Mita memasuki kamarnya dengan derap langkah kaki yang gontai. Dia duduk di tepi ranjang tanpa menyalakan lampu kamar itu. Hanya ada secercah cahaya bulan yang menerobos masuk dari balik tirai jendela. Mita duduk termenung dalam kegelapan. Suara helaan napasnya terdengar sesak. Bagaimana tidak, saat ini dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Mita tidak tahu kenapa Daffa bisa babak belur. Dia juga belum tahu bagaimana keadaannya. Kehidupannya sehari ini bagai berada dalam roller coaster yang mengempas. Baru tadi siang dia merasa sangat bahagia karena sudah mengunjungi kampus dan juga bertemu dengan teman masa kecilnya Damar. Mita baru saja bersemangat menyambut kehidupan barunya sebagai seorang mahasisi. Tadinya dia sudah tak sabar ingin membagikan apa yang sudah di