Bab 07 - Berlagak Menjadi Pahlawan

1099 Kata
Nara baru saja melangkah melewati pintu coffee shop ketika suara langkah cepat terdengar di belakangnya. “Nara!” Ia terkejut dan refleks menoleh. Raka berdiri beberapa meter darinya, wajahnya terlihat sedikit tegang, seolah takut Nara keburu menghilang. Pria itu menghampirinya tanpa banyak basa-basi. “Kamu mau langsung pulang sekarang?” tanya Raka. Nara mengangguk singkat. “Iya, Pak. Saya harus cepat sampai kampung.” Raka menghela napas pendek. “Aku antar.” Ucapan itu membuat Nara spontan menggeleng. “Tidak usah, Pak. Terima kasih, tapi saya bisa sendiri.” “Kamu yakin?” Raka menatapnya dalam-dalam. “Jam segini, transportasi ke luar kota sudah jarang.” Nara terdiam. Ingatannya langsung melayang pada jadwal di terminal yang sempat ia lihat siang tadi melalui ponselnya. Semua bus ke arah kampungnya penuh atau dibatalkan karena perbaikan jalur. Ia bahkan belum punya rencana cadangan, hanya nekat keluar dengan harapan bisa menemukan jalan. “Saya… Bisa cari cara lain,” jawabnya ragu. Raka menunggu, tidak memotong. Sikapnya justru membuat Nara semakin gelisah. Ia menunduk, meremas ujung tasnya. Ia tidak punya kendaraan. Uang di dompetnya bahkan nyaris habis jika harus menyewa apa pun. Akhirnya, Nara mengangkat wajahnya kembali. “Bus terakhir hari ini memang tidak ada,” katanya lirih, seolah mengakui kekalahannya sendiri. Raka mengangguk pelan. “Berarti memang lebih aman kalau aku antar.” Beberapa detik berlalu. Ego Nara masih berperang dengan keadaan. Namun bayangan Ibunya yang terbaring lemah di kampung membuat semua gengsi itu runtuh. “Baik, Pak,” ucapnya akhirnya. “Tapi… Saya benar-benar merepotkan.” Raka tersenyum tipis. “Tidak. Anggap saja ini tanggung jawab saya sebagai atasan kamu.” Nara tidak menanggapi. Ia hanya mengikuti langkah Raka menuju parkiran. Mobil itu tampak begitu asing baginya, sama asingnya dengan perasaan yang kini berkecamuk di dadanya. Saat mobil mulai melaju, Nara duduk kaku menatap jalan di depan. Di kepalanya hanya ada satu tujuan, segera sampai ke kampung. Sementara itu, Raka menyetir dengan tenang. Sesekali ia melirik ke arah Nara yang tampak rapuh namun berusaha kuat. Dalam diamnya, Raka tahu, keputusan Nara ikut dengannya bukan karena percaya, melainkan karena terdesak. Dan justru itu yang membuat Raka yakin, perjalanan ini akan mengubah banyak hal di antara mereka. Perjalanan menuju kampung Nara ternyata jauh lebih panjang dari yang ia bayangkan. Empat jam di dalam tol terasa seperti ujian kesabaran. Terlebih hari itu hampir semua ruas jalan dipenuhi kendaraan. Lampu rem menyala berderet, membuat mobil Raka lebih sering berhenti daripada melaju. Nara menatap jam di ponselnya berkali-kali. Waktu berjalan lambat, sementara kecemasannya semakin menebal. Tangannya menggenggam tas di pangkuan, sesekali ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. “Masih lama,” ucap Raka akhirnya, memecah keheningan. “Kita istirahat dulu di rest area depan.” Nara menoleh sekilas. Ia ingin menolak, ingin bilang bahwa ia baik-baik saja. Tapi tubuhnya lelah, pikirannya penuh, dan matanya mulai terasa perih. Ia hanya mengangguk pelan. Mobil keluar dari tol dan berhenti di sebuah rest area yang cukup ramai. Orang-orang lalu-lalang, suara kendaraan bercampur dengan aroma makanan. Raka mematikan mesin dan turun lebih dulu. “Makan sedikit,” kata Raka ketika Nara ikut turun. “Kamu belum makan sejak tadi.” Nara tidak menjawab. Ia hanya berjalan di samping Raka, langkahnya sedikit tertinggal. Dalam hati, ia tetap memasang jarak. Tatapannya awas, memperhatikan sekitar, memastikan semuanya aman. Mereka duduk di salah satu kedai sederhana. Raka memesan dua porsi makanan dan minuman tanpa banyak bertanya. Nara memperhatikannya diam-diam. Caranya berbicara pada pelayan, caranya menunggu pesanan. Tenang, seolah perjalanan panjang ini tidak membebaninya sama sekali. Saat makanan datang, Nara makan perlahan. Ia tidak banyak bicara, hanya sesekali mengangguk jika Raka bertanya singkat. Sikapnya patuh, namun pikirannya tetap berjaga. Ia tidak lupa bahwa Raka adalah atasannya, seseorang yang belum sepenuhnya ia pahami. “Kamu kelihatan capek,” ujar Raka sambil menyesap minumannya. “Sedikit,” jawab Nara jujur. “Setelah ini kita lanjut. Aku usahakan secepat mungkin kita sampai di kampung kamu.” Nara mengangguk lagi. Tidak ada penolakan. Tidak ada bantahan. Hanya kewaspadaan yang ia simpan rapat di balik wajah tenangnya. Di tengah keramaian rest area itu, Nara sadar, ia sedang berada jauh dari zona amannya. Namun demi Ibunya, ia memilih bertahan, mengikuti arus, dan mempercayakan perjalanan ini pada seseorang yang masih penuh tanda tanya. ***** Setelah selesai makan, mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan. Langit mulai berubah gelap, lampu-lampu jalan menyala satu per satu. Namun harapan Nara untuk sampai lebih cepat kembali pupus ketika deretan kendaraan di depan mereka tak juga bergerak. Tol masih macet, bahkan terasa lebih padat dari sebelumnya. Nara menatap jalan dengan gelisah. Ponselnya bergetar lagi di genggamannya. Nama Bude muncul untuk kesekian kali. “Iya, Bude…,” suara Nara bergetar saat ia mengangkat telepon. Di seberang sana, suara Budenya terdengar panik. Ibunya semakin lemah. Napasnya tidak teratur. Perawat desa menyarankan segera dibawa ke rumah sakit yang lebih besar yang ada di Kabupaten. Nara memejamkan mata. Dadanya sesak. “Aku lagi di jalan, Bude. Tol macet… Aku usahakan sampai secepatnya.” Telepon ditutup, tapi tangannya gemetar. Air mata menggenang tanpa bisa ia tahan. Raka yang sejak tadi memperhatikan dari balik kemudi akhirnya angkat suara. “Kondisi Ibumu memburuk?” tanyanya pelan. Nara mengangguk, tak sanggup bicara. Satu air mata jatuh membasahi punggung tangannya. “Ibumu sekarang di rumah sakit mana?” tanya Raka kembali. Dan kali ini Nara angkat suara. “Di rumah sakit kecil dekat rumah, Pak. Ibu saya harus segera dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar.” Raka langsung meraih ponselnya. Wajahnya berubah serius. Tanpa banyak penjelasan, ia menghubungi seseorang. Suaranya tegas, berbeda dari nada santainya selama ini. Ia menjelaskan situasi darurat, lokasi mereka, dan tujuan yang harus segera dicapai. Beberapa menit kemudian, Raka menoleh pada Nara. “Aku minta bantuan polisi. Mereka akan mengiringi kita sampai rumah sakit tempat Ibumu dirawat sekarang. Kalau tidak seperti ini, kita akan sampai besok pagi.” Nara menatapnya terkejut. “Pak… Raka, itu…” “Tidak apa-apa,” potong Raka. “Yang penting kamu sampai tepat waktu dan Ibumu bisa ditangani dengan cepat.” Tak lama, lampu biru-merah terlihat mendekat dari belakang. Sebuah mobil patroli memberi isyarat. Raka menyalakan lampu sein, mengikuti arahan petugas. Jalur dibuka perlahan, kendaraan lain menepi. Mobil mereka mulai melaju lebih lancar, meninggalkan kemacetan yang sejak tadi menahan langkah Nara. Di dalam mobil, Nara menunduk, menahan tangis. Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, ia berani berkata lirih. “Terima kasih, Pak…” Raka tidak menoleh, fokus pada jalan. “Pegang yang kuat. Kita hampir sampai.” Di balik suara sirene yang mengiringi, Nara merasakan harapan kecil menyala di dadanya. Ia belum tahu apa yang menunggunya di depan, tapi setidaknya kini ia tidak sendirian mengejar waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN