tidak semua orang jahat. Tidak semua orang benci lada orang seperti Sonya. Cantika adalah peremluan baik dan tulus. Ia sama sekali tak pernha berpikiran buryk pada Sknya. Sampai ia harus ikhlas memberikan tubuh suaminya untuk bermalam dengan Sonya demi mendapatkan anak.
Takdir pun berkata lain ... Sonya dan bayinya selamat. Cantika dan Bagus begitu senang. Begitu juga dengan Raka. Satu keganjalan yang belum membuat lega Raka dan Bagus. Hasil pemeriksaan bayi kecil itu bagaimana?
Satu jam kemudian ...
Bayi Sonya sudah lahir dan langsung di bawa dokter untuk di periksa lebih lanjut. Menunggu hasil pemeriksaan, bayi belum cukup umur itu langsung mendapatkan perawatan intensif. Bayi mungil lelaki itu masuk ke dalam inkubator.
Cantika menatap bayi di dalam inkubator. Bayi yang mengalir darah dan daging suaminya. Cantika langsung jatuh hati dan sayang pada bayi lelaki itu.
"Hei ... Diam saja. Mau makan? Apa mau minum s**u?" tanya Bagus pelan dan memberikan s**u kotak untuk ibu hamil.
"Makasih Mas. Mau gendong dia. Bayi itu tamlan seperti kamu, Mas," ucap Cantika memuji. Hatinya memang agak perih melihat itu. Tapi ... itu kan kemauan Cantika sendiri. Bahkan Bagus menanyakan beberapa kali atas ide gilanya dan Cantika menjawab lantang.
Nasi sudah menjadi bubur. Tidak perlu di sesali semua hasil akhirnya. Tapi buatlah hasil akhirnya menjadi lebih baik lagi agar tidak perlu lagi di sesali secara dalam.
Bagus hanya mengulum senyum. Cantika belum tahu tang sebenarnya. Rahasia besar yang di simpan rapat antara Bagus dan Raka. Bahkan Sonya pun tak pernah tahu soal itu.
"Kamu sayang sama bayi itu?" tanya Bagus pelan.
"Sayang," jawab Cantika singkat.
"Kalau harus mengurus kamu mau? Kamu yakin akan adil menyayanginya?" tanya Bagus pelan.
Cantika mengangguk pelan dam tersenyum manis.
"Itu kemauanku," jawab Cantika.
"Kamu janji? Tidak akan menyia -nyiakan bayi itu," ucap Bagus pelan.
"Aku janji Mas," jawab Cantika lantang.
Sebenarnya Bagus agak ragu. Ia takut Cantika akan benci dan mengabaikan anak lelaki itu karena tiga anak kembarnya akan segera lahir.
Setelah ini ia juga akan bingung soal bayi itu yang ada di rumah. Apa harus bilang kalau sebenranya Cantika mengandung empat bayi?