Lucky Oh Lucky
"Lucky..."
Matteo berteriak dari arah tangga saat melihat putranya hanya bermalas-malasan di atas sofa, padahal sebelumnya Wenda selaku ibunya Diego sudah menyiapkan kencan buta dengan dua orang gadis cantik, punya karier bagus , dan pastinya sudah jelas bibit bebet, bobot, juga pendidikannya.
"Apa sih Pa... berisik!" Lucky menarik bantal, lalu meletakkan bantal itu di sisi telinganya guna menghambat suara sang ayah tembus ke gendang telinganya.
"Lucky... Bukannya kemarin kamu sudah setuju untuk kencan buta yang sudah mamamu siapkan! Kenapa sekarang kamu malah bermalas-malasan seperti ini?!" tanya Matteo. Dia lantas menarik bantal yang putranya gunakan untuk menutup sisi telinganya karena dia masih ingin menceramahi laki-laki dewasa itu panjang kali lebar.
Diego Lucky Matteo. Putra satu-satunya dari pasangan Matteo dan Wenda. Usianya tahun ini genap tiga puluh tiga tahun , tapi laki-laki yang kini menjabat menjadi CEO , dan sempat menjadi dosen di salah satu universitas terkemuka di kota Jakarta itu masih terlihat betah dengan kesendiriannya.
Paras tampan, didukung kekayaan yang cukup berlimpah. Jabatan dan popularitas tinggi tidak melulu membuat laki-laki tampan itu cepat mendapat jodoh.
Bukan tidak ada wanita yang tertarik padanya, hanya saja Lucky sendiri yang terbilang sulit untuk yang namanya jatuh cinta, dan hal yang sangat wajar jika Matteo dan Wenda merasa tidak sabar untuk melihat putra satu-satunya itu menikah dan memiliki anak.
Pasalnya, di luar sana sedang beredar kabar miring tentang Lucky yang diduga memiliki kelainan dengan suka sesama jenis, dalam kata lain GAY, dan Matteo juga Wenda sama-sama ingin mematahkan tuduhan itu dengan membuktikan bahwasanya putra mereka normal. Putra mereka tidak seperti kabar yang beredar, dan iya, karena alasan itulah Wenda gencar mencari calon istri untuk putranya, meskipun dari sembilan puluh sembilan wanita yang sempat Wenda jadwalkan untuk kencan buta dengan putranya selalu berakhir dengan kegagalan.
"Apa sih Papa. Lucky itu capek. Papa bisa nggak jangan ikutan bawel kayak Mama!"
"Bagaimana Papa tidak akan ikut bawel Lucky, usiamu tahun ini genap tiga puluh tiga tahun, tapi kamu bahkan belum sekalipun membawa calon menantu untuk Papa dan Mama. Apa kamu tidak lihat jika Papa dan Mama sudah bertambah tua..? Apa sesulit itu mengabulkan keinginan kami yang ingin memiliki seorang cucu...? Oh ayolah Lucky... Mau sampai kapan kamu akan seperti ini?" kesal Matteo pada putranya.
Dia lantas menarik satu bantal sofa kemudian melemparnya ke arah Lucky dan setelahnya Lucky langsung bangkit dan duduk bersandar dengan gaya malas di sofa seraya menyalakan layar televisi di depannya.
Lucky tidak menjawab, akan tetapi dia justru mengucek telinganya karena merasa bising dengan ocehan ayah dan ibunya yang tidak akan pernah jauh-jauh dari perkara itu lagi itu lagi. Wanita, calon menantu dan cucu impian.
Oh Lucky benar-benar stress dengan hidupnya yang seperti ini. Dia masih ingin menikmati masa kesendirian nya, tapi sepertinya kedua orang tuanya seolah tidak sabar untuk melihatnya bertambah tua dengan memintanya untuk menikah dan membangun rumah tangganya sendiri.
"Apa sih Pa. Lucky tu masih nyaman dengan status lajang Lucky... kan enak, ke mana-mana nggak ada yang urusin, pulang telat nggak ada yang ngomelin, mau nongkrong sama teman-teman enggak ada yang telponin, mau apapun juga nggak ada yang ngatur!" jawab Lucky plat, karena pembelaan Lucky selalu saja dengan kalimat itu lagi itu lagi.
"Oh Lucky putra Papa yang paling ganteng sejagat raya. Apa kamu pikir menikah itu tidak enak. Kamu tidak hanya mendapat wanita yang akan mengurusmu, tapi kamu juga mendapat teman tidur. Kamu pasti belum tahu kan bagaimana rasanya milikmu dijepit nikmat oleh lembah surgawi seorang wanita. Oooh... Papa ini hanya ingin kau bisa menikmati keindahan surga dunia yang sesungguhnya dengan menikah dan memberikan Papa seorang cucu!" ujar Matteo, tapi Lucky yang sengklek sepertinya tidak begitu peduli dengan apa yang baru saja ayahnya serukan.
"Lima tahun kamu menjadi dosen, kamu bahkan tidak tertarik pada salah satu mahasiswi mu, apa kamu merasa itu sangat wajar?!" sarkas Mateo, tapi lagi-lagi Lucky hanya terlihat mengucek telinganya seolah ingin mengenyahkan kalimat kalimat yang lepas dari bibir ayahnya dan masuk ke dalam telinganya itu. Masuk yang hanya sekedar lewat.
"Papa. Menikah itu satu kali seumur hidup, dan ini bukan lagi tentang nafsu atau berhubungan badan. Bukan! Lagi pula, jika memang sudah waktunya, nanti Lucky juga bakal nikah. Hanya saja sampai saat ini Lucky masih benar-benar belum menemukan wanita yang tepat, untuk menjadi menantu Papa dan Mama!" bela Lucky lagi.
"Terus kapan? Kapan kamu akan menikah? Apa kamu akan menunggu Papa dan Mama mati dulu baru akan menikah? Kejam kamu Ky...!" balas Matteo tapi Lucky lagi-lagi hanya bisa menggeleng karena tentu saja bukan seperti itu yang Lucky rencanakan.
"Pa... Ayolah. Dengan Papa menanyakan kapan Lucky akan menikah, itu sama saja dengan Papa menanyakan kapan bumi akan runtuh. Kalo Lucky boleh balik bertanya sama Papa, Lucky mau bertanya, kira-kira kapan Papa dan Mama akan memberikan Lucky seorang adik yang lahir dari rahim Mama langsung?!" ucap Lucky terdengar sangat konyol.
Wenda, ibunya sudah berumur lima puluh lima tahun, sedang ayahnya, Matteo sudah berusia 60 tahun, tapi lihatlah Lucky justru balik bertanya kapan ayahnya akan kembali menghamili ibunya, padahal jelas usia Wenda sudah tidak akan memungkinkan untuk bisa hamil lagi, dan sepertinya Lucky hanya mempertanyakan itu karena menurut Lucky itu mustahil, sama seperti cara ayahnya yang terus mengeluhkan perkara dia yang masih belum menikah, padahal sejatinya Lucky hanya masih selektif dalam memilih calon istri yang menurutnya murni dan tidak melihat dirinya berdasarkan materi ataupun jabatan, karena jika Lucky mau, hari ini pun dia bisa menikah dengan wanita manapun yang dia inginkan, hanya saja itu tadi, resiko mendapatkan istri yang salah atau tidak sesuai dengan kriterianya pun sangat besar.
"Lucky...!" Matteo merasa geram, tapi Lucky hanya terlihat mengedipkan bahunya acuh seolah ingin mengejek kekalahan ayahnya ketika berdebat perkara jodoh.
"Kenapa. Papa gak bisa jawab kan...! Lah sama itu sama Lucky!" balas Lucky merasa sudah menang dari ayahnya, tapi detik berikutnya Matteo justru bangkit dari duduknya seraya menatap putranya dengan tatapan tajam, dan penuh kemarahan.
"Oh my god... Kenapa aku bisa punya anak sebebal kamu, Lucky..." Matteo meremas rambutnya, merasa sangat frustasi. "Apa Papa perlu membuka sayembara untuk mencari istri yang tepat untuk kamu dengan hadiah fantastic, Papa akan memberikan lima puluh persen saham perusahaan Papa pada wanita itu hanya saat wanita itu bisa melahirkan cucu untuk Papa?!" sambung Matteo lagi dan Lucky hanya menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja laki-laki yang rambutnya setengah memutih itu ucapkan.
'Sayembara dengan hadiah fantastis. Oh apa-apaan ini'.
"Papa...!"
"No Lucky. Papa benar-benar akan membuka sayembara bagi siapa saja yang mau menikah dengan kamu. Papa tidak keberatan untuk memberikan lima puluh persen saham perusahaan Papa pada wanita itu jika kamu tidak segera membawa calon istri kamu dalam waktu tujuh hari saja. Titik nggak pakai koma." Tegas Matteo benar-benar tidak bisa di ganggu gugat , dan membayangkan ayahnya yang akan memberikan lima puluh persen saham perusahaan yang dia pimpin saat ini benar-benar menambah tingkat stress Lucky, dan Lucky tahu jika ayahnya tidak pernah main-main dengan apa yang dia ucapkan.
Oh sungguh Lucky benar-benar tidak akan membiarkan itu terjadi. Tidak akan.
Setelah mengatakan itu Matteo juga langsung meninggalkan putranya, memberikan nya ruang untuk memikirkan apa yang dari kemarin dan kemarinnya lagi dia keluhkan.
Sederhana. Matteo ingin putranya menikah, karena selain Matteo dan Wenda yang mendambakan seorang cucu, sebenarnya tujuan utama mereka ingin putranya secepatnya menikah adalah untuk mematahkan isu miring terkait Lucky yang di katakan gay itu, hoax.
Lucky meremas rambutnya. Sungguh dia benar-benar stress dan rasanya sekarang dia benar-benar tidak punya pilihan lain selain menuruti keinginan kedua orang tuanya atau resikonya ayahnya benar-benar akan melakukan apa yang dia katakan sebelumnya.
"Kopinya Den...!" tiba-tiba suara hangat wanita paruh baya yang sudah sangat lama bekerja pada keluarga Matteo mengalihkan pikiran Lucky.
"Terima kasih Bik!" jawab Lucky.
"Bertengkar lagi ya , Den?!" tanya wanita itu dan Lucky hanya terlihat menghela nafas.
"Ya begitulah Bik. Tau sendiri Papa dan Mama kek gimana. Mereka masih aja maksa Uky nikah. Bahkan sekarang Papa pake ngancem segala . Oooh capek dah ngadepin mereka!" keluh Lucky , tapi wanita paruh baya itu hanya tersenyum menanggapi keluhan anak majikannya.
"Tuan dan Nyonya benar lho Den. Usia Den Lucky emang udah lebih dari kata cukup untuk sebuah pernikahan!" ucap wanita itu lembut, tapi lagi-lagi Lucky hanya terdengar menghela nafas.
"Tapi Bik..."
"Nggak baik lho nunda sesuatu yang baik. Akan lebih baik memang Den Lucky segera menikah!" potong paruh baya itu lagi. Lucky meraih cangkir kopinya kemudian menyeruputnya sedikit berharap panasnya kopi itu bisa sedikit menenangkan rasa penat di kepalanya.
"Iya, tapi mau bagaimana lagi, Lucky memang belum menemukan wanita yang tepat. Itu aja Biiiii!" balas Lucky, dan kali ini paruh baya itu justru tersenyum seraya menepuk paha Lucky.
"Emang Den Lucky cari wanitanya yang kayak gimana? Masa iya dari sembilan puluh sembilan wanita yang ditawarkan Nyonya, tidak ada satupun yang membuat Aden tertarik?!" ucap bibi lagi, tapi Lucky benar-benar menggeleng karena memang begitulah faktanya.
"Lucky itu cari cewek yang kalem. Gak neko-neko, gak banyak nuntut, gak banyak ngatur, pokonya yang sederhana aja Bi!" jawab Lucky asal dan bibi hanya terlihat mencerbikkan bibirnya.
Jika kebanyakan laki-laki memimpikan wanita yang cantik , putih, dengan tubuh yang aduhai, karir bagus dan bisa menyaingi superstar, Lucky justru mengatakan menginginkan wanita yang sederhana, jauh dari kata glamour.
"Aden itu aneh dah. Di kasih wanita cantik, kaya, dan punya karier bagus malah gak mau!" ucap bibi sambil menggeleng.
"Please Bi... Bibi jangan ikut-ikutan kek Mama dan Papa. Lucky lagi stress Bi," ucap Lucky seraya menopang kepalanya dengan sebelah tangannya. "Mending Bibi bantuin Lucky cari cewek seperti yang barusan Lucky bilang. Paling tidak yang bisa Lucky jadikan istri kontrak kek dulu. Biar Mama dan Papa gak ribut lagi! Capek Lucky Bi!" sambung Lucky lagi dan bibi diam sejenak, memikirkan wanita-wanita yang sempat di datangkan nyonya Wenda untuk Lucky, putranya, dan semuanya memang rata-rata cantik dan menawan juga berkelas.
"Bibi gak ada kenal cewek seperti yang Nyonya datangkan untuk Aden, tapi kalo Aden cuma butuh istri kontrak, sepertinya Aden kudu cari cewek yang bisa di ajak bernegosiasi," ucap bibi yang sudah seperti biro jodoh.
"Nah itu maksud Lucky Bi. Bibi punya kenalan gak? Gak perlu cantik , tapi bisa di ajak negosiasi!" ucap Lucky terdengar sedikit memiliki harapan, dan bibi terlihat berpikir sejenak, sampai akhirnya dia menemukan wanita yang tepat untuk membantu anak majikannya ini.
"Bibi ada kenal satu Den, tapi dia dari kampung. Aden mau gak cewek kampung!" ujar bibi dan Lucky diam sejenak memikirkannya.
"Dia gak cantik-cantik amet Den, tapi dia manis, juga tipe wanita ceria. Bibi yakin dia bisa di ajak negosiasi. Namanya Susan. Dia keponakan Bibi di kampung. Dia tinggal cuma sama bapaknya, ibunya sudah meninggal pas dia masih kecil. Dia tamat SMA tahun lalu, dan gak lanjut kuliah karena keterbatasan ekonomi, padahal dia anaknya pinter lho Den!" ucap bibi menjelaskan.
"Usianya...?" Lucky menimpali.
"Mendekati dua puluh tahun... tapi serius dia itu manis lagi imut Den!" jawab bibi lagi dan Lucky terlihat diam sejenak.
Pikir Lucky, wanita dari kampung pasti akan lebih mudah di ajak negosiasi. Gak akan cerewet, gak akan banyak nuntut, gak akan ini dan itu, intinya gak akan minta macam-macam.
"Oke deal. Besok kita temui susususu... siapa tadi namanya Bik?"
"Susan Den...!" jawab sang bibi. "Giliran s**u aja ingat Den...!" cibir bibi sambil terkekeh.
"Ah iya. Itu Susan," ucap Lucky. "Bibi telpon saja dia. Bilang kalo besok kita akan datang ke tempat nya untuk membicarakan rencana ini. Pernikahan!" sambung Lucky dan bibi langsung melotot tidak percaya.
"What... Aden udah langsung mau bahas pernikahan...?" Syok bibi.
"Lucky gak punya waktu Bi... Papa cuma ngasi Lucky waktu tujuh hari untuk bawa calon istri, atau Papa akan berubah jadi zombie gila!" jawab Lucky.
"Edah Den... Aden mau ngajakin bibi stress juga...!" keluh paruh baya itu tapi Lucky hanya terlihat menghela nafas, karena sungguh dia benar-benar tidak punya pilihan lain saat ini.
Dia butuh gadis yang bisa diajak bernegosiasi juga bisa dia kendalikan, dan pilihannya adalah gadis kampung, padahal ni ya (...........) juga mau jika penawarannya menggiurkan.