Bab 13

1042 Kata
Pagi ini dikediaman Dokter Xavier dihebohkan oleh gadis yang masih memakai kaos oversize sedang bergelut di dapur. Padahal tadi malam gadis itu menangis tanpa henti. ​Para maid pun merasa heran dengan tingkah putri tunggal sang Tuan. Pasalnya mereka baru pertama kali melihat gadis itu berada di dapur sepagi ini. ​"Nona Kaeta ada yang bisa saya bantu?" ​"Gak usah, ini udah mau selesai, Bi," Ucap Kaeta sembari tersenyum manis dan memasukan makanan yang dia buat kedalam kotak bekal. Setelah mahakarya yang dia buat selesai, Kaeta meninggalkan dapur dan menuju kamarnya, tidak butuh waktu lama dia kembali turun menuju ke ruang makan. ​"Morning Dad," Sapanya sambil mencium pipi Xavier. ​Xavier yang sedang membaca artikel di gadget nya langsung mendongak kearah sang putri, pria itu menaikan sebelah alisnya. ​"Astaga Princess, ini masih pagi sayang, dan matamu juga masih terlihat bengkak, kamu gak salah minum obat kan sayang?" Tanya Xavier merasa heran, pasalnya dia semalam menyaksikan sendiri bagaimana sang putri menangis setelah kembali dari apartemen Damian. Kaeta menggelengkan kepalanya. “Aku mau berangkat pagi-pagi Dad, selain ada tugas yang belum aku kerjain, aku juga mau mengucapkan terimakasih pada Daniel, karena selama sudah mengantarkan aku pulang." Jawabnya, Kaeta tidak pernah bisa menutupi apapun pada Ayahnya. Xavier menaikan sebelah alisnya, menatap curiga pada sang putri, sejak kapan Kaeta perduli dengan tugas kuliah, bukankah hanya Damian si petugas Damkar juga pria penuh misterius itu yang selalu ada dalam pikirannya? ​“Aku pergi dulu Dad, Kasihan Zeta pasti udah lumutan nungguin aku." Dia kembali mengecup pipi sang Ayah. Xavier mengangguk. “Hati-hati Princess nya Daddy, jangan lupa sampaikan salam Daddy pada Daniel, okeeeh!" Seru Xavier tersenyum, semoga saja Daniel bisa mengalihkan keinginan Kaeta mengejar Damian. Namun sepertinya sangat mustahil dan Xavier membenci situasi seperti ini. ​“Jangan mulai Dad!!" Teriak Kaeta kesal, Xavier belum mengenal Daniel tetapi malah mendukungnya. ​Kaeta keluar dengan membawa paper bag dan menyimpannya di samping tempat dia duduk. Dia sengaja pergi tanpa diantar oleh sopirnya. Kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya dia sampai di halaman fakultas kedokteran, suasana kampus masih sangat sepi, karena memang masih sangat pagi. Kaeta sengaja memarkirkan mobilnya di dekat biasanya genk Daniel memarkirkan motor mereka, gadis itu turun lalu menuju ke pantai dua. ​ruangan masih sangat sepi, dia melangkahkan kakinya menuju tempat di mana biasanya Daniel duduk, kursi paling belakang dengan meja yang tertempel banyak stiker tidak jelas. Dia meletakan paper bag di atas meja, dan pergi begitu saja ​Setelah beberapa menit penghuni ruangan terlihat berdatangan tidak terkecuali para mahasiswa kedokteran lainnya. Mereka memasuki kelas dengan kejailan, dimana Daniel melihat dua sahabatnya saling dorong. Dan Nicholas dengan tidak tau dirinya menjegal kaki Reyhan yang membuat lelaki itu jatuh kelantai. Mereka sudah mirip dengan anak-anak SD ​"Memang Ajg!!! Si Nico sialan!" ​“Salam pagi Rey!" Sam cekikikan ​"Damn! " Rey bangun sembari melayangkan tinjuan ke udara. ​Daniel pun melangkah mengikuti arah padangnya, dari pada ikutan menjadi gila seperti teman-teman nya itu. Tepat setelah dia sampai alisnya terangkat melihat paper bag diatas mejanya. ​Dia membuka dan menemukan bekal kotak nasi, dan tulisan kecil di atasnya. “Terimakasih" Daniel menarik sudut bibirnya. Kaeta, ya pasti gadis itu. ​Daniel kembali tersenyum melihat note tersebut, dia benar-benar tidak menyangka jika Kaeta akan melakukan ini semua, hanya bantuan kecil saja gadis bar-bar itu bisa bersikap manis. “Wow, apa itu Dan?" Tanya Jordan dia melangkah mendekat. “Dan, isinya apaan, bukalah kita juga penasaran?" “Gak usah pada berisik, ini dari my Princess!' jawab Daniel tersenyum senang. Mereka saling pandang, pasalnya hanya Kaeta yang Daniel sebut sebagai Princess dan itu mustahil jika benar-benar dari Kaeta. “Bos, kita sangat tau, cintamu pada Kaeta itu sudah menjalar ke otak dan ginjal, tapi jangan sampai seperti ini dong, menghalu terlalu tinggi, kami khawatir." Ucap Nico merangkul pundak Daniel. Daniel melirik tajam. “Sam, apa yang aku minta sudah ada?" Sam menganggukkan. “Hmm," Daniel langsung memfokuskan pandangannya, menunggu Sam melanjutkan kalimatnya. “Paman Damian..." “Paman Damian!" Nico terkejut, menutup mulutnya sendiri, mendengar nama Damian saja sudah membuatnya merinding. Sam memutar bola matanya malas, begitu juga dengan Daniel. “Lanjutkan Sam." “Paman Damian sengaja memanggil Kaeta dengan dalih ikannya terkena serangan jantung dan itu hanya modus, sialnya, di apartemen paman Damian ada seseorang wanita panggilan.. " Sam tidak perlu melanjutkan kalimatnya. Tanpa di perjelas pun mereka sudah tau apa fungsinya wanita panggilan itu dan tentunya tangisan Kaeta karena hal itu. “Ikan apa yang terkena serangan jantung?" Reyhan memang sedikit lemot dari tiga temannya. Nico memutar bola matanya malas. “Itu cuma akal-akalan paman Damian aja." Daniel masih diam, tatapannya lurus kedepan, sampai beberapa detik kemudian, dia menarik sudut bibirnya. “Menarik sekali, pamanku ini." “Lebih baik jangan berurusan dengan pamanmu, kita akan terkena masalah." Sahut Nico. Daniel menoleh. “Aku menyukai masalah itu, jika semua tentang Kaeta aku tidak takut." “Benarkah?" Suara berat itu mengejutkan mereka dan langsung menoleh kearah sumber suara. “Paman Damian?" Gumam sahabat Daniel. Damian melangkah masuk tatapannya begitu tajam pada Daniel. “Kau belum juga pergi, Daniel?" Daniel terdiam untuk sesaat, lalu kemudian dia tersenyum. “Kenapa aku harus pergi, Paman?" Tatapan keduanya bertemu saling beradu seakan menunjukkan keberanian masing-masing. Nico dan Reyhan, Keduanya gemetar, lain halnya dengan Sam, dia hampir sama seperti Jordi, santai dan tenang, namun sangat berbahaya. “Aku tidak menerima bantahan dan kau.. " “Paman mengusir ku keluar negeri karena takut kalah saing?" Sela Daniel tersenyum tipis. “Paman takut aku lebih dulu mendapatkan Kaeta?.. Ayolah paman, jangan jari pria yang munafik, melakukan segala cara hanya untuk mempersulit keadaan, katakan kalau memang menyukainya, jangan membuat semua mendapatkan masalah karena caramu yang salah." Damian mengepalkan kedua tangannya, tatapannya masih sangat tajam. “Tidak mudah mendapatkanku dan dia harus berjuang untuk... " “Ck, pria macam apa yang ingin diperjuangkan? jangan membuat kasta seorang wanita menjadi rendah karena ulahmu paman, dan perjuangan seperti apa yang paman inginkan?" Lagi-lagi Daniel menyela. Dia maju satu langkah lebih dekat dengan pamannya. “Kaeta tidak sebanding jika harus bersaing dengan pada wanita marahan di luar sana, dia terlalu berkelas, Paman. Jadi... " Daniel mundur satu langkah dia kembali tersenyum. “Mari kita bersaing secara sehat, gunakan caramu tetapi jangan melukainya ataupun membuatnya menangis sepanjang malam."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN