"Argh..." Zita kembali mengerang kesakitan di dalam mobil. Darah terus saja mengalir tiada henti membuat Rio semakin panik. "Sabar, Ta." Rio mengusap ubun-ubun Zita, berharap istri mungilnya bisa sedikit tenang. "Argh..." bukan! Bukan erangan Zita. Tapi barusan adalah teriakan Rio yang mencoba meluapkan kekesalannya pada setir mobil. "Gue b******k! s**t!" umpatnya dalam hati. "Sabar dear, aku sudah berusaha semampuku." Rio semakin mempercepat laju mobilnya. Untung jalanan sedikit lengang, jadi semakin mempermudah Rio untuk sampai lebih cepat ke rumah sakit terdekat. Rio menggenggam erat jemari tangan Zita. Semoga dengan seperti ini bisa membuat Zita sedikit tenang. Meski Rio sadar, rasa sakit itu tak akan pernah dia rasakan. "Sakit... Kak..." pekik Zita tak terkendali. *** Rio memb

