Sekitar setengah jam setelah kepergian Adhikara, barulah Eshita membuka matanya. Dia sempat menatap dinding beberapa saat, sebelum perlahan bangun sambil menahan selimut di dadaa agar tetap menutupi tubuh telanjangnya. Rasanya sepi. Namun pikirannya segera dipenuhi berbagai pertanyaan; tentang siapa Mama Ravindra? Kenapa wanita itu memanggil Adhikara “Papa” dan Adhikara pun menyebut dirinya demikian? Terlebih, Adhikara diminta pulang. Pulang ke mana? Bukankah apartemen ini tempat tinggalnya? Atau … ada tempat lain selain rumah kedua orang tuanya? Eshita kira selama ini dia sudah cukup mengenal Adhikara lewat cerita-ceritanya, tapi ternyata dia justru belum tahu apa-apa. Ada bagian dari hidup pria itu yang disembunyikan, membuatnya seperti berjalan dalam gelap—tidak melihat kenyataan yang

