“Hallo Karin?” Suara di seberang sana menyahut membuat senyum Miko berkembang, “Ya Pak?” “Kamu lagi di mana?” “Ini mau cek Bengkel yang ada di Senayan. Ada apa ya Pak?” “Tolong nanti malam kamu datang ke Halimah Hospital ya. Bawa buah seakan mau jenguk anak saya, tapi kamu pura – pura jadi teman dekat saya di depan Ibu anak saya.” “Ha? J—jangan Pak, nanti saya kena gampar. Saya nggak mau di sebut pelakor.” “Sudah nurut saya. Bulan depan gaji kamu dua kali lipat deh. Pokoknya kamu harus acting jadi teman dekat saya ya Rin?” Asistennya itu menghela napas dan berguman, “Iya deh Pak. Aneh – aneh saja Bapak ini.” Sambungan itu terputus. Dengan senyum lebar karena menurutnya rencananya kali ini akan berhasil, Miko memasuki kamar rawat inap putrinya. Di mana putrinya masih berbaring te