SEMBILAN BELAS.

1076 Kata
PLANNING "Huuuhh! Lega! Ternyata seru juga," seru Yulia. Setelah seharian dia dan Kesya bermain di mall. Seakan dia merasa dua pergelangan tangannya mulai tegang dan kaku. Melampiaskan hal yang patut dicontohkan. Meskipun dia bukan tipe wanita yang kuat. Cara hal itu dia buang kejengkelan pun lepas. Hardi yang melihat Yulia kembali ceria, rasanya dia senang. Dibalik ceria itu masih tersimpan masa lalu. "Sepertinya Kesya kecapekan karena asyik main. Lihat dia tidurnya pun pulas banget, sampai gorok lagi," kata Hardi mengintip lewat kaca depannya. Yulia menoleh. "Karena dia terlalu gembira. Mungkin hari berikutnya dia akan jauh lebih senang lagi. Karena aku akan mengambil cuti beberapa hari. Sejak kesibukan aku, dia tidak pernah merasa dunia seperti teman-temannya." Waktu di mall, Hardi sempat dengar kalau Yulia akan berhenti dari pekerjaannya. "Kamu benar benar akan resign dari pekerjaan?" Yulia malah diam. "Aku gak sengaja mendengar waktu kamu sedang bicara sama dia," kata Hardi kemudian. "Dari kemarin aku memang rencana ingin resign. Tapi karena hal yang belum bisa aku tinggalkan. Mungkin sudah waktu aku pensiun di sana," jawab Yulia menatap luar jalan yang kembali macet. Hardi mengetuk jari di setirnya. "Kalau begitu, kita bisa liburan ke Danau Toba. Aku dengar di sana ada tempat yang bagus. Mumpung sekolah tinggal beberapa hari sekolah mulai libur?" usul Hardi. "Oh ya? Waah, kamu paling akurat sekali soal ini. Aku sendiri tidak tau," puji Yulia. Malam telah tiba, Winda dan pembantu di rumah baru saja menyiapkan makan malam. Yulia baru selesai mandi, sedangkan Kesya masih tidur. Karena kecapekan makanya Yulia tidak berani membangunkannya. Yulia turun tangga, terus dia menuju ke dapur. Ikut bergabung dengan Winda di sana. Winda sedang ambil lauk tauge. Sedangkan Yulia mengambil nasi dan juga lauk ke piring. Sementara pembantunya melanjutkan pekerjaan belum selesai. Tinggal dua wanita di meja makan dengan suasana hening. "Bagaimana acara Kesya di sekolah?" tanya Winda mengopek ikan gembong. "Lancar gak ada halangan apa pun. Malahan acara baca puisi pun di menangkan oleh Kesya," jawab Yulia. "Benarkah? Baguslah kalau Kesya menang perhargaan. Apa benar lelaki itu mau melamar kamu?" sekarang Winda bertanya hal lain. Yulia hampir tersedak duri ikan. "Maksud Mama? Siapa? Hardi?" Winda tidak jawab, sibuk dengan duri tulang ikan yang sangat menjengkelkan itu. "Hardi hanya teman satu angkatan dulu aku kuliah, apalagi aku sama dia itu ..." "Bukan, lelaki yang kemarin datang ke rumah, dan bilang akan menikahi dirimu, serta menjadi calon ayah Kesya?" ucap Winda. Yulia mengira Hardi yang akan melamarnya. Sepertinya Winda menyukai Samuel. Tetapi Yulia tidak menceritakan yang menghamili dirinya itu adalah Samuel. Apalagi Hardi hanya sebagai penjaga kabar-kabar ke Samuel. "Kalau Mama lihat, dia sangat mengenalmu. Apalagi dari cara bicara bahkan sikapnya mempunyai kemiripan dengan Kesya, apa lelaki yang menghamili kamu itu adalah dia?" tebak Winda. Winda memang tidak tau Samuel, Yulia tidak pernah menceritakan tentang seorang lelaki dekat dengannya. Apalagi membahas soal hubungan kasih Yulia paling menutupi. Maka dari itu Winda tidak terlalu peduli, atau cemas. Akan tetapi waktu Yulia tiba-tiba pulang dan mengatakan rindu rumah. Winda tidak merasa curiga sama sekali. Lama-lama rahasia disembunyikan oleh putrinya pun terkuak. Dimulai keanehan Yulia yang sering mual-mual tidak jelas. Winda ingin memaki tentu tidak tega. Setelah mengetahui dirinya hamil. Namun Yulia malah bungkam untuk mengatakan siapa lelaki menghamilinya. "Mana mungkin, mungkin kebetulan saja, gaya apa pun bisa di tiru," elak Yulia.. Winda mengangkat piringnya ke cucian. "Kalau benar juga tidak apa-apa. Waktu kamu temani Kesya ke sekolah untuk hadir acara hari ayah. Lelaki itu sempat telepon. Dia minta maaf karena tidak bisa datang, ada keperluan yang dikerjakan," kata Winda. Menyampaikan pesan itu dari Samuel. Yulia tidak melanjutkan makan malamnya padahal tinggal sedikit lagi sudah selesai. Yulia heran dapat dari mana nomor telepon rumahnya. "Mama jangan terlalu percaya omongan nya. Dia coba ambil hati Mama, dan ...." "Memang kenapa? Mendapatkan menantu seperti dia, buat Mama Oke Oke saja. Dia serius bertanggungjawab. Dapat dari mana lagi coba? Daripada dengan lelaki yang sering cari perhatian, hanya sebagai guru khusus," sambung Winda. Malah dia memuji Samuel, malah menjelekan Hardi. "Mama...." Kesya sudah bangun dengan muka yang jelek banget. Dia turun, kemudian menyusul ke dapur. Yulia menoleh. "Sudah bangun?" Kesya mengangguk, lalu dia menaiki tempat duduk, "Kesya lapar," jawabnya. *** Samuel sedang merenung di kamar sembari mengisap rokok yang sudah berapa batang ada di asbak tersebut. David bergabung dan duduk sambil merebut sisa rokok di meja samping. "Sepertinya ada yang galau," cibir David, dihembuskan asap menyembul sangat tebal dari mulutnya. "Dia mau resign," gumam Samuel. David menoleh antara dia salah dengar atau kaget. Dia tidak terlalu paham perkataan lelaki satu ini. Takut salah jawab, malah nanti disebut lemot banget otak. "Resign? Kamu mau resign dari pewaris tunggal?" tebak David. Dengan cepat Samuel memukul kepala David. Tidak peduli usia David lebih tua. Tetap saja David selalu bikin suasana semakin kacau. "Salah apa lagi sih aku ke kamu?!" sanggah David. Lama-lama dia makin bodoh dibuat anak satu ini. "Makanya otak dipakai, jangan cuman mikir wanita seksi mulu?!" ejek Samuel. David menjemek rokoknya, dia sudah tidak naf'su mengisap rokok tersebut. "Yang ajari aku mikirin wanita seksi itu siapa? Wajar dong aku mikirin wanita daripada kamu? Mikirin dia yang ada kepastian sampai sekarang. Terus katanya kamu mau bawa cucu buat nyonya Siska, mana?" balas David. Samuel melirik David, David juga menantang tatapan putra majikannya. David sudah lelah sih mengikuti jejak Samuel selama bertahun-tahun. Otak kayak dia siapa juga bisa menandingi. Menjadi pewaris tunggal. Tapi, dia masih saja setia dengan pujaan hati. Malahan sebaliknya, si wanita itu sudah lupa dengan Samuel. "Kenapa dia mau resign? Bukannya kamu sudah bilang ke mamanya kalau kamu itu gak bisa datang," ucap David. Kali ini dia serius bercanda pun percuma. Karena Samuel butuh sandaran untuk meringankan galau yang menyerangnya. Enam tahun itu sangat singkat bagi Samuel. Apalagi David ingat bagaimana dirinya terus bertanya kabar pujaannya. David sendiri, yang kewalahan mencari segala informasi wanita itu. Dimulai putus kuliah, karena dia mengalami kehamilan di luar nikah. Alasan mengundurkan diri dari Kampus, fokus pekerjaan. Kemudian David mencari keberadaan di mana wanita itu kerja. Ternyata dia melamar pekerjaan tempat usaha dosen yang mengajar di kampus. Setelah itu, Berhari-hari hingga tahun ke tahun. Itu kegiatan dan pekerjaan melelahkan sebagai pengawas, pemantau mencari segala informasi yang ada menyampaikan kepada majikan satu ini. Melihat wajah Samuel saat mengetahui pujaan hati melahirkan secara normal. Bahkan melihat video rutinitas bagaimana wanita itu merawat dan membesarkan putrinya. Setelah enam tahun perjalanan Samuel, bekerja keras agar bisa kembali ke tanah negerinya dan memberi kejutan pada wanita itu. Tetapi yang didapatkan oleh Samuel adalah ikatan bisnis dengan seorang pengusaha.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN