Rafi Sinar matahari yang terasa lembut, menyapaku dari jendela yang terbuka. Aku menggeliat, coba merelaksasi otot-otot tubuhku yang masih pegal. Selesai mandi, aku keluar kamar mencari sesuatu untuk dimakan. Mataku langsung saja terpaku pada keriuhan dan ramainya orang hilir mudik menyiapkan acara untuk esok. Mendadak, d**a kiriku terasa bagai terpilin. Akhirnya hari itu akan datang juga, hari di mana Suci resmi menjadi milik lelaki lain. Kupaksakan kakiku ke arah dapur, mencari sosok mama atau siapapun yang bisa kumintai makanan. “Eh anak mama akhirnya bangun juga, sini, sarapan dulu.” Aku heran kenapa mama bisa bersikap biasa saja padahal tahu pasti kondisi hatiku. “Raf, jam berapa sampai sini?” tanya bude Izzah saat aku cium punggung tangannya. “Hampir jam sebelas malam Bude, kem