“Um, hai … nama saya Eshita. Ini video pertama saya …”
Tawa Adhikara langsung pecah begitu melihat video pembuka Eshita. Bahunya bergetar, kepalanya tertunduk, seolah benar-benar tak mampu menahannya.
Pemandangan itu membuat pipi Eshita terasa panas. Tangannya yang berada di pangkuan spontan mengepal erat, menahan rasa malu yang datang begitu cepat.
Apa dia terlihat segelikan itu di dalam video, sampai-sampai Adhikara tak bisa mengendalikan dirinya? Padahal, dari sudut pandang Eshita, tak ada yang lucu dari perkenalan itu. Yang ada hanyalah kecanggungan karena belum terbiasa.
“Maaf, maaf. Saya tidak bermaksud mengejek,” ujar Adhikara, berdehem setelah cukup mampu menguasai diri. Dia sempat menutup bibir dengan punggung tangan sebelum menatap Eshita kembali. “Hanya saja … kamu terlihat kaku dan tegang sekali. Video perkenalan itu malah lebih mirip tugas sekolah daripada vlog.”
“Terus saya mesti … gimana?” cicit Eshita.
“Hm, sebentar. Saya pikirkan dulu.”
Sementara Adhikara memutar otak, telunjuknya diketuk-ketukkan pelan di atas meja. Eshita memanfaatkan momen itu untuk lebih berani menatapnya. Pandangannya menyusuri alis, mata, hidung, hingga bibir pria itu. Adhikara memiliki rupa yang nyaris sempurna—pria dewasa paling tampan yang pernah Eshita lihat.
Sungguh aneh. Di sekolah, dia tak pernah tertarik menjalin cinta seperti siswi kebanyakan. Hilda bahkan sudah memiliki lima mantan sejak mereka duduk di kelas sepuluh hingga dua belas. Berbeda dengannya yang belum pernah berpacaran sama sekali, padahal tiga kali dia pernah menerima pernyataan cinta dari teman seangkatannya.
Namun sejak bertemu Adhikara, Eshita seketika memahami apa yang selama ini Hilda rasakan. Jantung yang berdebar, rasa kikuk yang datang tiba-tiba, pipi yang memanas tanpa sebab. Pria itu membuatnya mengalami semuanya.
Apa jangan-jangan selama ini bukan karena dia tak tertarik pacaran—melainkan karena selera Eshita memang condong pada yang lebih tua?
“Bagaimana kalau …” Adhikara akhirnya bersuara, membuat Eshita terkejut. Dia buru-buru menunduk, menatap jari-jarinya yang kini saling bertaut. “Rekam ulang videonya? Saya bantu.”
“Rekam ulang?” Eshita mendongak cepat, matanya langsung membulat. “Apa nggak bisa pakai video itu aja? Saya masih nggak percaya diri bicara panjang di depan orang lain. Yang saya rekam sendiri pun … hasilnya cuma begitu.”
“Kamu bilang tadi malam, karena kita berteman, kamu akan mengusahakan untuk tidak merasa malu lagi. Mana coba usahanya? Saya mau lihat.”
Eshita terpaku. Gestur wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan karena Adhikara mengungkit ucapannya sendiri. Dia menelan ludah, ingin membalas, tapi tak satu pun kata berhasil keluar dari bibirnya.
“Ayolah, Eshita. Tidak apa-apa,” lanjut Adhikara dengan nada lebih lunak, tapi sedikit mendesak. “Kalau mau jadi konten kreator, kamu memang harus lebih percaya diri. Video perkenalan ini bukan satu-satunya yang akan kamu buat—ke depannya pasti akan banyak.”
“Kalau Om ketawain lagi … gimana?” suaranya lirih, nyaris berbisik.
Adhikara tersenyum tipis, lalu mengangkat tangan, seolah sedang bersumpah. “Saya janji akan sebisa mungkin menahan diri. Yang tadi itu kelepasan. Saya minta maaf, ya. Tolong maafin saya, Eshita.”
Setelah menimbang cukup lama, akhirnya Eshita mengangguk, meski keraguan masih tersisa. Ya sudah. Lakukan saja. Paling berat hanya di awal—kalau sudah terbiasa, mungkin dia tak akan setegang ini lagi.
Dia lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan meletakkannya di hadapan Adhikara. “Kita rekam di mana, Om? Di sini atau ... pindah ke tempat lain?”
“Di belakang kantor saya saja. Di sana lebih tenang, tidak seramai kafe ini.”
Adhikara mendorong ponsel Eshita kembali ke arahnya sambil menggeleng. “Pakai ponsel saya saja. Kapan lagi kamu dapat kameramen yang mau pinjamin properti gratis?” Tawa kecilnya mengakhiri kalimat itu sebelum dia bangkit berdiri. “Ayo, kita pindah.”
Eshita buru-buru menandaskan chocolate frappenya—sayang kalau ditinggal begitu saja—lalu ikut berdiri. Mereka sempat singgah di kasir, Adhikara membayar pesanan mereka, sebelum akhirnya keduanya meninggalkan kafe bersama.
***
“Lihat, kan? Membuat video di luar jauh lebih menarik daripada di kamar rumahmu.” Adhikara memperlihatkan video berdurasi kurang dari satu menit itu ke hadapan Eshita.
Rekaman tersebut berhasil dirampungkan setelah lebih dari dua puluh menit, lantaran Eshita sempat beberapa kali melakukan kesalahan—mulai dari blank, belibet, hingga salah tingkah karena ditatap lama Adhikara.
Eshita mencondongkan tubuh, memperhatikan layar dengan saksama sebelum akhirnya mengangguk pelan. Pencahayaan, kejernihan, bahkan kestabilan gambarnya terasa nyaris sempurna. Jelas kualitas ponsel Adhikara jauh melampaui miliknya.
“Kamu punya referensi mau diedit seperti apa? Biar saya lihat, nanti saya bantu editkan,” lanjut Adhikara.
“Eh, nggak usah, Om.” Eshita buru-buru menggeleng. “Dibantu rekam ulang aja udah ngerepotin. Nanti … Om kirim aja mentahannya ke WA saya, biar saya edit sendiri.”
“Apa tidak takut kualitasnya berubah?”
Hampir bersamaan dengan Adhikara menoleh, Eshita mendongakkan kepala. Jarak yang terlalu dekat membuat mereka bisa merasakan napas satu sama lain. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang canggung, tatapan mereka saling bertemu sebelum akhirnya keduanya tersadar dan buru-buru menjauh.
Pipi Eshita memerah bak kepiting rebus, sementara Adhikara berdehem pelan, canggung, sambil mengusap tengkuknya.
“Jadi … bagaimana?” tanyanya lagi, berusaha mencairkan suasana.
“Itu … ya udah. Om bantu editkan aja.”
Tangan Eshita sedikit gemetar saat dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Detak jantungnya berpacu terlalu kencang, sampai-sampai dia khawatir Adhikara bisa mendengarnya. Napasnya pun memburu, seolah baru saja berlari, padahal tubuhnya sedari tadi nyaris tak bergerak. Ya ampun, apa memang seheboh ini rasanya berada di dekat orang yang … disuka?
Setelah ponsel itu berada di tangannya, Eshita sempat menggeser layar sebentar sebelum memperlihatkannya pada Adhikara—beberapa video perkenalan sederhana dengan jumlah views yang cukup tinggi.
“Yang simpel aja,” ucapnya. “Nggak perlu teks tambahan atau sound effect. Saya mau apa adanya dulu.”
“Gampang. Rencananya mau upload kapan?”
“Sepertinya besok pagi, Om.”
“Kalau begitu nanti malam saya kirim.” Adhikara melirik jam di pergelangan tangannya. “Sekarang saya sudah harus kembali. Waktu istirahat saya sebentar lagi habis.”
Malam, ya?
Kalau begitu … mereka akan bertukar pesan lagi. Eshita tak perlu lagi bingung mencari alasan atau topik untuk menghubunginya lebih dulu.
Sambil menggigit bibir bawahnya yang nyaris tersenyum, Eshita mengangguk. “Iya, malam aja. Tapi … itu nggak ganggu waktu istirahat Om di rumah, kan?”
“Tidak. Saya cukup luang kalau sudah di rumah.”
“Baiklah. Makasih banyak.”
“You’re welcome, Eshita.”
Eshita bersiap untuk pulang, tetapi baru saja melangkah, Adhikara menahan lengannya. Eshita spontan mendongak, menatapnya penuh tanya.
“Lain kali biar saya yang menghampirimu,” ujar Adhikara. “Pasti lelah, ‘kan, jalan kaki pulang-pergi ke sini?”
Eshita segera menggeleng. “Nggak begitu jauh, kok. Saya nggak apa-apa, Om.”
“Tetap saja.” Nada suara Adhikara terdengar lembut namun pasti. “Pertemuan kita selanjutnya, kamu yang tentukan tempatnya. Di jam yang sama. Oke, Eshita?”
Eshita kembali menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk pelan sebagai jawaban.
***
Adhikara menyesap rokok sambil menonton video Eshita yang telah selesai dia edit. Matanya tak berkedip, fokus pada wajah gadis itu. Usia Eshita sembilan belas tahun—dia kembali mengingatnya—namun tubuhnya yang kurus dan tidak terlalu tinggi membuatnya tampak seperti remaja awal.
Sejujurnya, tak pernah terlintas di benaknya untuk menjalin pertemanan dengan lawan jenis yang rentang usianya sejauh ini. Namun pertemuan pertama mereka yang tak biasa membuat semuanya mengalir begitu saja. Eshita yang datang dengan luka dan kesedihan, bertemu Adhikara yang memiliki pekerjaan di bidang hukum dan empati besar. Dari situlah hubungan itu terbentuk—bertahan hingga kini, bahkan terasa semakin dekat jika dipikirkan kembali.
Mengakhirinya? Sama sekali tak pernah terlintas di benak Adhikara. Justru sekarang dia merasa ada yang janggal; keinginan untuk terus menemui gadis itu tumbuh tanpa bisa dicegah. Jika mereka tak berinteraksi sehari saja, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang.
Mungkin karena di hadapan Eshita dia bisa menjadi dirinya sendiri. Dari sanalah rasa nyaman itu tumbuh tanpa disadari, dan Adhikara tak ingin keluar dari zona tersebut.
Setelah satu batang rokok habis, dia menekan puntungnya ke asbak, lalu mengalihkan perhatian ke ponsel. Video itu segera dia kirim pada Eshita, lengkap dengan sebuah pesan.
Adhikara: [Setelah upload, kirim link-nya ke saya. Saya sampai rela download t****k dan buat akun demi bisa nonton konten kamu. Semangat ya, Eshita.]
Pesan itu tak kunjung dibalas hingga satu jam berlalu. Adhikara menunggu sampai rasa bosan menyergap. Dia beranjak dari kursi di teras samping—yang terhubung langsung dengan lorong kamar. Temaram di sepanjang lorong menandakan seluruh penghuni rumah telah terlelap.
Sempat dia mampir ke kamar Ravindra, mengecup kening anak itu, lalu kembali ke kamarnya sendiri.
Tepat setelah keluar dari toilet, ponsel yang tadi dia lempar ke atas ranjang menyala. Adhikara langsung meraihnya dan membaringkan tubuh.
Eshita: [Maaf baru balas, saya baru selesai belajar, Om.]
Eshita: [Jangan. Saya malu.]
Senyum Adhikara mengembang membaca pesan-pesan itu. Memang kapan, sih, kamu tidak merasa malu? Ibu jarinya bergerak cepat di layar, membalas.
Adhikara: [Jangan malu sama teman sendiri. Tolong foto apa yang kamu pelajari, saya ingin lihat.]
Tak lama kemudian, sebuah gambar masuk tanpa keterangan apa pun. Di sana tampak buku paket, buku catatan, dan sebagian jari Eshita yang tak sengaja masuk ke dalam frame. Adhikara menatapnya cukup lama. Dia kagum pada tulisan gadis itu yang begitu rapi—namun entah kenapa, perhatiannya justru tertahan pada jari-jari kecil itu.
Terlihat mungil.
Dan anehnya, terasa pas jika digenggam.
***