Bab 03 - Ambisi Mengalahkan Logika

1109 Kata
Sejak malam itu, hidup Nara tak lagi sama. Raka benar-benar menepati ucapannya. Setiap hari ia menjemput dan mengantar Nara, tanpa pernah absen. Raka mulai mengatur semua hal kecil dalam hidup Nara. Jam berangkat kerja, jam pulang, bahkan cara berpakaian. “Baju itu terlalu menarik perhatian,” katanya suatu pagi. “Pakai yang ini saja.” Hari itu coffee shop sedang cukup ramai. Musik mengalun pelan, aroma kopi memenuhi ruangan. Nara berdiri di balik bar seperti biasa, berusaha menjalani harinya seolah hidupnya masih normal. Seorang pelanggan pria berdiri di depan bar, memesan kopi dengan sopan. Saat Nara menyerahkan pesanannya, pria itu mengucapkan terima kasih sambil tersenyum ramah. Refleks, Nara membalasnya dengan senyum kecil. Senyum profesional, tanpa makna apa pun. Namun dari sudut ruangan, Raka melihat semuanya. Senyuman Nara itu menusuk kepalanya seperti jarum. Wajah Raka langsung mengeras. Cangkir di tangannya diletakkan kasar di atas meja. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan melangkah cepat menghampiri bar. Langkahnya berat, penuh amarah yang ditahan. “Nara,” panggilnya tajam. Nara menoleh. Jantungnya langsung berdegup kencang saat melihat ekspresi Raka yang jelas tidak baik-baik saja. “Kamu kenal dia?” tanya Raka, menunjuk pelanggan pria yang sudah berjalan menjauh. “Itu hanya pelanggan,” jawab Nara berusaha tenang. “Kamu tersenyum padanya,” suara Raka menekan, rahangnya mengeras. “Aku tidak suka itu.” Beberapa pelanggan mulai melirik. Suasana di sekitar bar terasa tegang. Nara menelan ludah, menurunkan suaranya. “Itu pekerjaanku. Tolong jangan buat keributan.” Kalimat itu justru membuat Raka semakin terbakar. “Pekerjaan?” ia tertawa pendek tanpa humor. “Atau kamu memang suka cari perhatian?” Nara tidak menjawab. Tangannya gemetar saat ia meraih lap untuk mengelap meja. Usaha kecil untuk menenangkan diri. Raka mendekat lebih jauh, terlalu dekat. “Aku sudah bilang,” ucapnya dingin, “kamu tidak boleh seperti itu ke laki-laki lain.” Tatapan mereka bertemu. Untuk pertama kalinya, Nara tidak langsung menunduk. Ada ketakutan di matanya, tetapi juga kelelahan yang dalam. “Aku tidak melakukan kesalahan apa pun,” katanya pelan namun tegas. Kata-kata itu membuat Raka terdiam sesaat. Beberapa pasang mata kini benar-benar memperhatikan. Raka sadar, ia sedang kehilangan kendali di tempat umum. Raka melangkah mendekat dengan wajah dingin, matanya menajam ke arah costumer pria itu. Tanpa senyum, tanpa basa-basi. “Pak, silakan pergi,” ucapnya singkat namun tegas. Costumer itu terkejut. “Maaf? Ada apa ya? Saya belum selesai pesan.” Raka memotong cepat, suaranya meninggi sedikit. “Kafenya mau tutup lebih cepat hari ini. Silakan ke kasir.” Nara yang berdiri di samping mesin kopi membeku. Alisnya berkerut, bingung sekaligus canggung. “Pak… Belum tutup. Masih jam—” Raka menoleh padanya. Tatapannya lembut hanya sesaat, lalu kembali keras ketika mengarah ke costumer itu. “Aku yang urus.” Nada suaranya tak memberi ruang bantahan. Costumer pria itu menghela napas, menatap Nara seolah meminta penjelasan. Nara hanya bisa tersenyum kaku, penuh rasa bersalah. Akhirnya, pria itu berdiri, meraih jaketnya, dan pergi dengan langkah kesal. Pintu kaca tertutup. Bel kecil berbunyi nyaring. Terlalu nyaring bagi Nara. “Kenapa kamu lakukan itu?” tanya Nara pelan, berusaha menahan getar di suaranya. Raka mendekat. Senyumnya kembali muncul, tipis dan dibuat-buat. “Aku cuma nggak suka caranya dia lihat kamu.” “Itu pelanggan,” jawab Nara. “Dia nggak salah apa-apa. Aku juga tersenyum karena di sini bukannya kita harus ramah ke semua costumer?.” Raka tertawa kecil, seolah itu lelucon yang tak perlu diperdebatkan. “Masalahnya bukan dia salah atau nggak. Aku cuma nggak mau ada yang bikin kamu senyum seperti itu.” Nara terdiam. Ada perasaan tidak nyaman yang merayap di dadanya. Senyum yang tadi terasa ringan, kini seperti kesalahan besar. Ia menunduk, kembali merapikan gelas-gelas, mencoba mengakhiri percakapan. Raka menatapnya lama. Di balik wajah tenangnya, cemburu itu mengendap pelan, dalam, dan berbahaya. Baginya, senyum Nara bukan milik dunia. Itu hanya miliknya. Raka tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Nara dengan keras. Terlalu keras. Kukunya menancap di kulit Nara hingga membuatnya meringis pelan. Dan darah di tangannya mulai menetes. “Pak… Sakit,” bisik Nara, mencoba menarik tangannya. Namun Raka justru mendekat, menundukkan wajahnya hingga hanya mereka berdua yang bisa saling mendengar. Senyumnya masih ada, tapi matanya kosong, dingin, menekan. “Dengerin aku baik-baik,” ucapnya rendah. “Kamu nggak boleh bersikap manis ke pria lain. Senyum, tatapan, perhatian kecil itu… bukan buat mereka.” Nara menelan ludah. Dadanya sesak. “Aku cuma kerja. Itu tugasku—” Genggaman itu menguat lagi, membuat Nara terdiam. “Jangan bantah,” potong Raka. “Aku nggak suka diulang.” Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Nara. Suaranya nyaris seperti bisikan penuh kepemilikan. “Kalau aku lihat kamu ulangi lagi… Aku nggak akan sebaik ini.” Nara mengangguk pelan, lebih karena takut daripada setuju. Tangannya bergetar. Baru setelah itu Raka melepaskan genggamannya, seolah tak terjadi apa-apa. Nara mundur satu langkah. Wajahnya pucat, napasnya tidak beraturan. Matanya tak lagi berani menatap Raka. Lebih sering menunduk, seolah tubuhnya sudah lebih dulu belajar untuk waspada. Raka menangkap perubahan itu. Seketika wajahnya berubah panik. “Nara…,” suaranya melembut drastis. Ia melangkah mendekat, lalu tanpa diduga Raka berlutut di hadapan Nara. Lantai kafe yang dingin tak ia pedulikan. Beberapa karyawan melirik heran, tapi Raka tak menggubris siapa pun. “Maafin aku,” katanya cepat, suaranya bergetar. “Aku khilaf. Aku kebawa emosi. Aku salah.” Nara terkejut. Tangannya refleks ditarik ke belakang. “Pak, tolong berdiri… Malu dilihat orang-orang.” “Aku nggak peduli,” potongnya. “Yang penting kamu jangan takut sama aku dan kamu mau maafin aku.” Ia menatap Nara dengan mata berkaca-kaca, ekspresi penuh penyesalan. “Aku cuma terlalu sayang sama kamu. Aku nggak bisa mikir kalau kamu dekat sama pria lain. Tapi aku janji… Aku nggak akan ulangi lagi. Demi apa pun.” Nara terdiam. Kata-kata itu terdengar tulus, terlalu tulus. Hatinya yang lelah dan rapuh mulai goyah. Ia tak pernah punya siapa-siapa di kota ini. Dan di hadapannya, ada seseorang yang kini tampak hancur hanya karena dirinya. “Aku… Cuma kaget,” ucap Nara pelan. “Aku takut.” Raka menggeleng cepat. “Jangan takut. Aku nggak akan sakiti kamu. Tadi itu salahku. Aku benci diriku sendiri karena bikin kamu kayak gini.” Ia berdiri perlahan, menjaga jarak, seolah ingin menunjukkan bahwa ia aman. Tangannya terulur ragu, tapi tak menyentuh Nara. “Percaya sama aku sekali ini saja,” katanya lembut. “Aku janji.” Nara mengangguk kecil. Bukan karena benar-benar yakin, melainkan karena ingin suasana kembali tenang. Raka pun tersenyum lega, seolah baru saja diselamatkan dari kehancuran. Namun di balik senyum dan janji itu, ada sesuatu yang tak Nara lihat. Rasa takut Raka bukan karena menyesal, melainkan karena hampir kehilangan sesuatu yang ia anggap miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN