DELAPAN BELAS

1244 Kata
KEUNEKAN. Tok Tok Tok! Yulia membuka dua matanya, ketika di luar toilet, terdengar suara seseorang. Dia melihat jam tangan, sudah pukul empat sore. Dia ketiduran, hingga kelupaan bawa dirinya masih di sini. Dia pun bergegas keluar, seakan apa yang dia lakukan itu benar benar sangat memalukan. Ketika dia keluar, suara orang yang mengetuk pintu pun terdiam, tapi terdengar suara menyindir. "Ada orang toh!" Yulia mencuci tangan, pastinya Kesya dan Hardi mencari dirinya. Entah kenapa dia merasa hal yang sudah lama tidak perlu diungkit lagi. Saat dia keluar, dia tidak sengaja menabrak seseorang yang juga keluar dari toilet tersebut. Yulia mundur dua langkah, kemudian meminta maaf, dia kembali berjalan namun tangan itu mencekalnya. Dia pun menoleh. Sebuah senyuman yang tidak ingin Yulia ingat. "Kamu di sini juga?" sapanya. "Iya, bawa Kesya jalan-jalan," jawabnya. Samuel lebih mendekat, tapi Yulia malah menghindar. Samuel tau, wanita di depannya belum menerima atas kehadiran yang sudah membuat dirinya terpuruk saat itu. Yulia berusaha untuk tidak membawa suasana. Entahlah, dia merasa akan kalah segala apa pun walau cara dirinya menghindar. Karena Samuel memilih jurus bisa menaklukan hatinya. "Sorry, aku tadi gak bisa datang. Soalnya ...." "Jelas dong orang penting kayak kamu mana mungkin bisa menepati janji," sambung Yulia cepat. Samuel diam, namun dia tetap membantah. "Bukan itu, aku berusaha, tapi...." "Alasanmu gak akan pengaruh untuk Kesya! Kamu gak akan bisa mendapatkan Kesya dari tanganku. Sampai kapan pun, kamu hanyalah orang asing pura-pura sok baik, sok perhatian. Pada akhirnya, kamu akan pergi tanpa merasa beban selama kamu jalani?!" balas Yulia. Selama ini Yulia sudah menahan untuk tidak mengungkap semua kesal pada Samuel, mantan kekasih berengsek seperti dia. Mungkin Yulia sudah lelah. Apalagi dia harus kembali bertemu, dengan cara akan membahagiakannya. "Coba kamu pikirkan kembali, kemana dirimu selama enam tahun? Enam tahun aku harus menjalani rasa beban yang tidak harus aku pikul. Seenak jidatnya dirimu memberikan benih ke rahim, apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun. Bagaimana aku menjalankan hidup seperti orang bodoh. Dicemooh para warga? Masa depanku hancur, jika kamu tidak lakukan secara mena-mena!" Yulia mengungkapkan semuanya, dia sudah muak melihat sikap Samuel super enjoy. Seakan beban itu tidak pernah ada. Bahkan tanpa ada rasa kaget bahwa dirinya telah memiliki seorang putri yang cantik bahkan pintar seperti ayahnya. Sementara Kesya dan Hardi menyusul ke toilet. Mencari keberadaan Yulia. Sudah dua jam Yulia tidak kunjung kembali. Kecemasan mereka pun memutuskan menyusul. "Mama itu kebiasaan Om, kalau ke toilet suka lama-lama. Entah ngapain aja dia Om. Bertelur mungkin, ya, Om?" celoteh Kesya. Hardi hanya diam, mendengar celoteh Kesya. Seakan mengingat Yulia waktu hamil. Hamil tujuh bulan. Seakan dia adalah suami yang paling baik. Menjaga, mengamati, memperhatikan, tetapi dia bukan siapa-siapa Yulia. Mereka hanya sahabatan. Walau sebenarnya Hardi sudah lama menyukai wanita itu. "Itu Mama! Benarkan Mama kalau ke toilet betah banget," cuap-cuapnya. Saat Kesya dan Hardi menghampiri Yulia. Tidak sengaja percakapannya terdengar. Walau Hardi tidak tau dengan siapa Yulia berbicara. "Aku terpaksa, aku..." "Terpaksa? Terpaksa mempermainkan aku? Apa itu yang kamu inginkan? Apa itu cara kamu kelabui wanita lemah seperti aku? Apa karena ini, kamu niat manis, baik, dan sok care di depanku. Agar aku percaya bahwa kamu bukan lelaki di luar sana, begitu?" Yulia mendongak dia tidak akan menangis. "Sekarang aku tanya, apa selama enam tahun itu, kamu yang meminta Hardi untuk menjagaku? Meminta semua anak-anak bungkam atas apa yang terjadi padaku saat aku benar-benar hamil karena kamu? Setelah kamu muncul, dengan tenang kamu menanyakan kabar Kesya. Bertahun-tahun dan berminggu-minggu aku terus memikirkan hal ini," "..., seorang pewaris tunggal. Tentu apa pun bisa dilakukan tanpa tersentuh. Bahkan mereka rela berlutut di depan mu seperti Raja! Memegang segala tatha dan kekuasaan," Samuel tidak menjawab, dia membiarkan Yulia mengeluarkan semua unek-unek ada di benaknya. Samuel sangat mengenal bagaimana sosok wanita di depannya. Berapa kali pun dia mencoba untuk menjelaskan tidak ada gunanya. Karena luka dihati Yulia sangat dalam. Bahkan untuk mencabut kembali belum tentu Yulia bisa memaafkannya. "Mulai besok, aku mengundurkan diri dari perusahaan yang memuakkan itu. Setelah itu, jangan harap kamu bisa melihat Kesya lagi. Bagi aku kamu itu bukan siapa-siapa, kamu hanya manusia asing yang datang tanpa diundang!" Yulia berbalik dan pergi dari tempat itu. Sebelum dia beranjak dari sana. Hardi dan Kesya sudah dari tadi berdiri menatap mereka. Sebaliknya Kesya mendengar pembicaraan mereka. Yulia sempat kaget namun dengan cepat dia bersikap tidak terjadi apa pun. Samuel sebaliknya menatap Hardi. Rasa canggung itu pun kembali menemukan tanpa arti apa pun. "Maaf, tadi aku ketiduran di toilet. Kalian sudah selesai makan?" sapa Yulia pada Hardi dan Kesya. "Mama sama Om tampan uda lama kenal?" tanya Kesya. Yulia kembali melirik Samuel, sebaliknya Samuel juga memandang Kesya. "Gak, hanya kebetulan. Dia saja sok kenal sok dekat. Kamu jangan pernah coba dekatin dia. Dia itu orang gak baik, oh ya, katanya kamu mau ke timezone? Kita pergi sekarang. Sebelum malam. Kasihan nenek sudah lama di rumah menunggu," jawab Yulia. Lalu dia beranjak dari tempat itu. Hardi masih berdiri di sana. Menatap Samuel dalam dunia berantakan. Yulia menoleh, Kesya ingin panggil Hardi. Tetapi Yulia mencegahnya. "Bagaimana kabarmu? Selamat sudah jadi pewaris tunggal. Anak-anak geng SAC pasti senang dengarnya," ucap Hardi memberi pengucapan pada Samuel. Samuel hanya senyum miring kemudian dia mengambil sebatang rokok dan dinyalakan api. Dia juga menawarkan pada Hardi. "Aku gak ngerokok lagi," katanya. Samuel pun memasukan ke kantong bungkusan tersebut. "Aku terlihat gak bersalah sama sekali? Aku berusaha untuk perbaiki semua yang pernah sakiti dia. Apa itu sulit untuk di maafkan?" ucap Samuel. "Menurutmu?" Samuel dan Hardi mencari tempat yang Oke untuk membahas masa lalu mereka. Sedangkan Yulia menemani Kesya bermain di berbagai permainan. Tidak hanya Kesya saja yang main. Yulia juga ikut bermain. Dari kejauhan dua lelaki itu duduk sembari memantau dua perempuan tengah bermain. Samuel suka cara tawa Yulia apalagi sikap tidak pernah dibuat-buat. Bahkan anak kecil itu. Dia ingin sekali memeluk dan mengenal lebih jauh. Akan mustahil dia bisa dekat dengannya. Hardi hanya seorang penjaga dan pelindung. Mungkin Samuel akan mendapat hukuman dari Yulia. "Kejadian waktu aku meninggalkan dirinya dengan seorang diri dan menerima beban yang sangat berat saat dia positif. Itu sangat bahagia buat aku. Tetapi aku tidak bisa kembali sebelum sukses. Namun hal itu malah memberikan aku dua pilihan yang sangat sulit ku pilih," cerita Samuel. Hardi tidak ingin dengar cerita itu. Tapi mungkin dia akan dengar. Walau tekadnya tetap akan melamar Yulia walau Samuel mencoba untuk merebut kembali. "Kembali menjadi keluarga harmonis tidaklah hal mudah untuk aku. Ayahku, tiba-tiba sakit setelah aku tiba di negaranya. Negara yang ingin ku bawa bersamanya. Namun hal itu tidak mungkin. Ketika beliau berpulang, segala waris dimiliki jatuh ke tanganku. Namun hal itu tidak mudah untuk bisa dimiliki selamanya. Saat aku kembali ke negeri tercinta. Ibu mana lagi datang mengenalkan aku dengan wanita tidak aku sukai. Dengan segala ancaman, mau tak mau aku menuruti, seakan aku ini lelaki paling bodoh dan memang pantas menjadi lelaki berengsek," ceritanya. Sedangkan di butik pakaian terkenal. Liona mencari keberadaan Samuel. Lagi-lagi Samuel menghilang tanpa jejak. Apalagi dia sempat menelepon David. David malah duduk santai di warung sambil menyeruput kopi dingin. Sedang asyik nonton di warung keganggu. "Ya, nona Liona?" [ "Samuel ada bersamamu?" ] "Tidak ada nona? Bukannya tuan muda bersama nona?" David mendengar suara decihkan kesal. [ "Ya sudah, kalau gitu," ] Saat David akan matikan ponsel. Kembali terdengar lagi suara Liona. [ "Kamu sedang apa?" ] "Aku? Lagi santai, nona. Ada apa?" [ "Jemput aku di mall, cepat, gak pakai lama?!" ] Panggilan telepon terputus. David menatap ponselnya. Malah menghela. Hari-hari nya tidak pernah bahagia sama sekali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN