Rio masih menunggu Zita sadar. Semalaman dia tidak bisa tidur karena khawatir akan kondisi istrinya. Sampai menjelang subuh Zita belum juga sadar. "Ta, mimpi kamu terlalu indah ya? Sampai-sampai kamu enggak mau bangun sebentar saja." tangan Rio tak lepas dari jemari Zita. Lelaki hitam manis itu terus saja menggenggam tangan istrinya dan sesekali mencium punggung tangan mungil nan halus. Rio merebahkan kepalanya ke atas brankar di sisi tangan Zita yang terus dia genggam. Rio ingin memejamkan matanya sekejap saja. Rasanya sangat lelah. "Zita!" pekik Rio saat merasakan sebuah gerakan pada tangan Zita yang dia genggam. Rio cepat-cepat menegakkan kepalanya dan melihat kondisi Zita. Benar saja, istrinya itu sedang berusaha membuka kedua kelopak matanya. "Ta, dear akhirnya kamu sadar." senyu

