Setelah kegiatan pembinaan internal rutin berakhir, Adhikara segera keluar dari ruang rapat. Dia merapikan barang-barang di mejanya dan bersiap pulang. Ada janji dengan Eshita, dan entah kenapa perasaan bersemangat itu muncul begitu saja. Bahkan dia sudah menyiapkan beberapa topik obrolan agar pertemuan mereka nanti tidak terasa membosankan. Adhikara memang ingin membuat Eshita banyak bicara—dia lebih menyukai gadis itu saat cerewet dibanding ketika hanya diam atau sekadar mengangguk pelan.
Tak lama kemudian dia sudah tiba di parkiran dan memasuki mobil setelah menekan central lock. Mobil perlahan meninggalkan gedung kantor kejaksaan tak lama setelah seatbelt terpasang dan mesin dinyalakan.
Butuh waktu sekitar tujuh menit berkendara hingga akhirnya dia tiba di depan gang tempat tinggal Eshita. Gadis itu sudah menunggunya di kursi sebuah warung terbengkalai di samping gang, dan langsung berdiri begitu mengenali mobil Adhikara yang menepi.
Sebelum menurunkan kaca mobil, seperti kebiasaan yang sudah terbentuk, Adhikara melepas cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya. Dia memasukkannya ke saku jas agar mudah diambil kembali saat ingin dikenakan. Hal itu sudah dia lakukan sejak hubungannya dengan Eshita tak lagi dia anggap sebagai relasi penegak hukum dan korban, melainkan menjadi teman. Sepertinya Eshita pun belum menyadari bahwa dia adalah seorang pria beristri.
Terdengar licik, memang. Namun entah kenapa Adhikara tak ingin status itu diketahui Eshita. Dia tak mau kedekatan mereka berubah menjadi canggung—atau lebih buruk lagi, Eshita memilih menjauh demi menjaga batasan.
Kaca mobil akhirnya diturunkan setelah sempat membuat Eshita menunggu. Secara otomatis kedua sudut bibir Adhikara terangkat saat tatapannya bertemu dengan gadis itu.
“Hai. Ke mana tujuan kita hari ini?”
“Taman Suropati, Om. Di sana tempat yang cocok buat orang yang menyukai ketenangan, seperti kita,” jawab Eshita dengan senyum penuh semangat.
“Taman Suropati, ya? Sudah lama saya tidak ke sana.” Kepala Adhikara mengedik memberi isyarat. “Ayo naik. Hari ini saya jadi sopir Nona Eshita.”
Tawa kecil Eshita mengudara, membuat Adhikara terpaku beberapa detik menatapnya. Indah sekali. Selama mengenalnya, dia baru beberapa kali melihat Eshita tersenyum. Yang lebih sering dia temui justru ekspresi murung, sedih, atau tangisan. Tapi tawanya—itu sesuatu yang baru. Dan tanpa sadar, Adhikara berjanji dalam hati, ke depannya dia ingin terus melihat tawa itu.
Setelah Eshita masuk dan mengenakan sabuk pengaman, mobil pun kembali melaju. Beberapa saat keheningan melingkupi mereka, hingga akhirnya Adhikara memecahnya dengan menyalakan head unit mobil dan menyambungkan kabel data ke ponselnya.
“Ada lagu yang kamu sukai, Eshita?”
“Lagu?” Eshita menatapnya bingung sebelum berpikir sejenak. “Ada, Om.”
“Apa itu? Biar saya putarkan.”
“Gala Bunga Matahari oleh Sal Priadi.”
Kening Adhikara mengerut. Dia baru pertama kali mendengar judul itu. Namun di sela menyetir, dia sempat mencarinya di aplikasi Spotify. Tak lama kemudian lagu yang dimaksud muncul dan langsung dia putar, tak lupa menaikkan volumenya sedikit.
Satu menit setelah lagu itu mengalun, Adhikara melirik Eshita lagi. Keningnya kembali berkerut, kali ini diiringi gelengan kecil kepala.
“Ternyata saya pernah dengar,” ujarnya. “Lagu ini dulu sering diputar waktu suami salah satu artis meninggal.” Pandangannya kembali ke jalan. “Sepertinya selera musikmu perlu diganti, Eshita. Cari lagu dengan lirik yang lebih ceria, supaya mendengarnya membuat kita ikut bersemangat.”
“Saya lebih gampang fokus belajar kalau sambil dengar musik yang seperti itu, Om.”
“Saya punya beberapa rekomendasi lagu untuk teman belajar. Liriknya tidak sedih.” Adhikara menoleh lagi, senyumnya kembali terukir. “Nanti saya beri tahu setelah kita sampai di Taman Suropati.”
***
Dua jam berlalu tanpa terasa. Saat jam di ponsel menunjukkan kurang lima belas menit pukul lima, Eshita segera merapikan buku paket dan buku catatannya, memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan tergesa.
Belum lagi cuaca yang mendadak mendung membuat dadanya dipenuhi oleh rasa khawatir. Kalau mereka bertahan di sini lebih lama, bisa jadi pulangnya justru kehujanan.
“Om, kita—”
Kalimatnya terhenti saat Eshita menoleh ke belakang. Adhikara tertidur.
Pria itu tadi—ketika Eshita sibuk belajar—masih sempat fokus pada tab di tangannya, memeriksa berkas perkara, setelah sebelumnya memperdengarkan beberapa lagu. Kini dia berbaring tenang, napasnya teratur.
Ah. Rasa bersalah tiba-tiba menyusup pelan. Adhikara pasti lelah. Namun demi tidak membatalkan pertemuan mereka, pria itu justru mengorbankan waktu istirahatnya. Padahal seharusnya, di hari Jumat seperti ini, Adhikara bisa pulang lebih awal ke rumah.
Menghela napas pelan, Eshita mendekat. Telunjuknya menyentuh lengan Adhikara dengan hati-hati, takut caranya membangunkan justru membuat pria itu terkejut.
“Om Adhi, bangun. Udah sore. Kalau telat pulang, takutnya kita kehujanan.”
Tak ada respons. Bahkan setelah dua menit berlalu, Adhikara tetap tak bergeming. Menyadari betapa lelahnya pria itu, Eshita berhenti mencoba. Dari posisi berjongkok, dia kembali duduk di atas rumput. Lututnya tanpa sadar menyentuh lengan Adhikara.
Mungkin setelah ini, dia akan lebih sering belajar di rumah saja. Memberi jeda. Memberi ruang. Agar Adhikara punya waktu untuk dirinya sendiri—dan untuk keluarganya.
Keluarga.
Eshita tersadar, dia tak tahu apa pun tentang keluarga Adhikara. Berapa saudaranya, anak ke berapa dia, di mana orang tuanya tinggal. Padahal Adhikara sudah mengetahui banyak hal tentang dirinya.
Lamunan itu buyar ketika tetes demi tetes hujan mulai jatuh, membasahi kulitnya. Eshita terperanjat. Dia menunduk, lalu—dengan keberanian yang terasa lancang—menyentuh pipi Adhikara, berharap sentuhan itu cukup untuk membangunkannya.
“Udah mulai hujan, Om. Ayo pulang.”
Kelopak mata Adhikara bergerak.
Eshita menghela napas lega. Namun kelegaan itu hanya bertahan sepersekian detik. Saat dia hendak menarik tangannya, tiba-tiba Adhikara menangkap pergelangan itu dan menariknya mendekat. Tubuh Eshita kehilangan keseimbangan, jatuh menimpa d**a pria itu.
Terlalu dekat. Puncak hidung Eshita sempat menyentuh pipi Adhikara. Napas mereka saling bertabrakan. Tatapan keduanya bertemu begitu kesadaran hadir sepenuhnya.
“Kamu—”
“Saya—”
Ucapan mereka saling tumpang tindih, lalu sama-sama terhenti. Eshita meringis kecil. Sementara Adhikara merapatkan bibirnya, tetapi matanya kini mengamati dengan saksama—dari iris yang bergetar, turun ke hidung, lalu berhenti di bibir Eshita.
Detak jantung mereka kian berpacu, saling menyadari kehadiran satu sama lain. Hujan masih turun rintik-rintik, belum cukup deras untuk memaksa mereka bergerak.
Saat Eshita mulai berpikir bahwa momen ini harus segera diakhiri, Adhikara justru tersesat oleh pikirannya sendiri.
Tangannya yang semula menggenggam pergelangan Eshita dilepas, lalu beralih ke dagunya. Dengan satu tarikan halus, dia menutup jarak yang tersisa—menyatukan bibir mereka.
Dunia seolah berhenti setelah itu.
Mata Eshita langsung melebar, napasnya tertahan, saat akhirnya dia benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi. Mereka ... berciuman!
***
Tiga hari setelah kejadian di Taman Suropati itu, tak ada komunikasi sama sekali. Adhikara masih rutin mengirim pesan, tetapi Eshita seolah enggan membalas. Pesan-pesan itu hanya dibaca—tanpa satu pun respons.
Rasa khawatir perlahan merayap. Adhikara takut Eshita benar-benar membencinya. Ada ketidaknyamanan yang menetap di dadanya setiap kali kemungkinan terburuk itu terlintas: bisa jadi Eshita tak mau lagi menemuinya karena kecerobohannya sendiri.
Namun, jujur saja … dia tidak menyesal.
Karena setelah mengikuti kata hatinya saat itu, Adhikara menyadari satu hal—dia menyukai Eshita. Dia bahkan lupa bagaimana rasanya menyukai seseorang. Bersama gadis itu, perasaan yang lama terkubur seolah hidup kembali.
Tiga hari tanpa kabar membuatnya gelisah. Ada resah yang terus menekan d**a, membuat pikirannya tak bisa lepas dari satu keinginan sederhana: Eshita membalas pesannya.
Padahal sebelumnya, di rumah, Adhikara sebisa mungkin menjauh dari ponsel. Dia dan Arelia sepakat membiasakan Ravindra tumbuh tanpa ketergantungan gawai. Namun kini, bahkan saat menemani putranya mengerjakan tugas rumah, Adhikara berulang kali mengecek benda tipis itu—mengunci dan membuka layar hanya untuk memastikan tak ada notifikasi terlewat.
“Pa, cakram bunga matahari memangnya warna hijau?” tanya Ravindra sambil menoleh.
Adhikara tak mendengar.
Ravindra mengulang dengan suara lebih keras, “Kertas origami yang dikasih Bu Guru cuma ada hijau muda, hijau tua, sama kuning, Pa. Aku jadi bingung.”
Arelia yang baru masuk ke kamar anaknya langsung mengerutkan kening. Ekspresinya berubah datar saat menghampiri Ravindra.
“Papa sudah boleh pergi. Biar Mama yang temani Ravin belajar.”
Adhikara langsung tersentak. Kepalanya mendongak cepat, bersamaan dengan ponsel yang buru-buru dia masukkan ke saku celana.
“Maaf, tadi Papa—”
“Silakan keluar, Pa,” potong Arelia dingin. “Lain kali, tolong ponselnya ditinggal dulu kalau bersama Ravin.”
Tak ada pilihan lain. Dengan napas berat, Adhikara mengangguk. Dia kembali meminta maaf—lagi-lagi tak mendapat tanggapan—lalu keluar dari kamar putranya. Tangannya menyugar rambut dengan kasar saat melangkah menyusuri lorong menuju kamar sendiri.
Baru kali ini dia merasa kehilangan kendali atas dirinya sendiri, hanya karena Eshita tak membalas pesan. Jika ini terus berlanjut, dia yakin hal itu akan mengganggu sebagian besar aktivitasnya.
Mungkin lebih baik dia menemui Eshita langsung.
Berbicara tatap muka terasa jauh lebih masuk akal daripada menunggu balasan yang tak kunjung datang.
Langkah Adhikara terhenti beberapa langkah sebelum pintu kamar. Keputusan itu terasa tepat. Tanpa ragu, dia berbalik, mengambil kunci mobil dari laci, lalu pergi dengan tergesa—tanpa sepengetahuan siapa pun di rumah.
***