BAB 1 EMPAT PRIA DI KASURKU
Agnes Wijaya membuka matanya perlahan. Ada sesuatu yang salah sejak detik pertama kesadarannya kembali. Langit-langit kamar itu bukan miliknya.
Dia hafal setiap sudut penthouse pribadinya, mulai dari warna lampu hangat di dekat jendela hingga tekstur marmer abu-abu yang biasa menyambutnya setiap pagi. Namun tempat ini berbeda. Dindingnya berwarna krem gelap dengan lampu gantung mewah yang terlalu klasik untuk seleranya.
Bahkan aroma udara di ruangan itu terasa asing. Bukan aroma parfum vanila dan white musk miliknya. Bukan juga wangi kopi yang biasanya sudah disiapkan otomatis setiap pukul enam pagi. Ada aroma lain. Maskulin dan jumlahnya banyak. Kening Agnes langsung berkerut samar.
Kesadarannya belum pulih sepenuhnya, tetapi instingnya sudah memberi alarm bahaya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Yang terakhir dia ingat hanyalah perjalanan pulang dari kantor setelah rapat panjang dengan investor luar negeri. Dia terlalu lelah hingga sempat tertidur di mobil lalu tidak ingat apapun lagi.
Agnes belum membuka mata sepenuhnya ketika mendengar suara napas lain di dekatnya. Bukan satu, banyak. Suaranya pelan, teratur dan sangat dekat.
Tubuh Agnes menegang. Ia tetap diam selama beberapa detik, mencoba memastikan dirinya tidak salah dengar. Namun semakin lama, suara-suara itu justru terdengar semakin jelas.
Seseorang bahkan seperti bergeser di sampingnya.
Dengan gerakan perlahan, Agnes membuka mata lebih lebar lalu menoleh ke sisi kanan.
Seorang pria sedang tidur di sana.
Wajahnya tampan dengan rambut hitam sedikit berantakan menutupi sebagian dahinya. Rahangnya tegas, bulu matanya panjang dan napasnya terdengar tenang.
Agnes membeku. Matanya bergerak cepat ke sisi kiri. Satu pria lagi lalu ke ujung kasur. Dua pria lainnya. Total empat. Empat pria asing tidur di kasur yang sama dengannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun memimpin perusahaan besar, otak Agnes benar-benar berhenti bekerja selama beberapa detik.
Dia tidak berteriak. Tidak histeris atau panik. Agnes hanya diam sambil menatap mereka satu per satu, seolah otaknya sedang menolak menerima kenyataan yang terlalu tidak masuk akal ini.
Ini pasti mimpi atau halusinasi karena kurang tidur.
Mana mungkin dia bangun di tempat asing bersama empat pria tampan sekaligus?
Itu terlalu absurd bahkan untuk dijadikan plot drama murahan. Namun semuanya terasa terlalu nyata. Sampai salah satu pria bergerak pelan dan tanpa sengaja menyentuh ujung kakinya.
Refleks Agnes langsung menarik kaki. Kesadarannya kembali penuh. Ini nyata.
“…Apa ini?”
Suaranya rendah dan dingin, tetapi cukup untuk memecah keheningan pagi.
Detik berikutnya, salah satu pria langsung terbangun dengan ekspresi kaget lalu jatuh dari kasur.
“HAH?!”
Bruk!
Agnes menatap datar pria itu yang sekarang terduduk di lantai sambil memegangi kepalanya.
Pria kedua mengerjap pelan sebelum menoleh pada Agnes dengan wajah santai.
“Selamat pagi.”
Seolah situasi ini benar-benar normal.
Pria ketiga justru tersenyum kecil sambil meregangkan tubuhnya malas. Sementara pria terakhir hanya duduk diam di ujung kasur, menatap Agnes tanpa ekspresi seakan memang sudah menunggu momen saat dia bangun.
Tatapan Agnes berubah tajam.
Dia turun dari kasur perlahan. Gerakannya tenang, tetapi auranya membuat udara di ruangan terasa menekan.
“Aku akan bertanya sekali,” katanya dingin. “Kenapa kalian ada di kamarku?”
Keheningan muncul selama beberapa detik. Tidak ada yang langsung menjawab. Salah satu pria akhirnya berdiri sambil memasukkan tangan ke saku celana tidur.
“Ini bukan kamar kamu lagi, Nona Agnes.”
Kalimat itu terdengar terlalu santai untuk sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
Agnes menatapnya tajam.
“Apa maksudmu?”
“Mulai hari ini,” lanjut pria itu tanpa rasa bersalah, “kamu akan tinggal di sini bersama kami.”
Agnes tertawa kecil. Bukan karena lucu melainkan karena ucapan itu terlalu gila untuk diterima otak normal.
“Tinggal di sini?” ulangnya pelan.
Tatapannya berpindah ke empat pria itu satu per satu.
“Dengan kalian?”
Nada suaranya penuh ejekan.
“Mimpi.”
Tidak ada yang tersinggung. Mereka justru terlihat santai seolah sudah memperkirakan reaksinya.
Agnes berjalan menuju pintu kamar dengan langkah cepat. Namun sebelum sempat membuka pintu, salah satu pria tiba-tiba bersandar di depan sana.
Dia memakai kacamata tipis dengan rambut undercut rapi. Wajahnya dingin dan terlalu tampan untuk diabaikan.
“Nona,” katanya tenang. “Anda belum boleh keluar.”
Agnes mendengus kesal.
“Geser.”
“Tidak bisa.”
Tatapan Agnes langsung menajam.
“Jangan membuatku mengulang dua kali.”
Pria berkacamata itu tersenyum tipis.
“Anda memang sulit dikendalikan, ya.”
“Aku tidak suka dipermainkan.”
“Sayangnya,” balas pria itu datar, “mulai sekarang anda harus terbiasa.”
Kesabaran Agnes mulai menipis. Ia langsung mencoba membuka pintu sendiri.
Klik. Tidak bergerak.
Dia mencoba lagi lebih keras. Tetap terkunci.
Ekspresi Agnes akhirnya berubah.
“…Kalian menculikku?”
“Nah!” Salah satu pria yang tadi jatuh dari kasur langsung menunjuk Agnes antusias. “Aku bilang juga dia bakal salah paham pada kita semua!”
Agnes menatapnya datar.
Pria itu terlihat paling muda di antara mereka. Wajahnya mulus seperti idol dengan senyum cerah yang entah kenapa terasa menyebalkan.
“Kak Agnes,” katanya manja sambil tersenyum lebar. “Selamat datang di rumah kita.”
Rumah kita?
Agnes hampir ingin tertawa lagi.
Beberapa jam lalu dia masih seorang CEO yang hidupnya dipenuhi jadwal rapat, laporan keuangan dan keputusan bisnis miliaran rupiah.
Sekarang? Dia terjebak di rumah asing bersama empat pria aneh yang bertingkah seperti pemeran utama reality show.
“Siapa kalian sebenarnya?” tanya Agnes dingin.
Keempat pria itu saling bertukar pandang sebelum berdiri berjajar di depan Agnes seolah sudah latihan sebelumnya.
“Kami adalah kandidat suamimu.”
Jawaban mereka kompak.
Agnes menatap mereka tanpa berkedip.
“Gila.”
Dia benar-benar yakin semua orang di rumah ini tidak waras.
“Aku tidak punya waktu meladeni permainan aneh seperti ini,” katanya dingin. “Sekarang buka pintunya.”
“Nona Agnes.” Pria berkacamata kembali bicara. “Anda hanya punya waktu enam bulan.”
Agnes mengernyit.
“Untuk apa?”
“Memilih salah satu dari kami menjadi suami anda.”
Hening.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Lalu Agnes tertawa pelan sambil memijat pelipisnya.
“Ini prank?”
“Bukan.”
“Reality show?”
“Bukan juga.”
“Kalau begitu kalian semua benar-benar sinting.”
Salah satu pria lain yang sejak tadi diam akhirnya maju selangkah. Tubuhnya tinggi besar dengan otot lengan yang terlihat jelas di balik kaus hitam ketatnya.
“Apa anda pikir kami senang berada di sini?” tanyanya datar.
Agnes menatapnya.
Untuk pertama kalinya sejak bangun, dia menyadari sesuatu. Meski mereka semua tersenyum dan terlihat santai, ada tekanan aneh di balik sikap mereka. Seolah semua ini bukan sekadar lelucon dan mereka benar-benar serius.
“Kalian dikirim siapa?” tanya Agnes perlahan.
Tidak ada yang langsung menjawab sampai pria berkacamata menyerahkan sebuah amplop hitam padanya.
“Amanat terakhir Tuan Wijaya,” katanya.
Jantung Agnes berhenti sesaat.
Tuan Wijaya. Kakeknya.
Perlahan Agnes membuka amplop itu dengan tatapan berubah dingin. Hanya ada satu lembar surat di dalamnya. Satu kalimat yang langsung membuat wajah Agnes membeku.
Pilih satu pria dalam enam bulan… atau kehilangan seluruh hak warisan keluarga Wijaya.
“…Apa?”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Agnes Wijaya benar-benar kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.