Napas Eshita tertahan saat tubuhnya tiba-tiba diangkat. Refleks, tangannya mengalung di leher Adhikara untuk berpegangan dan kakinya melingkar erat di pinggang pria itu. Dalam sepersekian detik, dia berusaha mencerna situasi di antara degup jantungnya yang kian bertalu-talu. Saat tatapan keduanya akhirnya bertemu, dia mencoba mencari tahu lewat sana apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya. “Kita ... pindah ke kamar,” ujar Adhikara dengan suara rendah yang serak. “Di sofa terlalu sempit. Tidak nyaman untukmu, dan tidak leluasa untuk ... kita.” Tadinya Eshita ingin bertanya kenapa harus digendong, padahal dia bisa berjalan sendiri. Tapi mengingat bagaimana tubuhnya lemas setelah berciuman dengan Adhikara, dia paham kenapa pria itu memilih menggendongnya. Teringat kembali soal ciuman me

