Bab 09 - Perjanjian Pranikah

1311 Kata
Suara monitor jantung itu semakin tidak teratur. Nara berdiri kaku di depan kaca ruang ICU, matanya sembab, tangannya gemetar. Dokter baru saja keluar dan mengulang kalimat yang sama, seolah menancapkan pisau lebih dalam ke hatinya. “Waktunya tidak banyak.” Nara menunduk. Dunia terasa runtuh. Semua jalan yang ia miliki seakan buntu. Raka berdiri tak jauh darinya. Tatapannya tajam namun tenang. Sejak tadi ia menunggu jawaban yang bahkan Nara sendiri tak ingin mengucapkannya. Dengan napas berat, Nara akhirnya menoleh. “Baik,” ucapnya pelan, hampir tak terdengar. “Aku terima tawaran kamu.” Raka mengangkat alis, tapi belum sempat berbicara, Nara melanjutkan dengan suara yang lebih tegas. “Tapi aku juga punya syarat.” Raka menyilangkan tangan. “Katakan.” Nara menatapnya lurus, tanpa air mata kali ini. “Aku akan menikah denganmu hanya jika kamu benar-benar menepati janjimu. Ibu aku harus diobati sampai sembuh. Bukan setengah-setengah. Aku mau semua biaya, semua perawatan, Dokter terbaik. Dan kalau di tengah jalan kamu berhenti… Pernikahan ini batal.” Raka terdiam sejenak. Bibirnya melengkung tipis. “Kamu pikir aku akan percaya begitu saja?” “Aku juga tidak sepenuhnya percaya kamu,” balas Nara tanpa ragu. Itu membuat Raka tersenyum kecil. Bukan marah, justru tertarik. “Bagus. Kita sama-sama tidak bodoh.” Tanpa banyak bicara, Raka menghubungi asistennya. Tak sampai satu jam, seorang pria bersetelan rapi datang membawa map tebal. Mereka duduk di ruang tunggu rumah sakit yang sunyi. “Perjanjian pranikah,” ujar Raka tenang. “Hitam di atas putih. Semua syarat kamu dan aku tertulis jelas di sini.” Nara membaca setiap lembar dengan teliti. Tangannya bergetar saat melihat poin demi poin. Biaya pengobatan Ibu, rumah sakit terbaik, jaminan hidup Ibunya hingga benar-benar pulih. Tidak ada celah. “Aku tidak mau ada permainan di belakang,” kata Nara lirih. “Kalau aku bermain curang,” jawab Raka dingin, “kamu bebas meninggalkanku tanpa konsekuensi apa pun.” Hening. Dengan napas panjang, Nara akhirnya mengambil pulpen. Air matanya jatuh tepat saat tanda tangannya terukir di kertas itu. Raka menyusul menandatangani dengan gerakan mantap. Perjanjian itu sah. Setelah tanda tangan terakhir terukir di atas kertas, Raka langsung berdiri. Tak ada ragu di wajahnya, tak ada penundaan. “Dokter,” katanya pada Dokter yang baru saja lewat. “Tolong siapkan rujukan ke rumah sakit pusat. Saya mau pasien dipindahkan hari ini juga.” Dokter itu terkejut, namun segera mengangguk. “Baik, Pak. Kami akan siapkan ambulans dan tim pendamping.” Raka kemudian mengeluarkan ponselnya, menelepon beberapa orang sekaligus. Bagian administrasi, asuransi, hingga pihak rumah sakit tujuan. Setiap kalimatnya singkat, tegas, dan penuh kendali. “Selesaikan semua biaya. Saya tidak mau ada satu pun prosedur yang tertunda karena administrasi.” Beberapa menit kemudian, seorang petugas mendatangi Nara. “Semua administrasi sudah lunas, Mbak. Bahkan untuk perawatan lanjutan juga sudah ditanggung penuh.” Nara terdiam. Dadanya terasa longgar untuk pertama kalinya sejak berjam-jam lalu. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata kembali jatuh. Kali ini bukan karena putus asa, melainkan lega. “Terima kasih…,” ucapnya lirih tanpa menatap Raka. Raka hanya mengangguk kecil. “Aku sudah berjanji. Dan aku harap kamu juga menepati janji kamu.” Nara tidak menjawab. Dia hanya tertunduk. Tak lama, Ibunya dipersiapkan untuk dipindahkan. Selang infus diganti, alat bantu napas dipastikan stabil. Nara berjalan di samping brankar, menggenggam tangan Ibunya erat-erat. “Ibu pasti sembuh,” bisiknya. “Nara di sini.” Lorong rumah sakit besar itu terasa dingin dan asing. Tak lama kemudian, langkah tergesa terdengar mendekat. “Nara!” Ia menoleh. Budenya berdiri di hadapannya dengan wajah panik. Nafasnya terengah, jelas baru tiba. “Nara, kamu serius mau pindahkan Ibu kamu kw rumah sakit pusat? Itu kan sangat mahal. Kamu dari mana dapat uang? Bukannya kamu bilang tabunganmu sudah habis?” Pertanyaan itu membuat jantung Nara berdegup keras. Tangannya spontan mengepal di atas paha. Ia sudah menduga pertanyaan ini akan datang. Nara menelan ludah, lalu memaksa dirinya tersenyum tipis. “Aku… Aku pinjam uang, Bude.” “Pinjam?” alis Budenya mengernyit. “Ke siapa?” Nara ragu sepersekian detik, lalu menjawab. “Ke bos aku. Raka.” Budenya terdiam, menatap Nara lekat-lekat. “Bos kamu yang pemilik coffee shop itu? Yang antar kamu ke sin?” Nara mengangguk pelan. “Syukurlah,” Budenya menghela napas panjang. “Untung masih ada orang baik. Yang penting Ibumu ditangani dengan benar.” Kata-kata itu menusuk hati Nara. Orang baik. Ia memalingkan wajah, takut kebohongannya terbaca dari sorot mata. “Iya, Bude,” jawabnya pelan. “Nanti aku cicil pelan-pelan.” Budenya menepuk bahu Nara dengan penuh harap. “Yang penting sekarang fokus ke Ibumu dulu. Soal uang bisa dipikir belakangan. Dan maaf ya Nak, Bude ga bisa bantu kamu. Bude juga ga punya uang. Kalau punya, sudah pasti Bude bantu kamu dan Ibu kamu.” Nara hanya mengangguk. Ia tidak berani mengatakan apa pun lagi. “Pinjam uang.” Ia mengulang kebohongan itu dalam hati, kebohongan yang terasa semakin berat. Bukan pinjaman. Bukan juga bantuan. Harga yang harus ia bayar jauh lebih besar dari sekadar uang. Bayangan perjanjian itu kembali muncul. Tanda tangannya. Nama Raka di bawahnya. Kata menikah yang tertulis jelas tanpa bisa dihapus. Nara membuka mata perlahan. Di kejauhan, ia melihat Raka berdiri berbicara dengan Dokter, sikapnya tenang dan berwibawa. Semua orang seolah patuh padanya. “Apa aku sanggup menjalani hidup bersamanya?” “Apa pernikahan itu akan menjadi penjara?” Nara menggenggam tangannya sendiri, berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia telah memilih jalan ini demi Ibunya. Tidak ada jalan kembali. Di saat yang sama, tanpa Nara sadari, Raka menoleh ke arahnya. Tatapannya bertemu dengan mata Nara sesaat. Ada sesuatu di sorot mata Raka. Bukan sekadar kemenangan, melainkan keyakinan bahwa cepat atau lambat, Nara akan menjadi bagian dari hidupnya sepenuhnya. Dan pikiran tentang pernikahan itu terus menghantui Nara, seperti bayangan yang tak bisa ia hindari, ke mana pun ia melangkah. Nara mengusap wajahnya perlahan, seolah ingin menghapus semua ketakutan yang masih menempel di pikirannya. Ia tahu, jika ia terus membiarkan rasa takut itu menguasai dirinya, ia tidak akan sanggup berdiri tegak untuk Ibunya. “Fokus, Nara. Satu hal saja,” batinnya. “Ibu.” Suara langkah cepat para perawat memecah lamunan Nara. Brankar didorong keluar dari ruang perawatan, diikuti Dokter dan tim medis lengkap. Ibunya dipindahkan dengan sangat hati-hati, selang dan alat bantu napas tetap terpasang rapi. “Pasien akan dipindahkan ke rumah sakit pusat untuk penanganan lanjutan,” jelas seorang Dokter. “Ambulans sudah siap.” Nara langsung berdiri dan menggenggam tangan Ibunya yang terasa dingin. “Ibu, kita pindah ya,” ucapnya lembut, meski sang Ibu masih belum sadarkan diri. “Ibu pasti kuat.” Ambulans sudah menunggu di depan. Pintu belakang terbuka, sirene belum dinyalakan. Nara naik dan duduk di samping Ibunya, matanya tak lepas dari wajah pucat itu. Tangannya terus menggenggam tangan Ibunya, seakan takut jika ia melepaskannya sedetik saja. Saat pintu ambulans tertutup dan kendaraan mulai melaju, Nara memejamkan mata sejenak. Detak jantungnya masih cepat, tapi kali ini ia mencoba mengaturnya. “Jangan pikirkan perjanjian itu sekarang. Jangan pikirkan Raka, pernikahan, atau masa depan.” Yang ia dengar hanya suara mesin ambulans dan alat medis yang terus berbunyi. Tanda bahwa Ibunya masih bertahan. Di kursi depan, seorang perawat sesekali menoleh, memastikan kondisi pasien stabil. Nara mengangguk setiap kali perawat memberi isyarat bahwa semuanya masih terkendali. Di luar, jalanan malam tampak buram lewat jendela kecil ambulans. Nara menatapnya tanpa benar-benar melihat. Hatinya kini ia paksa untuk tenang, pikirannya ia ikat pada satu tujuan, kesembuhan Ibunya. “Aku di sini, Bu,” bisiknya lagi. “Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pergi.” Untuk saat ini, Nara memilih menyingkirkan semua ketakutan yang menghantuinya. Ia memilih percaya pada Dokter, pada waktu, dan pada kekuatan Ibunya. Soal perjanjian dengan Raka itu akan ia hadapi nanti. Sekarang, di dalam ambulans yang melaju cepat menuju rumah sakit besar, Nara hanya ingin menjadi anak yang setia menunggu Ibunya kembali membuka mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN