Bab 10 - Timbal Balik

1096 Kata
Ambulans itu akhirnya berhenti di depan rumah sakit besar yang sejak tadi hanya Nara lihat di papan petunjuk jalan. Bangunannya menjulang, lampunya terang, dan suasananya jauh berbeda dari rumah sakit kecil di kampungnya. Jantung Nara berdebar kencang saat pintu ambulans dibuka. “Ibu… Kita sudah sampai,” bisiknya lirih sambil menggenggam tangan Ibunya yang dingin. Para perawat dan Dokter bergerak cepat. Ibu Nara langsung didorong masuk ke ruang IGD tanpa banyak bicara. Nara hanya bisa berdiri di belakang garis pembatas, matanya tak lepas dari tubuh kurus Ibunya yang perlahan menghilang di balik pintu kaca. Raka berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk situasi sepenting itu. Ia berbicara singkat dengan bagian administrasi, menyerahkan kartu dan berkas-berkas tanpa ragu sedikit pun. “Semua biaya sudah saya tanggung,” ucap Raka tegas. Nara mendengarnya. Dadanya terasa sesak. Ia tahu, semua ini bukan cuma bantuan. Ini adalah bagian dari perjanjian yang sudah terlanjur ia tandatangani. Beberapa jam terasa seperti seumur hidup. Nara duduk di kursi ruang tunggu dengan tubuh gemetar, jemarinya saling menggenggam erat. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali menangis, karena air matanya seperti sudah habis di perjalanan tadi. Setelah beberapa lama Dokter menangani Ibunya, akhirnya, seorang Dokter keluar menghampiri mereka. “Keluarga pasien?” “Saya, Dok. Saya anaknya,” jawab Nara cepat, hampir berlari mendekat. Dokter itu tersenyum tipis. “Penanganannya berjalan baik. Kondisi Ibu Anda cukup serius saat datang, tapi sekarang sudah stabil. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan intensif untuk observasi. Dengan perawatan yang tepat, peluang pemulihannya cukup besar.” Kalimat itu terasa seperti keajaiban. Nara menutup mulutnya, air mata akhirnya jatuh juga. Kali ini bukan karena takut, melainkan lega. Ia membungkuk sedikit, hampir tak sadar melakukannya. “Terima kasih, Dok… Terima kasih banyak.” “Sama-sama. Kalau gitu saya tinggal. Permisi.” “Baik, Dok.” Saat Dokter pergi, Nara berdiri terpaku. Napasnya masih tersengal. Perlahan ia menoleh ke arah Raka. Pria itu menatapnya, sorot matanya datar namun penuh arti. “Ibumu akan baik-baik saja,” katanya singkat. Nara mengangguk, suaranya nyaris tak keluar. “Terima kasih, Pak Raka… Kalau bukan karena Pak…” Raka memotongnya dengan halus. “Ini sudah menjadi tanggung jawab saya. Kamu tidak perlu merasa berutang budi.” Namun Nara tahu, justru di situlah letaknya. Ia memang tidak berutang uang lagi. Tapi ada sesuatu yang jauh lebih besar yang kini mengikat hidupnya dengan Raka. Saat akhirnya Nara diizinkan melihat Ibunya di ruang perawatan, ia menggenggam tangan wanita itu dengan hati-hati. Wajah Ibunya tampak lebih tenang, napasnya teratur dibantu alat medis. “Bu… Nara di sini,” bisiknya sambil tersenyum di antara air mata. Di balik pintu kaca, Raka memperhatikan mereka berdua. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Permainannya berjalan sesuai rencana. ***** Nara melangkah keluar dari ruang perawatan dengan langkah pelan. Pintu tertutup di belakangnya, menyisakan suara mesin medis yang samar. Dadanya terasa hangat karena lega, namun juga berat oleh sesuatu yang belum selesai. Belum sempat ia duduk, Raka sudah berdiri tepat di depannya. “Nara,” panggilnya pelan, tapi tegas. Nara mengangkat wajah. Senyum yang tadi sempat muncul di hadapan Ibunya perlahan memudar. Ia tahu, momen ini pasti datang. “Ibumu sudah melewati masa kritis,” ucap Raka tanpa basa-basi. “Dokter bilang kondisinya akan terus membaik.” “Iya… Aku dengar sendiri,” jawab Nara lirih. Raka mengangguk sekali, lalu menatap Nara lebih dalam. “Berarti sekarang giliran kamu menepati janji.” Kata-kata itu seperti palu yang menghantam dadanya. Nara menunduk. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Pak Raka… Aku…” “Kita sudah sepakat,” potong Raka, suaranya tetap tenang. “Kamu sendiri yang menandatangani perjanjian itu. Setelah Ibumu selamat, kamu menikah denganku.” Nara terdiam lama. Lorong rumah sakit terasa semakin sunyi. Orang-orang berlalu lalang, tapi baginya dunia seperti berhenti bergerak. “Aku bukan tidak mau bertanggung jawab,” lanjut Raka. “Semua biaya, semua fasilitas, aku penuhi. Sekarang kamu hanya perlu melakukan bagianmu.” Air mata menggenang di mata Nara. Ia mengangkat wajahnya lagi, menatap Raka dengan campuran takut dan pasrah. “Aku cuma ingin Ibu aku sembuh,” suaranya bergetar. “Kalau itu harus dibayar dengan hidupku sendiri… Ya sudah, aku terima.” Raka sedikit terkejut mendengar kalimat itu, namun ekspresinya segera kembali datar. “Ini bukan soal hidupmu hancur, Nara. Ini soal kita menjalani kesepakatan.” Nara mengangguk perlahan. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan. Ia menoleh ke arah pintu ruang perawatan, membayangkan wajah Ibunya yang kini mulai membaik. “Baik,” ucapnya akhirnya, hampir seperti bisikan. “Aku akan menikah dengan Pak Raka. Sesuai janji.” “Bagus. Asisten pribadiku akan mengurus semuanya.” “Mengurus apa?” tanya Nara, meski di dalam hatinya ia sudah tahu jawabannya. “Pernikahan kita,” jawab Raka datar. “Hari ini juga pernikahan kita akan digelar.” Nara terperangah. “Ha-hari ini?” “Iya,” sahut Raka tanpa ragu. “Semua sudah aku urus. Penghulu, saksi, dokumen, semua bisa diatur. Kamu tidak perlu memikirkan apa pun.” Tubuh Nara terasa lemas. Kakinya hampir tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. “Pak… Aku bahkan belum bilang apa-apa ke Ibu tentang semua ini. Tentang pernikahanku. Kondisinya baru saja stabil.” “Aku tidak melarangmu menjenguknya,” ucap Raka. “Tapi pernikahan ini tidak bisa ditunda. Kita sudah sepakat.” “Tapi kan bisa tunggu Ibuku sadar dan aku coba jelaskan semua ke Ibuku.” “Menikah denganku sekarang atau semua perawatan Ibumu aku cabut?” Nara menunduk. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini ia tak lagi berusaha menghapusnya. Ia sadar, tak ada ruang untuk menawar. “Sekarang ikut aku,” lanjut Raka. “Kita ke butik dan salon. Kamu akan disiapkan.” Tanpa menunggu jawaban, Raka melangkah lebih dulu. Nara berdiri beberapa detik, lalu perlahan mengikutinya. Setiap langkah terasa berat, seakan ia sedang berjalan menuju hidup yang sama sekali asing baginya. Beberapa saat kemudian, seorang perempuan berpenampilan rapi datang tergesa. “Pak Raka,” sapanya sopan. “Saya Maya yang akan mengurus semua pernikahan Pak Raka.” Raka mengangguk. “Ini Nara. Urus semuanya. Gaun sederhana tapi pantas. Kita menikah malam ini.” Maya menoleh ke arah Nara, sedikit terkejut, namun tetap profesional. “Baik, Pak.” Nara hanya diam. Ia duduk di kursi mobil saat Maya mulai berbicara panjang lebar tentang jadwal, tempat, dan persiapan. Semua terdengar seperti gema jauh di telinganya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal, Ibunya selamat. Jika harga yang harus dibayar adalah dirinya sendiri, maka Nara tidak punya pilihan lain selain pasrah. Ia menatap keluar jendela mobil, melihat jalanan berlalu cepat. Hari itu, tanpa gaun impian, tanpa senyum bahagia, dan tanpa cinta, Nara akan menjadi istri Raka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN