Bab 05 - Orang Kepercayaan

1059 Kata
Raka akhirnya menarik napas panjang. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal, namun ia memaksa dirinya tersenyum tipis. Tanpa mengatakan apa pun pada Nara, ia berbalik dan melangkah pergi. Keputusannya sudah bulat, pulang. Ia tahu, jika ia tetap di sana, emosinya akan benar-benar meledak. Di perjalanan, Raka menyetir dengan diam. Lampu-lampu jalanan seperti berkelebat tanpa arti. Di kepalanya hanya ada satu bayangan. Senyum Nara kepada pria lain. Dadanya terasa sesak, antara cemburu dan ketakutan kehilangan. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia masih memegang kendali, bahwa ia masih bisa bersikap baik dan tenang. Sementara itu, Nara memandang ke arah pintu cukup lama setelah Raka pergi. Ada rasa lega yang tak bisa ia jelaskan. Untuk sesaat, ia bisa kembali bernapas dengan bebas, melanjutkan pekerjaannya tanpa tatapan yang membuatnya gelisah. Namun di sudut hatinya, ada firasat aneh. Kepergian Raka barusan terasa seperti ketenangan sebelum badai. ***** Mobil Raka akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang tinggi berwarna hitam doff. Gerbang itu perlahan terbuka otomatis, memperlihatkan sebuah rumah besar bergaya klasik modern yang berdiri angkuh di tengah lahan luas. Inilah rumahnya. Rumah seorang pria yang dikenal banyak orang sebagai pebisnis sukses, namun di balik itu menyimpan sisi gelap yang hanya segelintir orang tahu. Bangunannya menjulang megah dengan pilar-pilar besar, dinding marmer mengilap, dan lampu gantung kristal yang terlihat jelas bahkan dari luar. Taman di halaman depan tertata rapi, air mancur kecil mengalir tanpa henti, dijaga oleh dua pria bertubuh besar yang berdiri tenang namun waspada. Begitu Raka melangkah masuk, suasana di dalam rumah terasa sunyi namun hidup. Lantai marmer dingin memantulkan cahaya lampu-lampu mahal. Lukisan-lukisan klasik bernilai fantastis tergantung rapi di dinding, berdampingan dengan patung-patung antik dari luar negeri. Setiap sudut rumah seolah dirancang untuk menunjukkan kekuasaan dan kendali. Para asisten rumah tangga bergerak cepat dan teratur. Ada yang bertugas membersihkan lantai, ada yang menyiapkan minuman di dapur besar dengan peralatan serba modern, ada pula yang khusus mengurus keamanan dalam rumah melalui ruang kontrol tersembunyi. Mereka jarang berbicara, bekerja dengan disiplin tinggi, seolah sudah terbiasa hidup di bawah aturan ketat sang tuan rumah. Raka melangkah menuju ruang kerjanya di lantai atas. Ruangan itu dipenuhi rak buku gelap, meja besar dari kayu mahal, dan satu brankas baja tersembunyi di balik panel dinding. Dari jendela besar, kota terlihat kecil dan jauh. Seperti dunia yang bisa ia atur sesuka hati. Di rumah semewah dan setenang ini, Raka kembali duduk sendiri. Wajahnya tampak tenang, namun matanya menyimpan api yang belum padam. Rumah ini adalah kerajaannya, tempat ia merasa berkuasa. Dan di dalam keheningan itulah, pikirannya kembali tertuju pada satu nama yang terus mengusiknya. Nara. “b******k!” bentaknya pelan, lalu semakin keras. Tangannya menyambar vas kristal di atas meja dan melemparkannya ke dinding. Suara pecahan menggema, serpihannya berhamburan di lantai marmer. Itu belum cukup. Raka mendorong kursi kerjanya hingga terbalik, menyapu berkas-berkas penting hingga jatuh berserakan. Buku-buku tebal di rak ia dorong tanpa ampun, satu per satu jatuh dengan bunyi gedebuk yang memuaskan amarahnya. Ia meraih bingkai foto di mejanya. Foto dirinya sendiri dengan setelan mahal. Lalu menghancurkannya ke lantai. Kaca pecah, wajahnya terbelah oleh retakan. Raka tertawa pendek, tawa yang terdengar lebih seperti luapan frustasi daripada kegembiraan. Raka menghantam meja kayu mahalnya dengan tinju, sekali, dua kali. Meja itu tak hancur, namun rasa sakit di tangannya justru membuatnya sedikit tersadar. Ia terengah, bersandar, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Setelah semua barang rusak dan ruangan berubah kacau, Raka akhirnya terdiam. Ia berdiri di tengah kehancuran yang ia ciptakan sendiri. Emosinya memang sedikit mereda, namun yang tersisa hanyalah kehampaan dan satu kesimpulan pahit di benaknya. Selama Nara masih bisa tersenyum pada pria lain, selama itu pula ia tak akan pernah benar-benar tenang. Ia meraih ponselnya dari saku jas, menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan satu nama yang tersimpan tanpa identitas jelas. Panggilan tersambung. “Halo, bos,” suara di seberang terdengar singkat dan patuh. Raka berjalan perlahan ke jendela, memandang kota dari ketinggian. Tangannya gemetar tipis, bukan karena ragu, melainkan karena amarah yang kini berubah menjadi keputusan gelap. “Ada seseorang yang harus diberi pelajaran,” ucapnya datar. “Berikan dia pelajaran berharga. Buat orang itu menghilang dari muka bumi ini. Tapi jangan terlalu cepat menghilangkannya. Buat dia tersiksa terlebih dahulu.” Raka mengirimkan sebuah foto seseorang kepada orang suruhannya itu. Lengkap dengan alamat tempat tinggal target. Di seberang sana tak ada pertanyaan. Hanya jeda singkat, lalu jawaban yang sudah bisa ditebak. “Dimengerti. Akan saya lakukan sesuai dengan perintah, bos.” ”Bagus. Kabarkan secepatnya. Nanti saya berikan perintah selanjutnya.” ”Siap, bos. Laksanakan.” Raka menutup panggilan tanpa tambahan kata. Ia tahu, satu kalimat saja sudah cukup. Di dunianya, perintah tidak pernah perlu penjelasan panjang dan konsekuensi selalu berjalan sendiri. Ia meletakkan ponsel di atas meja yang retak, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Di dalam dadanya, ada rasa lega yang samar bercampur dengan kegelisahan aneh. Untuk kesekian kalinya malam itu, ia duduk dan tersenyum tipis. ***** Sore itu, Nara melangkah pulang menuju kosannya dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari biasanya. Langkahnya pelan, wajahnya cerah. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari ini, ia merasa benar-benar bebas. Tak ada tatapan yang mengawasi, tak ada suara yang menekan, tak ada kehadiran Raka yang membuat dadanya sesak. Ia bahkan sempat tersenyum lebar sepanjang jalan. Sesekali ia menghentikan langkah, menikmati angin sore, merasa hidupnya kembali menjadi miliknya sendiri. Setibanya di depan kosan sederhana itu, Nara menghela napas panjang. Napas lega yang sudah lama tak ia rasakan. ”Akhirnya setelah kehidupanku beberapa hari belakangan ini terasa sangat mencekam, sekarang aku bisa merasakan udara bebas kembali.” Nara teringat dengan janji Raka yang tidak akan membuatnya merasa ketakutan kembali. ”Apa semua ini karena dia benar-benar menepati janjinya? Dia sedang berusaha berubah menjadi lebih baik? Baguslah kalau begitu.” Nara kembali tersenyum. Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Ponselnya bergetar di tangan. Sebuah nomor yang ia sering lihat muncul di layar. Dengan perasaan masih ringan, Nara mengangkat panggilan itu. “Halo?” “Nak Narra. Kamu dimana sekarang?” tanya seorang wanita dari seberang sana. Dia adalah Bude dari Nara atau adik dari sang Ibu. “Iya, Bude. Aku di rumah Bude. Baru sampe kosan. Kenapa, Bude?” Ada jeda singkat di seberang sana, napas berat terdengar. “Ini, Nak. Tapi kamu jangan kaget yaa. Bude ingin memberitahu bahwa Ibu kamu tadi tiba-tiba aja jatuh sakit. Sekarang di rumah sakit dan keadaannya semakin parah.” Senyum Nara langsung menghilang. “Apa? Kok bisa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN