"Aaargh," pekik Tania ketika aku menarik tangannya, lalu tanpa sengaja mendorongnya. Orang-orang di sekitar kami terperanjat, membuat suasana restoran cepat saji menjadi tegang. Suara-suara di sekitar kami tiba-tiba menjadi sunyi, sementara semua mata tertuju pada adegan pertengkaran antara aku dan Tania. Wanita itu terlihat marah dan berpura-pura terluka, sementara aku masih berdiri dengan emosi yang memuncak. Orang-orang di sekitar kami berbisik-bisik, merekam adegan pertengkaran kami dengan ponsel mereka. "Dewa, kamu kenapa diam saja! Lihat dia berusaha menganiayaku," ucap Tania, mungkin mengira Dewa masih mencintainya dan membelanya. Dewa kemudian berdiri, merangkul bahuku dengan mesra. "Tania, Kirana istriku wajar dia marah saat ada wanita lain memeluk suaminya," balas Dewa dengan

