Tidak terasa sudah sepuluh tahun berlalu dan Irna sudah sampai titik ini. Titik di mana ia sudah mencapai semua daftar keinginannya dengan prestasi yang begitu gemilang dan sebagai seorang Ibu sekaligus Ayah untuk putrinya; Jingga. “Happy Birthday Mama. Jingga sayang Mama.” Irna menatap putrinya dengan mata yang berkaca – kaca lalu mencium pipi putrinya. “Terima kasih anak Mama. Boleh Mama tiup lilinnya, Sayang?” “Boleh dong, Ma! Tapi doa dulu. Doa yang banyak.” Sudut bibir Irna tertarik membentuk sebuah senyuman. Dia mulai memejamkan mata dan berdoa pada Tuhannya sebelum meniup lilin dengan angka 34 itu. “Yeyyyy.. sekali lagi Happy Birthday Mamanya Jingga.” Tepuk tangan putrinya terasa meriah, walau ulang tahunnya hanya ia rayakan berdua dengan putrinya. Irna mengambil kue itu dari t