bc

Kau Ambil Istriku, Kunikahi Ibumu

book_age18+
383
IKUTI
1.3K
BACA
revenge
dark
love-triangle
family
HE
age gap
friends to lovers
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
serious
city
office/work place
affair
like
intro-logo
Uraian

Dunia Reza seolah runtuh dalam semalam. Persahabatan bertahun-tahun dan pernikahan yang ia jaga, hancur berkeping-keping saat ia melihat pengkhianatan istrinya, Liora, dengan sahabatnya sendiri, Revan. Tak ada lagi air mata, yang tersisa hanya amarah yang membeku.

Di tengah keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Alena. Wanita cantik, matang, dan penuh kelembutan yang ternyata adalah ibu kandung Revan. Alena hadir menyembuhkan luka Reza, tanpa tahu bahwa putranya sendiri adalah orang yang menghancurkan hidup pria itu.

Reza tahu ini gila. Mencintai Alena adalah sebuah kesalahan, akan tetapi menjadikan Alena miliknya adalah pembalasan yang paling sempurna.

"Dia sudah mengambil istriku, maka aku akan menikahi ibunya. Biar dia tahu rasanya kehilangan orang yang paling dicintai."

Kini Reza berdiri di persimpangan. Apakah ini murni tentang cinta, atau sekadar cara licik agar Revan merasakan sakit yang sama?

Lalu pria dari masa lalu Alena muncul. Apa yang akan terjadi?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Dihadapan Mata
BAB 1. Dihadapan Mata “Apa yang kamu lakukan di sini?” Suara lelaki itu terdengar tercekat, tampak berusaha menahan sesuatu yang hampir pecah. Reza berhenti tepat di ambang pintu gudang belakang rumah Revan, napasnya menabrak bau lembap dari dinding tua. “Aku cuma… mau ambil- ehh… anunya Revan.” Liora merapikan rambut yang terburai sambil memalingkan wajah. Jemarinya gemetar kala meraih blus yang tergeletak di lantai kusam. “Kamu serius? Anunya Revan? Oh iya aku paham. Kalian memang sedang anu.” Reza memijakkan langkah lebih dalam, matanya menangkap gerakan Revan yang buru-buru menarik resleting celananya. “Bro, ini nggak kayak yang kamu pikir,” Revan menggeser tubuh, berusaha menutup celah antara dirinya dan Liora, seolah tubuhnya bisa menyembunyikan apa yang sudah jelas. Reza mengamati keduanya. Ada sisa lipstik di bibir Liora, warnanya bukan yang biasa ia pakai kalau pergi dari rumah ataupun pergi bersama Reza. Ternyata ia baru tahu, kalau istrinya memakai warna lipstik yang menggoda untuk bertemu Revan. Baju Revan pun kusut, garis-garis keringat di lehernya menunjukkan betapa terburu-burunya mereka. “Aku cuma datang untuk ngambil kamera lama yang kamu bilang tadi, Apa kamu lupa kalau kunci gudang ini juga ada padaku?” suara Reza tenang, namun rahangnya mengeras. Ia mengambil kamera itu di atas tumpukan kardus, lalu memandang dua orang yang selama ini ia percaya. Sorot matanya tidak berteriak, tetapi ada sesuatu yang remuk tanpa suara. Orang yang sudah dianggapnya saudara, ternyata selingkuhan istrinya sendiri. Revan mendekat beberapa langkah. “Reza, sebaiknya kamu dengerin dulu. Liora tadi cuma cerita tentang—” “Cerita tentang apa? Terus ngapain dia ada di sini. Kamu juga, bukannya tadi saat dikantor kamu ada urusan sebentar? Wow keren,Bro. Ini ternyata urusanmu.” Reza menyentuh d**a sendiri. “Ayo ceritakan tentang caramu meraih pinggang istri orang di ruangan gelap kayak begini?” Liora tertunduk. Napasnya tersendat seolah ada tali yang menarik kerongkongan dari dalam. “Kamu nggak ngerti keadaan kami,” Liora mengusap pipinya, yang entah basah oleh keringat atau air mata. “Tadi cuma… salah.” “Mengangkat rok dan membuka baju di hadapan sahabat suami kamu itu bukan kesalahan kecil,” Reza melangkah maju. Suaranya tetap rendah, namun matanya tidak bergerak dari wajah Liora. “Kapan mulai?” Revan menahan lengan Reza, gerakannya terburu namun rapuh. “Diam dulu. Kamu lagi emosi. Kamu hanya i salah lihat.” Reza menepis lengan itu. “Aku baru pulang dari kantor Revan karena kita butuh handycam ini. Aku ingat tadi pagi kamu yang suruh aku ambil kegudang ini. Karena kamu bilang ada urusan. Ternyata ini urusannya.” Revan terpana. Ia merutuki kebodohannya kali ini. Kenapa bisa lupa kalau menyuruh Reza sendiri ke rumahnya secara tak langsung. Ia memang pulang cepat. Karena Liora selalu mengirim Poto yang menggoda, anehnya wanita itu malah memilih berpose liar di dalam gudang. Membuat adrenalin dan hasratnya terpacu. Liora memejamkan mata sesaat. “Reza, aku mohon jangan buat ini lebih buruk.” “Lebih buruk?” Reza menunduk, memungut gelang kecil yang terjatuh dekat kaki Liora. “Lebih buruk dari melihat kamu begini? Di belakangku? Dengan dia?” Liora menjauh setengah langkah. Tangannya terulur, namun tidak sampai menyentuh Reza. “Aku salah. Tapi aku… aku juga bingung kenapa bisa begini?” “Kamu bingung sampai butuh dipeluk sahabatku?” Reza menegakkan bahu. “Atau itu alasan kamu karena bosan hidup sama aku?” Revan berdecak gelisah. “Reza, tolong jangan lemparkan kalimat kayak gitu. Kamu tahu, hubungan kalian lagi berat.” “Hubungan berat tidak berarti kamu boleh masuk ke dalamnya,” Reza menatap Revan, matanya redup namun tajam. “Kamu itu kayak saudaraku sendiri. Anehnya, apakah tak ada tempat yang lebih layak dari gudang ini, hah? Menjijikan!” Revan menunduk, tetapi tidak ada penyesalan yang benar-benar terlihat. Ada kegugupan yang lebih mirip ketakutan karena ketahuan, bukan ketakutan karena telah menyakiti. Liora menarik napas panjang. Badannya goyah, seolah sesuatu runtuh di dalam dirinya. “Aku nggak bisa jelasin apa pun sekarang.” “Aku tidak minta penjelasan,” Reza mengangkat wajah Liora secara perlahan, hanya agar ia bisa menatap mata perempuan yang selama ini ia jaga dan cintai sepenuh hati “Aku cuma ingin tahu satu hal. Kamu pergi sama dia… atau pulang sama aku?” Liora terdiam lama. Jemarinya saling meremas seperti ingin menghancurkan dirinya sendiri. Revan menunggu dengan gugup. “Reza…” suara Liora lirih, “aku nggak bisa pulang.” Langit di belakang gudang seperti runtuh. Reza memicingkan mata, hanya sedikit, namun cukup menunjukkan luka yang terbuka. “Jadi kamu memilih di sini? Bersama dia?” Liora tidak menjawab. Revan menelan saliva dan menggeser langkah, berdiri di sisi Liora seperti hendak melindungi perempuan itu dari suaminya sendiri. “Bu-bukan gitu, Za. Ada yang harus kami bahas. Sebentar saja. Nanti akan aku antar Liora pulang “Baik.” Reza mengangguk kecil. “Aku mengerti. Gak usah diantar pulan. Dia d sini aja. Bila perlu aku antarkan bajunya ke sini” Liora meraih siku Reza seakan ingin menarik kembali sesuatu yang sudah ia lepaskan. “Tunggu. Aku… aku butuh waktu.” “Waktu buat apa? Menentukan hati kamu? Atau menentukan posisi tubuh kamu selanjutnya?” Reza menatap ke lantai. Senyuman kecil muncul, namun bukan senyuman yang hidup. “Aku udah lihat cukup banyak buat lima menit.” Liora mundur, seperti baru tertampar padahal Reza tidak menggerakkan tangan sedikit pun. “Aku pergi,” Reza meraih kamera yang tadi ia letakkan. “Kalau kalian mau melanjutkan apa pun yang tadi terputus, silakan.” Revan menggerakkan tangan. “Jangan pergi kayak gini, Bro.” Reza berhenti di pintu. “Aku nggak pernah pergi duluan. Kalian yang mulai duluan, bukan aku.” Ia meninggalkan gudang itu tanpa suara, hanya dengungan serangga malam yang mengikuti langkahnya. Tanah kering menempel di sepatu hitamnya setiap kali ia menginjaknya. Tidak ada ledakan emosi, tidak ada bentakan. Keheningan Reza menjadi palu yang jatuh di antara mereka. --- Udara malam menyusup ke tulang saat Reza berdiri di depan mobilnya. Ia membuka pintu, meletakkan kamera di kursi, lalu bersandar pada kap mobil dengan kepala menengadah ke langit seperti seseorang yang mencoba menghentikan air mata agar tidak tumpah. “Aku kira selama ini kamu tempatku untuk pulang,” batin Reza penuh dengan kecewa. Suara lembut muncul dari samping, membuat Reza membuka mata. Tetangga sebelah Ardan , Ijen, berdiri sambil membawa plastik sampah. Ya, Reza sudah cukup kenal dengan warga sekitar. Karena itu memang rumah pribadi Ardan sekaligus tempat tongkrongan Reza. Mata Ijen memerhatikan wajah Reza dengan alis yang mengerut sedikit. Ia tidak tahu apa yang terjadi, namun ia menangkap sesuatu dari cara Reza menarik napas terlalu panjang. “Loh, kamu kenapa, Za. Kok, ga masuk ke dalam.” Ijen menunjuk Rumah Ardan. “Aku cuma mampir sebentar,” Reza menatap jalan yang gelap. “Ada sesuatu yang nggak enak.” Ijen menggeser plastik sampah ke tangan kiri, lalu menatap pintu gudang yang masih terbuka sedikit. “Aku lihat Liora tadi masuk ke sana. Sama Revan.” Reza menyipitkan mata. “Kamu lihat apa?” Ijen menundukkan wajah, seperti ragu untuk mengatakan. “Aku gak sengaja lewat halaman belakang. Tadinya, aku mau ambil kucingku yang kabur. Tapi gak sengaja aku melihat mereka berjalan bergandengan, erat banget.” Reza meremas pinggiran kap mobil sampai jari-jarinya memutih. “Seberapa dekat?” Ijen mengangkat wajah secara perlahan. “Kayak… orang yang lag, Maaf, kamu ngertilah?” Reza menutup mata. “Iya. Aku ngerti.” “Aku minta maaf. Gak seharusnya aku ngomong dan ikut campur. Tapi,i kamu orang baik.” Ijen memindahkan berat badan ke arah kiri, gelisah. “Aku cuma mikirnya, kamu perlu tahu.” “Aku sudah tahu dari tadi.” Reza berdiri tegak, menahan sesuatu yang mengalir di dadanya. “Terima kasih, Jen.” Ijen hendak melangkah pergi, namun berhenti sebentar. “Reza. Ganti saja pintu rumahmu dengan yang lebih baik. Karena aku lihat yang sekarang sudah bobrok.” Reza tidak menjawab. Ia hanya menatap ke dalam mobilnya, seolah di sana ada jawaban yang ia cari. Namun hanya ada gesekan kecil dari kamera yang belum ia buang. Mendadak ia terkejut ternyata kamera handycam itu menyala. Terlihat cahaya merah kecil dari sudut kamera. Reza masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan suara yang lembut, hampir seperti bisikan. Ia memegang setir namun tidak menyalakan mesin. Ada getaran kecil di telapak tangannya. Hanya lima menit yang lalu ia melihat istrinya bersama sahabatnya. Hanya lima menit, tetapi hidupnya berubah drastis. Reza mengusap wajah dengan kedua tangannya. “Oke,kita lihat isi kamera ini” ia berbisik pelan lalu membuka kamera. ---

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
36.1K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.6K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
3.8K
bc

Godaan Mesra Sang Duda

read
2.6K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.6K
bc

After We Met

read
187.3K
bc

(Bukan) Dosen Idaman

read
8.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook