Kata kritis membuat kepalanya berdengung. Suara kendaraan di sekitarnya seakan menghilang. Jakarta yang biasanya bising tiba-tiba terasa sunyi dan menyesakkan.
“Apa maksudnya kritis…?” gumam Nara, matanya mulai berkaca-kaca.
Suara perawat rumah sakit di seberang terdengar terbata-bata, menjelaskan bahwa Ibunya tiba-tiba jatuh sakit. Penyakit itu sudah parah saat terdeteksi. Dokter hanya bisa berusaha menstabilkan kondisi, sementara keluarga diminta bersiap dengan segala kemungkinan.
Tangan Nara gemetar. Dadanya terasa berat, napasnya pendek-pendek.
Jakarta. Ia sedang berada di Jakarta.
Jarak itu terasa kejam. Terlalu jauh. Terlalu lama. Terlalu banyak kemungkinan buruk yang berputar di kepalanya.
“Aku harus pulang… Tapi bagaimana caranya sekarang? Dan aku juga harus izin dengan boss ku di pekerjaan,” bisiknya panik.
Ia membuka aplikasi tiket. Semua jadwal penuh, sebagian sudah terlalu malam. Uang tabungannya tak banyak, sementara gajinya baru akan cair minggu depan. Pikirannya kacau, rasa bersalah mulai menghantamnya bertubi-tubi.
“Kenapa aku tidak lebih sering pulang?”
“Kenapa aku terlalu sibuk mengejar hidupku sendiri?”
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar menahan tangis. Untuk pertama kalinya sejak lama, Nara benar-benar merasa sendirian di kota sebesar ini.
Di sela isakannya, ia mengirim pesan singkat ke kampung.
“Tolong jaga Ibu, Bude. Aku sedang berusaha pulang. Tolong bilang ke Ibu… Nara sayang Ibu.”
Pesan itu terkirim, namun tak ada balasan. Hanya tanda centang biru yang membuat hatinya semakin sesak.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang tak pernah benar-benar gelap, Nara belajar bahwa jarak bukan sekadar angka di peta. Jarak adalah rasa tak berdaya, saat orang yang paling kita cintai sedang berjuang antara hidup dan mati, sementara kita hanya bisa menunggu dengan doa dan air mata.
Dan Nara tahu, apa pun yang terjadi, hidupnya tak akan pernah sama lagi setelah malam ini.
Ponsel Nara kembali berdering. Nama Bude muncul di layar. Jantungnya langsung berdegup tak karuan.
“Nara…,” suara di seberang terdengar berat, nyaris bergetar.
“Keadaan Ibu kamu makin parah. Dokter bilang kondisinya menurun cepat.”
Kata-kata itu seperti pisau yang menghantam dadanya. Nara menutup mulutnya, berusaha menahan tangis yang hampir pecah.
“Bu… Ibu sadar, Bude?” tanyanya dengan suara serak.
“Sesekali. Tapi lemah sekali. Kalau bisa, kamu pulang secepatnya, Nak.”
Telepon terputus. Nara berdiri kaku beberapa detik, lalu menghela napas panjang. Tangannya dingin, pikirannya kacau. Ia tahu tidak ada pilihan lain.
Ia harus izin.
Dengan langkah tergesa, Nara memesan ojek dan langsung menuju ke tempat kerjanya. Sepanjang perjalanan, ia menatap kosong jalanan Jakarta yang padat. Lampu merah terasa terlalu lama, klakson terdengar menusuk telinga. Di kepalanya hanya ada satu wajah. Wajah Ibunya yang mungkin sedang berjuang menahan sakit.
Begitu sampai di coffee shop tempatnya bekerja, lonceng pintu berdenting pelan. Aroma kopi yang biasanya menenangkan justru membuat d**a Nara semakin sesak. Matanya langsung menangkap sosok Raka di sudut ruangan, duduk dengan laptop terbuka, jemarinya sibuk menari di atas keyboard.
Raka mendongak, sedikit terkejut melihat wajah Nara yang pucat dan mata yang sembab.
“Nara?” panggilnya.
Namun Nara tak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh. Langkahnya dipercepat, langsung menuju pintu kecil bertuliskan Private. Ruang pemilik coffee shop itu.
Ia mengetuk pintu dengan tergesa.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam.
Nara membuka pintu, menunduk sopan meski napasnya masih tak beraturan.
“Pak, maaf mengganggu. Saya Nara. Saya perlu izin mendadak untuk pulang kampung hari ini juga. Ibu saya kritis di rumah sakit.”
Pemilik coffee shop itu menatapnya lama. Wajahnya datar, tangan menyilang di d**a.
“Nara, kamu tahu hari ini kita kekurangan orang. Banyak pesanan. Kamu sudah pegang jadwal.”
Nara menggenggam ujung bajunya.
“Pak, kondisinya benar-benar darurat. Saya mohon…”
Ia belum selesai bicara ketika pria itu menghela napas pendek.
“Saya mengerti, tapi saya tidak bisa izinkan kamu pergi sekarang. Kamu itu karyawan baru di sini. Belum genap satu tahun kamu bekerja di sini.”
Kalimat itu membuat dunia Nara runtuh perlahan.
“Pak… Ibu saya mungkin tidak punya banyak waktu,” ucapnya lirih, hampir seperti berbisik.
Namun jawabannya tetap sama.
“Maaf. Aturannya begitu.”
Nara masih berdiri terpaku di belakang pintu, menunduk, berusaha menahan air mata yang terus menggenang. Suara mesin kopi, pesanan pelanggan, dan langkah kaki terasa bercampur jadi satu kebisingan yang membuat kepalanya semakin pening.
Tiba-tiba pintu ruang pemilik coffee shop terbuka.
Semua mata refleks menoleh, termasuk Nara.
Raka masuk ke ruangan itu dengan langkah tenang namun tegas. Wajahnya serius, berbeda dari biasanya. Ia menatap pemilik yang tadi menolak Nara, lalu berbicara dengan suara jelas.
“Pak, Nara saya izinkan pulang kampung.”
Pemilik itu terlihat terkejut.
“Pak Raka, Nara karyawan baru di sini, dan kita sedang kekurangan orang. Bapak tahu sendiri…”
Raka memotongnya, suaranya tetap datar tapi penuh wibawa.
“Saya tahu. Tapi keputusan saya tetap. Nara boleh pergi sekarang.”
Nara mendongak, matanya membesar.
“Pak… Bapak…”
Raka menoleh ke arahnya. Tatapannya lembut, jauh berbeda dari nada bicaranya barusan.
“Karena saya di sini juga pemilik coffee shop ini.”
Suasana mendadak hening.
Nara terdiam.
“Aku…,” suara Nara bergetar.
“Aku nggak tahu…”
Raka mengangguk kecil.
“Tidak apa-apa. Sekarang yang penting Ibu kamu.”
Ia menoleh sebentar ke arah karyawan lain.
“Shift Nara besok saya tanggung. Saya yang urus.”
Nara meremas ujung celemeknya. Perasaannya campur aduk. Kaget, bingung, dan lega bercampur jadi satu. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh.
“Terima kasih, Pak Raka,” ucapnya tulus.
“Terima kasih banyak.”
Raka tersenyum tipis.
Raka berdiri di ambang pintu coffee shop, memperhatikan punggung Nara yang semakin menjauh. Langkahnya tergesa, bahunya sedikit gemetar, seolah membawa seluruh beban dunia seorang diri.
Senyum tipis terukir di wajah Raka.
Bukan senyum hangat. Bukan pula senyum simpati. Lebih seperti senyum seseorang yang merasa rencananya berjalan perlahan namun pasti.
“Masuk juga,” batinnya.
Sejak awal, Raka tidak pernah benar-benar kebetulan berada di coffee shop itu. Tidak pula kebetulan memperhatikan Nara lebih lama dari karyawan lain. Ia melihat sesuatu dalam diri perempuan itu. Kerapuhan yang disembunyikan rapi, tanggung jawab yang terlalu besar, dan hati yang mudah merasa berutang budi.
Dan hari ini, ia sengaja membuka kartunya.
Mengungkapkan bahwa dirinya adalah pemilik. Memberi izin di saat Nara paling terdesak. Menjadi “penyelamat” di momen paling genting.