DUA PULUH.

1000 Kata
PLANNING KEDUA. "Jadi karena dia mau resign. Kamu galau gitu?" tebak David lagi. Samuel menjatuhkan kepalanya di pundak David. Seakan dia menjadi anak anying yang baik. David mengusap-usap rambut Samuel. Samuel sudah habis ide. Dia pikir setelah pulang ke tanah air, Yulia bakal senang, dan kembali memeluknya. Ternyata dugaan itu salah. Dia memang tidak kaget banget kalau Yulia sudah punya anak satu. Ya pasti anak itu hasil cinta mereka berdua. "Masih ada solusi biar dia gak jadi resign," ucap David. Samuel butuh sandaran akhirnya mendapat ide yang sangat bagus banget. "Kenapa kamu gak dari tadi sih kasih solusi!" David shock dapat pukulan yang anying banget. Sepertinya dia memang harus cuti panjang. Lama-lama seluruh tulang retak karena pukulan mendadak. "Kayaknya aku butuh cuti panjang," kata David pelan. Dia masih menahan sabarannya. "Kenapwhy?" timpal Samuel, malah sok bloon. David beranjak dari duduk, kemudian mengacak pinggang. Mungkin sudah saatnya dia mengeluarkan semua unek-unek selama enam tahun bersama pewaris tunggal. "Kenapa lagi kamu bilang? Enam tahun aku menjadi pengikut kamu. Setiap apa yang kamu bicara mengajak aku ngobrol. Pastinya aku salah melulu menjawab dari segala pertanyaan. Aku butuh biaya pengobatan. Untuk memeriksa seluruh tulang. Kayaknya ada beberapa tulang yang retak setiap kamu pukul," terang David. Samuel yang dengar sambil menutup wajah dengan koran. Karena air liur David muncrat keluar. Selama ini Samuel tidak merasa, dia malah lakukan sewajarnya. "Memang separah itu kah? Hingga harus di periksa? Kayaknya aku lihat kamu baik-baik saja. Apalagi waktu antar cewek norak itu pulang dari mall?" tuding Samuel. "Itu ..., itu juga dia minta. Kamu kemana memangnya? Masa aku harus jawab, itu bukan tugas aku buat antar jemput. Aku itu hanya menerima perintah dari tuan muda, begitu?" "Gak juga, ya, segimana kamu menolak, lah," ujar Samuel. Beranjak juga dari duduknya. Buat siap kembali masuk ke kamar. Udara malam hari tidak bagus buat tubuh seperti dia. Bukan karena takut sakit. Memang dia tidak suka udara seperti yang menghalau galau. David mengakukan kedua tangan, ingin sekali mencekek pewaris tunggal itu. Samuel menoleh, David menurunkan tangan seakan tidak ada yang aneh. "Kalau mau membunuh aku, lebih baik kamu pikir dulu," ucap Samuel senyum bagaikan iblis. *** Di balkon, Hardi tengah duduk sambil menatap langit tanpa bintang. Udara pun mulai terasa dingin di kulitnya. Dia minum segelas teh hangat, kemudian duduk menatap dengan rasa hampa. Namun di balik cahaya rembulan ditutupi oleh awan gelap. Memancarkan bayangan seorang wanita. "Sedikit lagi," gumamnya. Sudah dari tahun ke tahun, Hardi menyimpan rasa pada Yulia. Dia akan membuat penyusunan pendek. Kemudian kesempatan untuk bisa dekat dengan wanita pujaan hatinya. Satu per satu foto kenangan bersama Samuel pun dia hapus. Hanya sisa foto wanita yang tidak bisa berpindah hati mana pun. Meskipun masih cinta bertepuk sebelah tangan, Hardi akan berusaha bisa mendapatkannya. Dua hari nanti mereka akan berlibur ke Danau Toba. Inilah rencana yang akan Hardi lakukan tepat di depan Kesya. Dia akan melamar Yulia. Dia juga sudah menyediakan sebuah cincin. Keseriusan Hardi tidak pernah main-main. Walau ada seseorang mencoba menghalanginya. Rival tetap Rival. Meskipun Samuel lebih unggul, soal hati pasti dia akan kalah. Terdapat sebuah pesan dari seseorang. Nomor tidak di simpan oleh Hardi. Seakan Hardi tau siapa yang mengirim pesan untuknya. +628999347*** Pokoknya aku gak mau tau, kamu harus bisa jauhi wanita itu. +628999347*** Ingat, aku sudah membantu kamu biar lebih dekat dengannya. Sekarang giliran kamu membantuku. Hardi yang membaca pesan itu sepertinya terlihat jengkel sekali. Dia pun dengan santai membalas pesan itu. Walau nomor tersebut makin bete. Hardi Santai dong. Memang kenapa sih? Hardi Lah? Bukannya aku sudah bantu? Memang salah letak aku gk bantu dmn? Menunggu nomor itu sedang mengetik .... +628999347*** Pokoknya ada. Awas klo sampai kamu ingkar janji. Dengan cepat kilat Hardi membalas. Hardi Hahaha .... Janji mana nih? Hardi Jalan ninja mu kurang elit. +628999347**** Rese! Hardi menyudahi chat chat dengan orang itu. Dia segera masuk ke dalam. Sepertinya sudah turun rintik hujan. Di tutup jendela dan penutup golden. *** "Ma, apa benar Om Hardi mau ajak kita ke Danau Toba?" Kesya bertanya. Yulia merapikan selimut dan menarik hingga atas dagu. Dia pun duduk di samping tempat tidur. Sambil merapikan rambut putrinya. "Iya, Sayang. Katanya sih gitu. Kamu kenapa bisa tau? Bukannya kamu lagi di tidur?" jawab Yulia, dan bertanya kembali. "Jelas dengar lah, Mama. Soalnya suara Mama kencang banget. Kayak anak dapat hadiah natalan dari Santa Klaus!" jujur Kesya. "Oh ya?" Kesya mengangguk, Yulia jadi malu kalau sudah diakui sama putrinya sendiri. Habisnya dia terlalu bahagia. Kapan lagi dia bisa ke sana. Sudah berapa tahun sejak dia bertempur kerja mulu. Buat ambil cuti dan liburan saja malas banget. "Tapi, Ma. Om ganteng itu juga ikut gak?" Kesya bertanya lagi. Yulia malah berubah ekspresi, ketika Kesya bertanya soal Samuel. "Kayaknya gak deh. Memang kenapa kalau Om ikut?" Yulia penasaran. Padahal mereka baru ketemu juga dua kali. Itu juga sebentar, kenapa rasa batin mereka itu sudah akrab banget. Dia tidak ingin Kesya terlalu dekat dengannya. Dia tidak akan serahkan Kesya padanya. "Kata Om Hardi, Om ganteng itu dulu satu kuliah sama Mama. Benar Ma?" Ke kepoan Kesya mulai bertanya-tanya. Yulia bukan jawab, dia beranjak dari tempat tidur, mencium kening Kesya, dan segera matikan lampu. "Sudah malam, besok sekolah." "Apa benar Om ganteng itu, calon Papa Kesya?" Yulia berhenti, makin hari Kesya banyak bertanya. Entah siapa yang menceritakan kepadanya. Yang pasti bukan Hardi. Karena Hardi tau bagaimana hidupnya waktu hamil Kesya. Jikalau Samuel yang cerita, tidak heran lagi. Karena Samuel berniat mengambil hak asuh darinya. "Bukan Sayang. Sudah tidur ya, selamat malam." Yulia menutup pintu kamar Kesya. Kesya diam di sana sembari menatap pintu akan tertutup rapat. Setelah pintu itu tertutup sangat rapat. Kesya membuka lampu tidur. Dia mengambil sesuatu di kolong tempat tidurnya. Sebuah foto yang sudah lama banget, terus sebuah buku diary yang masih rapi belum terlihat kusam. Beberapa lembar tertulis sebuah kalimat membuat Kesya mengerti kata itu. Kesya bukan gadis kecil yang bodoh. Dia memiliki otak genius. Di usia empat tahun, Kesya sudah bisa mengeja dan mengingat warna dan huruf ada di jalan raya. Menghitung apalagi dia sudah lincah mengucapkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN