Bab 02 - Rencana Licik Raka

1263 Kata
Raka melangkah lebih jauh. Ia tak lagi hanya menjadi pelanggan yang rutin datang, melainkan mulai masuk ke lingkaran pengambil keputusan. Ia menemui pemilik coffee shop itu secara langsung. Seorang pria paruh baya yang lelah menghadapi persaingan bisnis Ibu kota. Raka datang dengan penampilan rapi, pembicaraan yang terukur, dan tawaran yang terdengar terlalu menguntungkan untuk ditolak. “Saya tertarik bekerja sama dengan Anda,” kata Raka santai. “Konsep coffee shop ini punya potensi besar. Tapi perlu dirapikan. Dari segi pelayanan, efisiensi, dan… Citra.” Pemilik coffee shop itu mendengarkan dengan serius. Raka berbicara tentang investasi, suplai biji kopi, bahkan kemungkinan membuka cabang baru. Semua dibungkus dengan istilah bisnis yang terdengar profesional dan masuk akal. Kepercayaan pun mulai terjalin. Sejak saat itu, Raka leluasa keluar masuk. Pendapatnya didengar. Sarannya dipertimbangkan. Perlahan, ia mulai menyelipkan kalimat-kalimat licik. “Pelanggan lebih nyaman dilayani karyawan perempuan,” ucapnya suatu hari. “Atau mungkin tim pria bisa dialihkan ke cabang lain. Biar lebih seimbang.” Awalnya hanya satu orang. Dipindahkan dengan alasan performa. Lalu dua orang berikutnya, kontrak tak diperpanjang, disusul alasan klasik, efisiensi biaya. Satu per satu, karyawan laki-laki menghilang dari coffee shop itu. Nara merasakannya paling jelas. Rekan kerja yang biasa menemaninya saat shift malam tak lagi ada. Tak ada lagi canda ringan di sela-sela kerja. Tak ada lagi yang mengantarnya sampai halte ketika hujan turun. Coffee shop itu terasa berbeda. Lebih sepi, lebih sunyi. Kini, hampir seluruh karyawan yang tersisa adalah perempuan. Dan Nara… Selalu ditempatkan di bar depan. Di posisi paling terlihat. Raka sering datang, duduk dengan santai, memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat Nara bekerja tanpa perlindungan sosial yang dulu tanpa sadar dimilikinya. Tak ada lagi laki-laki yang berdiri terlalu dekat. Tak ada lagi yang bisa menjadi penghalang. Di dalam kepalanya, Raka merasa semuanya berjalan sempurna. Sementara itu, Nara mulai merasa terjebak. Ia tak bisa menolak perubahan itu. Ia butuh pekerjaan itu. Ia butuh uang untuk Ibunya di kampung. Setiap kali ia ingin bertanya, selalu ada rasa takut. Takut dianggap bermasalah, takut kehilangan satu-satunya sumber penghasilan. Dan Raka tahu itu. Suatu sore, saat coffee shop hampir tutup, Raka berdiri di dekat bar. “Sekarang tempat ini jauh lebih tenang, ya,” katanya ringan. Nara hanya mengangguk, jantungnya berdetak tak nyaman. Raka tersenyum tipis. “Tenang itu baik. Apalagi buat kamu.” Kalimat itu membuat Nara merinding. Ia baru menyadari satu hal yang mengerikan. Raka tidak hanya menjauhkan orang-orang dari sekelilingnya. Ia sedang membangun dunia di mana Nara berdiri sendirian. Dan di dunia itu, Raka menempatkan dirinya sebagai satu-satunya yang berkuasa. ***** Obsesi Raka tumbuh tanpa kendali. Seperti api yang tak lagi bisa dipadamkan. Semakin sedikit orang di sekitar Nara, semakin kuat keinginannya untuk menguasai hidup wanita itu sepenuhnya. Ia mulai datang setiap hari. Jika pagi ia muncul sebentar, sore ia kembali. Jika Nara libur, ia akan duduk lebih lama keesokan harinya. Seolah ingin menebus waktu yang hilang. Tatapannya tak lagi disembunyikan. Terang-terangan, menekan, membuat Nara merasa setiap geraknya diawasi. Raka tak lagi puas hanya melihat dari jauh. Ia mulai ikut campur dalam hal-hal kecil. Malam itu hujan turun rintik-rintik, membuat udara di sekitar coffee shop terasa semakin dingin. Nara baru saja menggantung celemeknya ketika Raka kembali berdiri di hadapannya, seolah memang telah menunggu saat itu. “Aku antar pulang,” ucap Raka, suaranya terdengar tegas, bukan lagi tawaran. Nara menggeleng cepat. “Tidak perlu. Saya bisa pulang sendiri.” Raka melangkah mendekat, membuat jarak mereka semakin sempit. “Kamu jangan keras kepala.” Nara mengangkat wajahnya, berusaha terlihat kuat meski jantungnya berdegup kencang. “Aku sudah bilang tidak.” Penolakan itu membuat ekspresi Raka berubah. Senyumnya lenyap, digantikan sorot mata yang gelap dan dingin. Ia menghela napas pelan, lalu berkata dengan nada rendah namun menusuk. “Kamu tahu,” katanya perlahan. “Ibumu sekarang tinggal sendirian di kampung.” Tubuh Nara langsung menegang. “Rumah kayu di ujung desa, dekat sawah,” lanjut Raka santai, seolah sedang membicarakan hal sepele. “Akses jalannya sepi. Kalau malam, tidak banyak orang lewat.” Wajah Nara memucat. “Apa maksudmu?” suaranya hampir tak terdengar. Raka menatapnya lurus. “Jangan buat aku marah, Nara. Aku tidak ingin ada yang terluka.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan dingin. “Terutama Ibumu.” Dunia Nara seakan runtuh seketika. “Bagaimana kamu—” Nara terdiam, tenggorokannya tercekat. Raka tersenyum tipis, penuh kepuasan. “Aku tahu semuanya. Kampungmu. Ibumu. Aku tahu alamat kosanmu. Aku tahu Ayahmu sudah meninggal. Aku tahu kamu satu-satunya harapan keluargamu.” Air mata Nara menggenang, namun ia menahannya mati-matian. Rasa takut merayap cepat, dingin, dan melumpuhkan. Ancaman itu bukan omong kosong. Cara Raka berbicara terlalu tenang untuk sebuah gertakan. “Kamu tidak punya hak—” suara Nara bergetar. “Aku punya banyak hak,” potong Raka cepat. “Selama kamu bekerja di sini. Selama kamu masih sendiri.” Nara mundur selangkah, tubuhnya gemetar. Untuk pertama kalinya sejak ia merantau ke Ibu kota, ia merasa benar-benar tak berdaya. Bukan karena dirinya, melainkan karena Ibunya. Raka menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah Nara. “Jadi sekarang pikirkan baik-baik,” bisiknya. “Aku antar pulang malam ini. Dan kita anggap semuanya baik-baik saja.” Nara menutup mata sejenak. Di dalam kepalanya, wajah Ibunya terlintas. Senyum lelah yang selalu ia rindukan, suara yang selalu berkata agar Nara kuat. Saat ia membuka mata kembali, ketakutan itu belum hilang. Tapi di baliknya, ada sesuatu yang mulai menyala perlahan. Tekad untuk bertahan dan melawan. Karena Nara sadar, jika ia menyerah malam ini, maka ancaman Raka tak akan pernah berhenti. Dan untuk pertama kalinya, ia tahu, ini bukan lagi tentang dirinya seorang. Ini tentang menyelamatkan satu-satunya keluarga yang ia miliki. Akhirnya, dengan tubuh gemetar dan hati yang penuh ketakutan, Nara mengangguk pelan. “Iya… Antar saja,” ucapnya lirih, hampir tak bersuara. Raka tersenyum puas. Ia membuka pintu mobil mewahnya, mempersilakan Nara masuk seolah ia adalah pria paling perhatian di dunia. Sepanjang perjalanan, suasana terasa mencekik. Hanya suara mesin mobil dan lampu-lampu kota yang berkelebat di balik kaca jendela. Raka beberapa kali melirik Nara. “Kamu diam saja,” katanya ringan. Nara tak menjawab. Ia memilih menatap keluar, menggenggam tasnya erat-erat, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan kosan kecil tempat Nara tinggal. Bangunan tua yang kusam itu tampak semakin rapuh jika dibandingkan dengan mobil mewah yang terparkir di depannya. Raka turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Nara. “Besok aku jemput lagi,” katanya santai, namun nadanya terdengar seperti perintah. “Jangan bikin aku menunggu.” Nara berdiri terpaku. Bibirnya terbuka, tapi tak ada satu kata pun yang keluar. Ia hanya mengangguk lemah. Raka menatapnya sejenak, lalu masuk kembali ke mobil. Mesin dinyalakan, dan dalam hitungan detik, mobil itu melaju pergi, meninggalkan Nara sendirian di depan kosannya. Nara masih berdiri beberapa saat, kakinya terasa berat untuk melangkah. Setelah memastikan mobil itu benar-benar menghilang dari ujung jalan, barulah ia masuk ke dalam kosannya dan mengunci pintu rapat-rapat. Begitu pintu tertutup, tubuh Nara runtuh. Ia bersandar di pintu, air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ditahan. Tangannya gemetar, napasnya tersengal. Ancaman Raka terus terngiang di kepalanya. Ia berjalan tertatih ke kasur tipisnya, duduk sambil memeluk lutut. Kamar sempit itu terasa semakin menyesakkan. Untuk pertama kalinya, kosan yang selama ini menjadi tempat perlindungan terasa seperti kurungan. Namun di balik tangis dan ketakutan itu, Nara mengusap wajahnya perlahan. Matanya memerah, tapi sorotnya berubah lebih tajam, lebih sadar. “Aku tidak boleh menyerah,” bisiknya pada diri sendiri. Karena Nara tahu, mulai malam ini, setiap langkahnya akan diawasi. Dan jika ia ingin melindungi Ibunya, ia harus segera menemukan jalan keluar sebelum Raka benar-benar mengambil alih hidupnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN