Raka bukan sekadar pria kaya dan tampan. Ia adalah sosok yang berpengaruh, bahkan sebelum orang sempat mengenalnya lebih dekat.
Namanya dikenal di kalangan pebisnis papan atas, pejabat, hingga tokoh penting Ibu kota. Satu undangan darinya bisa membuka pintu yang sebelumnya tertutup rapat. Satu keputusan yang ia ambil mampu mengubah arah sebuah perusahaan, bahkan nasib banyak orang. Ia masih muda, tetapi pengaruhnya jauh melampaui usianya.
Kekayaannya tak hanya terlihat dari mobil-mobil mewah dan properti elit yang ia miliki. Raka menguasai saham di berbagai sektor. Properti, perhotelan, hiburan, hingga media. Ia paham betul bagaimana kekuasaan bekerja. Bukan hanya soal uang, tetapi jaringan, informasi, dan citra.
Ketampanannya membuat orang mudah percaya padanya. Senyum tipisnya, suara rendah yang tenang, dan cara bicaranya yang meyakinkan sering kali membuat lawan bicara lupa bahwa mereka sedang berhadapan dengan pria yang sangat berbahaya jika disakiti. Raka jarang meninggikan suara. Ia tak perlu marah untuk membuat orang tunduk. Cukup dengan tatapan dingin dan kalimat singkat.
Di hadapan publik, Raka dikenal sebagai sosok dermawan dan visioner. Ia sering muncul di acara sosial, menyumbang dalam jumlah besar, dan berbicara tentang masa depan dengan kata-kata indah. Media memujanya. Banyak orang menjadikannya panutan.
Namun hanya segelintir yang tahu, pengaruh Raka dibangun dari kendali yang rapi.
Ia tahu rahasia banyak orang. Ia tahu kelemahan mereka. Dan ia tahu kapan harus bersikap baik atau kapan harus menghancurkan perlahan tanpa meninggalkan jejak. Baginya, dunia adalah papan catur, dan manusia hanyalah b***k yang bisa digerakkan.
Raka terbiasa berada di puncak, dipuja, ditakuti, dan dibutuhkan. Dan ketika ia menginginkan sesuatu atau seseorang, pengaruhnya memastikan satu hal, keinginannya jarang sekali gagal terwujud.
Malam semakin larut. Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari, namun Raka masih terjaga. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela.
Raka menghela napas panjang.
“Kenapa wajahmu terus muncul, Nara…”
Ia menutup matanya sejenak, tapi bayangan itu justru semakin jelas. Tatapan takut Nara kembali menghantam pikirannya.
“Aku berlebihan kemarin,” suaranya rendah, nyaris berbisik.
“Aku tahu itu.”
Tangannya mengepal, lalu perlahan mengendur. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak bangga dengan kekuasaannya sendiri.
“Aku selalu pikir… Orang akan bertahan kalau aku menekan mereka.”
Ia tertawa kecil, hambar.
“Tapi kamu malah semakin takut.”
Raka berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar luas itu. Setiap langkah terasa berat.
“Aku nggak mau kamu melihatku seperti monster.”
Ia berhenti di depan cermin, menatap pantulan dirinya sendiri.
Hening. Hanya suara napasnya sendiri. Raka menunduk, ia mengangkat wajahnya lagi, tatapannya kali ini lebih tegas. Bukan dingin, tapi penuh tekad.
“Aku harus berubah.”
Ia mengangguk pelan pada dirinya sendiri.
“Aku harus belajar sabar… Belajar lembut. Supaya Nara merasa nyaman di sampingku.”
Raka menarik napas dalam-dalam, seolah menenangkan sesuatu di dadanya.
Untuk pertama kalinya, senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum penguasa, melainkan senyum seseorang yang sedang berusaha.
“Aku akan dapetin hatimu, Nara.”
Ia menatap langit malam di luar jendela.
Malam itu, Raka akhirnya merebahkan diri. Dan meski tidurnya masih gelisah, satu hal sudah pasti. Tekadnya untuk berubah bukan lagi sekadar keinginan, melainkan keputusan.
*****
Keesokan paginya, suasana terasa berbeda bagi Nara.
Ia berdiri di depan kosannya lebih lama dari biasanya, sesekali melirik ke ujung jalan. Tidak ada mobil hitam mewah. Tidak ada sosok Raka yang biasanya muncul dengan wajah dingin dan tatapan mengawasi.
Nara mengernyit pelan. Dalam hatinya muncul tanda tanya.
“Dia ke mana?”
Namun anehnya, bersamaan dengan rasa heran itu, ada perasaan ringan yang perlahan mengalir di dadanya.
Nara menarik napas dalam-dalam.
“Dia nggak datang…,” ucapnya dalam hati.
Bibirnya terkatup rapat, lalu tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat. Bukan senyum lebar, lebih seperti lega.
“Aku… Bebas pagi ini,” ucapnya lagi di dalam hati.
Ia melangkah pergi, menyusuri jalan kecil yang sudah sangat ia kenal. Pagi itu udara terasa lebih sejuk. Langkah kakinya ringan, tidak terburu-buru, tidak dibayangi rasa takut. Ia bisa berhenti sejenak membeli roti di warung kecil, bisa berjalan sambil menikmati suara kota yang mulai sibuk.
Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari, Nara merasa pagi ini adalah miliknya sendiri.
Nara terus melangkah menuju tempat kerjanya. Matahari pagi menyentuh wajahnya, dan untuk sesaat, ia lupa pada rasa takut yang selama ini menghantuinya.
Ia belum tahu bahwa ketidakhadiran Raka pagi itu bukanlah awal dari kepergian, melainkan awal dari perubahan.
*****
Siang itu, Nara sedang sibuk melayani pelanggan. Tangannya bergerak cekatan, wajahnya terlihat lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. Sesekali ia tersenyum kecil. Senyum yang muncul karena rasa lega, bukan keterpaksaan.
Namun ketenangan itu runtuh perlahan ketika pintu kafe terbuka.
Langkah kaki yang familiar terdengar.
Nara menegang.
Ia mengangkat wajahnya, dan di sanalah Raka berdiri. Setelan gelap rapi seperti biasa, tubuh tinggi dan tegap. Namun ada sesuatu yang berbeda. Wajahnya tidak dingin, tidak tajam. Tatapannya tenang, nyaris hati-hati.
Raka tidak langsung mendekat. Ia memilih duduk di sudut kafe, tempat yang tidak terlalu mencolok. Tangannya terlipat rapi di atas meja. Tidak ada gestur menguasai, tidak ada sorot mata menekan.
Nara memperhatikannya dari balik meja kasir, jantungnya berdegup cepat.
“Dia datang… Tapi kenapa rasanya beda?” pikir Nara.
Waktu terus berjalan. Nara tetap fokus pada pekerjaannya dan Raka masih terduduk menikmati kopi susunya yang ia pesan tadi.
Sore itu hampir berganti malam ketika pintu belakang tempat kerja Nara terbuka. Seorang karyawan pria masuk sambil mengenakan seragam kerja. Wajahnya masih segar, tanda ia baru datang untuk shift sore.
Ia langsung melihat Nara di dekat meja kasir.
“Eh, Nara. Kamu masuk dari pagi, ya?” sapanya.
Nara menoleh.
“Iya. Kamu baru masuk?”
“Iya, gantian shift. Aku masuk siang.”
Ia tersenyum ramah.
Nara membalas dengan senyum manis, senyum kecil yang muncul alami tanpa ia sadari.
Di sudut ruangan, Raka melihat semuanya.
Dadanya langsung terasa panas. Ada rasa menusuk yang cepat menjalar. Campuran cemburu dan kepemilikan yang hampir bangkit. Tatapannya mengeras sesaat ketika melihat senyum Nara tertuju pada pria lain.
Tangannya refleks mengepal.
Namun kali ini… Raka tidak bergerak.
Ia menunduk perlahan, menarik napas panjang, menahannya beberapa detik, lalu menghembuskannya pelan.
“Ini hanya senyum. Dia tidak salah apa-apa,” ucapnya dalam hati.
Ia mengangkat wajahnya kembali, memaksa ekspresinya tetap tenang. Tidak ada langkah mendekat. Tidak ada sorot mata mengintimidasi. Ia memilih duduk diam, menjaga jarak.
Di sisi lain, percakapan mereka singkat.
“Kalau capek, nanti aku bantu beresin, ya.”
“Makasih, ya.”
Senyum itu muncul lagi. Singkat, sopan.
Raka merasakan dadanya kembali menghangat, tapi ia menahan diri lebih kuat kali ini. Ia menyilangkan jari-jarinya, menekan telapak tangannya sendiri agar tetap terkendali.
“Kalau aku marah sekarang… Semua usahaku sia-sia,” batinnya.
Beberapa saat kemudian, Nara melirik ke arah Raka. Tatapan mereka bertemu. Raka tidak menunjukkan kecemburuan, tidak pula dingin seperti biasanya. Ia hanya mengangguk kecil.
Sikap sederhana itu membuat Nara terdiam sesaat. Ada rasa heran di wajahnya karena Raka yang ia lihat sore ini berbeda.
Dan bagi Raka, menahan emosi hari itu adalah kemenangan kecil. Kemenangan yang ia harapkan bisa menjadi langkah pertama untuk benar-benar mendapatkan hati Nara. Bukan dengan rasa takut, melainkan dengan sedikit kesabaran.