Setelah Firman, dan Widodo pergi. "Jadi dia yang membuat kamu menangis hari itu?" Tanya pria itu yang tak lain adalah Al. "Iya. Terima kasih ya, Paman. Dia itu muka tembok, sudah ditolak masih saja memaksa. Laki-laki tidak punya harga diri. Eh, iya ini Paman yang bayar ya, kemarin kalah tuh nggak bisa cabut singkong!" ujar Zizi. Ia menunjuk bakso di hadapannya. "Beres, mau tambah?" Tawar Al. "Boleh!?" Mata Zizi menatap Al yang duduk di sebelahnya. "Iya, Zizi boleh makan sekenyangnya." Al tersenyum. Kepalanya mengangguk. "Benar ya!?" "Iya, asal dihabiskan." "Mang, Zizi tambah pentol sama tetelannya seporsi ya!" Zizi memanggil pemilik warung. "Siap, Zi!" Zizi mendekati pemilik warung, menunggu bakso yang ia minta. Dua orang pengamen masuk ke dalam warung bakso. Satu orang lelaki d