Bab 08 - Syarat Untuk Nara

1205 Kata
Setibanya di rumah sakit tempat Ibunya dirawat, Nara berdiri terpaku di depan ruang UGD. Bau antiseptik menusuk hidungnya, sementara suara alat medis yang berbunyi tak beraturan membuat dadanya semakin sesak. Ibunya terbaring lemah, wajahnya pucat, napasnya tersengal seolah setiap tarikan adalah perjuangan terakhir. Dokter keluar dengan wajah serius. “Maaf, kondisinya sangat kritis. Kami sarankan segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan fasilitasnya lebih lengkap. Di sini peralatannya terbatas,” ucapnya tegas. Kata-kata itu seperti palu yang menghantam kepala Nara. Rujukan. Rumah sakit besar. Biaya. Tangannya gemetar. Otaknya kosong. “Dok… Biayanya?” suara Nara nyaris tak terdengar. Dokter terdiam sejenak. “Nanti bagian administrasi yang akan menjelaskan. Tapi yang paling penting sekarang adalah waktu.” Nara mengangguk lemah. Saat Dokter pergi, lututnya kehilangan tenaga. Ia terduduk di bangku UGD, menutup wajah dengan kedua tangan. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia tidak punya apa-apa. Tidak ada tabungan. Tidak ada jaminan. Tidak ada siapa-siapa. “Aku harus bagaimana, Bu…,” bisiknya lirih kepada Ibunya yang tidak sadar. Nara mengusap air matanya dengan cepat saat melihat sosok Budenya berdiri di seberang lorong UGD. Wajah wanita itu tampak panik, matanya sembab, napasnya terengah seolah baru saja berlari. “Bude…,” panggil Nara lirih. Begitu mata mereka bertemu, Bude langsung menghampiri dan memeluk Nara erat. “Ya Tuhan, Nara… Ibu kamu kenapa bisa sampai begini?” Nara melepaskan pelukan itu, menatap Budenya dengan mata merah. “Itu yang mau Nara tanyakan, Bude. Tadi pagi Ibu kenapa? Kenapa bisa kritis mendadak?” Bude menggeleng cepat, wajahnya jelas kebingungan. “Bude juga nggak tahu, Nak. Tadi pagi Ibu kamu biasa saja. Dia sarapan nasi uduk, minum teh hangat. Bahkan masih sempat bercanda, katanya hari ini mau nyapu halaman.” Hati Nara makin terasa berat. “Terus?” “Setelah itu dia bilang mau ke kamar mandi. Lama nggak keluar-keluar. Bude pikir biasa. Tapi pas Bude cek… Ibu kamu sudah jatuh di lantai kamar mandi. Nggak sadar.” Suara bude bergetar, matanya berkaca-kaca. “Bude langsung teriak minta tolong tetangga dan bawa ke sini.” Nara menutup mulutnya, menahan isak. Tubuhnya gemetar membayangkan Ibunya tergeletak sendirian di kamar mandi. “Kenapa bisa tiba-tiba begitu, Bude…,” bisiknya putus asa. Bude menggeleng lagi, lalu menggenggam tangan Nara erat. “Mungkin memang sudah ada penyakit yang Ibu kamu simpan. Dia itu keras kepala, Nak. Kalau sakit suka nggak bilang.” Nara menunduk. Ia tahu betul sifat Ibunya. Selalu mengalah, selalu bilang baik-baik saja. Tak lama kemudian, perawat memanggilnya ke bagian administrasi. Angka-angka disebutkan, istilah medis dijelaskan, semuanya terdengar seperti bahasa asing. Yang Nara tangkap hanya satu, uang muka. Ia menggeleng pelan. “Saya… Tidak punya uang sebanyak itu.” Perawat menatapnya iba, tapi tetap profesional. “Coba hubungi keluarga atau pihak yang bisa membantu dulu, Mbak.” “Iya, sus. Terima kasih.” Lorong rumah sakit terasa semakin sempit bagi Nara. Suara langkah kaki, roda ranjang pasien, dan bisik-bisik orang berlalu lalang bercampur menjadi dengung yang membuat kepalanya pening. Ia berdiri di samping Budenya ketika tiba-tiba Raka mendekat. “Nara, ikut aku sebentar,” ucap Raka dengan nada serius. Bude Nara menoleh heran. “Mas Raka…” “Sebentar saja, Bu,” potong Raka sopan namun tegas. Tanpa menunggu jawaban, Raka menarik Nara menjauh beberapa langkah. Cukup jauh hingga suara mereka tak lagi terdengar oleh Budenya. Nara langsung melepaskan tangannya. “Pak Raka, kenapa sih?” suaranya bergetar. “Aku lagi nggak sanggup mikir apa-apa.” Raka menatapnya lurus. Wajahnya tidak lagi seteduh tadi. Ada ketegasan yang membuat Nara tidak nyaman. “Aku dengar semua pembicaraan kamu dengan Dokter dan perawat tadi,” kata Raka. “Aku tahu kamu nggak punya apa-apa buat biaya rumah sakit besar.” Nara terdiam. “Aku bisa menanggung semuanya,” lanjut Raka pelan, “biaya rumah sakit, operasi, perawatan, sampai Ibu kamu benar-benar sembuh.” Hati Nara berdesir, campur aduk antara harapan dan rasa takut. “Pak… Aku sudah bilang. Aku nggak bisa nerima…” “Tapi ada syaratnya,” potong Raka. Nara mendongak cepat. “Syarat?” Raka menarik napas dalam. “Kamu menikah denganku.” Dunia Nara seolah berhenti berputar. “Apa?” saranya nyaris tak keluar. “Pak Raka bercanda, kan?” Raka menggeleng. “Aku serius.” Wajah Nara langsung memucat. “Nggak. Aku nggak mau. Aku nggak bisa. Jangan jadikan kondisi Ibuku sebagai taruhan.” Raka mendekat satu langkah. “Nara, buka mata kamu. Waktu Ibu kamu itu sedikit. Rumah sakit kecil nggak akan sanggup nolong Ibu kamu. Rumah sakit besar butuh biaya besar. Dan kamu tahu sendiri, kamu nggak punya pilihan.” “Pak Raka!” suara Nara meninggi, air matanya jatuh. “Itu sangat kejam!” “Ini kenyataan,” jawab Raka dingin. “Kalau kamu terus menolak, rujukan bisa terlambat. Kondisi Ibu kamu bisa makin buruk. Bahkan…” Raka menggantungkan kata-katanya. “Kamu siap kehilangan dia?” Tubuh Nara gemetar. Kata-kata itu menusuk lebih sakit dari apa pun. Ia membayangkan Ibunya, terbaring lemah, bergantung pada keputusan yang harus ia ambil sekarang. “Kamu jahat…,” bisik Nara. “Kenapa harus begini caranya?” Raka terdiam sejenak, lalu berkata lebih pelan. “Aku cuma mau kamu jadi milikku dengan cara yang pasti.” Nara memejamkan mata. Dadanya sesak. Di satu sisi ada harga diri dan kebebasannya. Di sisi lain ada nyawa Ibunya. Ia ingin berteriak. Ingin lari. Tapi kakinya seolah tertanam di lantai rumah sakit itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Nara benar-benar merasa terpojok. “Keluarga pasien atas nama Ibu Sari?” Suara Dokter memecah kebisuan di lorong itu. Nara tersentak, menoleh cepat. Jantungnya berdegup kencang. “Saya, Dok,” ucapnya lirih, melangkah maju. “Saya anaknya.” Dokter menatap Nara dengan wajah serius, lalu mengajaknya sedikit ke samping. Raka dan Budenya berdiri tak jauh, tapi jarak itu terasa seperti dua dunia yang berbeda. “Kondisi Ibu Anda memburuk,” kata Dokter tanpa basa-basi. “Terjadi komplikasi serius. Dugaan sementara ada gangguan pembuluh darah dan organ dalam. Kami sudah melakukan tindakan awal, tapi ini tidak cukup.” Nara menelan ludah. “Maksud dokter…?” “Ibu Anda harus segera dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Butuh penanganan intensif, mungkin tindakan lanjutan. Kalau terlambat…,” Dokter berhenti sejenak, memilih kata. “Risikonya sangat tinggi. Kami tidak bisa menjamin keselamatannya di sini.” Dunia Nara runtuh seketika. “Kalau… Kalau tidak dirujuk, Dok?” suaranya bergetar. Dokter menatapnya penuh empati. “Kemungkinan terburuknya… Ibu Anda tidak akan bertahan lama.” Air mata Nara jatuh tanpa bisa dicegah. Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak sendiri hingga sakit. Seolah ingin memastikan ini bukan mimpi buruk. “Dok, saya…,” suaranya terhenti. Ia tak sanggup melanjutkan kalimat tentang biaya. Dokter seolah mengerti. “Kami butuh persetujuan keluarga untuk rujukan sekarang. Waktu kita sangat terbatas.” Dokter lalu pergi, meninggalkan Nara dengan keputusan yang terasa mustahil. Nara berdiri kaku. Pandangannya buram oleh air mata. Di satu sisi lorong, ia melihat Budenya yang menatap penuh harap dan cemas. Di sisi lain… Raka. Tatapannya tajam, seolah tahu persis badai apa yang sedang berkecamuk di hati Nara. Ucapan Raka tadi kembali terngiang di kepalanya. “Menikah denganku. Atau ibu kamu…” Nara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dadanya terasa seperti diremas. Jika ia menolak, ia mungkin kehilangan Ibunya untuk selamanya. Jika ia menerima, ia kehilangan dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN