Bab 12 JP911

1217 Kata
Drt!!! Drtt!! Suara dering ponsel milik Kaeta berbunyi sampai beberapa kali, hingga mengusik tidur nyenyak sang pemilik. Dengan malas Kaeta meraih ponselnya yang terletak di atas meja, tanpa melihat siapa yang menghubunginya di tengah malam seperti ini. “Ada apa?" Ucap Kaeta tanpa membuka matanya, suaranya terdengar berat. “Segera datang ke apartemenku" Jawab seseorang dari sebrang sana. Hening.. Sampai beberapa detik kemudian Kaeta langsung membuka matanya, suara itu sangat familiar. Dia menjauhkan ponselnya lalu menatap layar tersebut, nomor asing. sebelah alisnya terangkat. “Kau tidak tulikan Nona Kaeta?" Reflek Kaeta langsung mengubah posisinya menjadi duduk dengan rambut yang sedikit berantakan. “Damian?" Gumamnya. “Sekarang juga, datang ke apartemenku, bawa stetoskop, senter medis, apapun itu yang bisa digunakan untuk pertolongan pertama." Ucap Damian tanpa basa basi lagi, suaranya terdengar seperti sedang mencemaskan sesuatu. “Hah? Damian, kamu kenapa? apakah kamu terluka dan.. " “Buruan Nona Kaeta, gak usah banyak nanya, ini sangat darurat" Tanpa menunggu jawaban dari Kaeta, pria itu langsung memutuskan sambungan teleponnya Apapun yang menyangkut Damian membuat Kaeta langsung panik, dengan gerakan cepat dia mengganti pakaiannya. Sepertinya memang benar-benar sangat darurat, tengah malam seperti Damian sampai menelponnya. Dengan gerakan tangan gemetar, Kaeta yang memang seorang mahasiswa kedokteran, langsung menyambar tas ranselnya, dia memasukan stetoskop, termometer, penlight, dan beberapa perban juga cairan antiseptik. Mengabaikan udara malam yang dingin, dia meminta supir pribadinya mengantarkan ke apartemen Damian. “Pak, ayo cepatan!" Pintanya sehingga sang sopir memacu kendaraannya melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan New York. Sepanjang perjalanan Kaeta sama sekali tidak tenang, dia khawatir terjadi sesuatu dengan Damian, bagaimana kalau pria itu tiba-tiba terkena serangan jantung, atau menjadi korban perampokan? Kecemasan itu membuat air matanya tiba-tiba menetes, sialnya dia menangisi orang yang tidak memiliki hubungan dengannya. Tidak membutuhkan waktu lama, mobil mewahnya sampai di depan loby apartemen mewah, dia segera berlari menuju unit milik Damian. ini pertama kalinya dia datang di tengah malam. “Damian!! buka pintunya! Dam!" Teriak Kaeta sembari menggedor pintu dengan kasar. Nafasnya memburu dan tangannya gemetar. Pintu apartemen terbuka, menampilkan sosok pria tampan yang berdiri tegap menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Damian mengenakkan kaos hitam longgar dan celana rumahan, rambut sedikit berantakan, wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, Kaeta mengamati wajah pria itu, tidak ada darah, tidak ada yang terluka, bahkan terlihat jauh lebih baik daripada dirinya.. “Dam, apakah kamu baik-baik saja? Mana yang sakit? Bagian dalam? d**a? Perut?" Tanya Kaeta memberikan deretan pertanyaan. Sembari reflek menyentuh kening pria itu untuk memastikan suhu tubuh Damian. ​ Damian berdecak, lalu menepis pelan tangan mungil Kaeta dari keningnya. “Bukan aku yang sekarat, masuk.. Ikut aku." Ucap Damian begitu dingin, lalu berbalik berjalan masuk ke dalam apartemennya yang sangat mewah, Tentunya Kaeta tidak merasa heran, dia sudah sering melihat barang-barang mewah di rumahnya. Gadis cantik itu masih terdiam, mencoba mencerna situasi saat ini, rasa paniknya mendadak berubah menjadi kebingungan, kakinya melangkah ragu mengikuti punggung tegap Damian. Pria idamannya memang terlihat baik-baik saja, jika bukan Damian? lalu siapa yang sekarat? Damian menghentikan langkahnya tepat di sudut ruangan yang terdapat aquarium besar, pria itu menunjukkan ke arah dalam air dengan dagunya. “Periksa dia." Titahnya. Kaeta mendekat, menempelkan wajahnya ke kaca aquarium, di dalam sana, seekor ikan berwarna oranye berukuran besar sedang berenang dengan posisi yang terlihat miring dan terlihat lemas di dasar aquarium. “Dam, ini maksudnya apa, ya?" Tanya Kaeta, dia berbalik menatap Damian dengan tatapan tidak percaya. “Namanya Kavea, sejak sore tadi dia hanya makan sedikit, lihat udah lebih dari satu jam, posisinya miring kayak gitu." Jawab Damian, tatapannya masih tertuju pada ikan miliknya itu. “Aku curiga, dia terkena infeksi kantung kemih atau kemungkinan besar gagal ginjal, jantung nya juga tidak berfungsi dengan baik." Jelas Damian kembali. Nada suaranya terdengar lempeng, seolah-olah teorinya itu sudah setingkat dengan jurnal medis internasional. “Makannya aku memintamu bawa alat-alat medis dan periksa detak jantungnya." Detik itu juga Kaeta seperti orang yang paling bodoh di dunia, dari kegilaannya, ternyata Damian lebih gila darinya. Saraf-saraf otak Kaeta seakan-akan langsung tidak berfungsi dengan benar. “Damian!!.. Sialan!" Pekik Kaeta, wajahnya yang menggemaskan terlihat memerah karena menahan amarah. ”Aku khawatir dan langsung datang di jam segini, nyawaku seakan-akan menjadi taruhan, cemas sepanjang perjalanan, aku pikir kau akan mati dan ternya kau memintaku datang hanya untuk memeriksa IKAN!!" ​Damian menaikkan satu alisnya, menatap Kaeta dengan penuh keheranan. "Kavea itu makhluk hidup, Nona Kaeta. Nyawanya juga sangat berharga, Kenapa aku malah marah-marah gak jelas? Gak profesional banget jadi calon dokter." Kaeta menghela nafas panjang. “Dam, aku calon dokter manusia bukan dokter Hewan, kenapa kau tidak menghubungi ahlinya aja?" Damian mengangkat kedua bahunya. “Yaudah periksa aja, kasihan, Kavea udah sekarat" “Lalu kayak mana aku bisa mendengar detak jantung ikan pakai stetoskop manusia?" Kaeta sangat ingin menjambak rambut Damian dan membanting pria itu. "Lagian dia itu miring karena kebanyakan dikasih makan! Itu namanya kembung, Dam! Bukan gagal jantung!" ​Damian terdiam sejenak, menatap ikan miliknya lalu menatap Kaeta lagi dengan tatapan dinginnya yang menyebalkan. "Oh. Kembung ya? Berarti gak perlu napas buatan?" ​"DAMIAN! AKU PULANG JALAN KAKI AJA!" ​Kaeta berbalik dengan menghentakkan kakinya saking kesalnya, bersiap meninggalkan apartemen pria gila itu. Tetapi, sebelum dia sempat melangkah jauh, kerah jaketnya lebih dulu ditarik dari belakang oleh Damian, menahannya seperti anak kucing yang hendak melarikan diri. ​"Lepas! Aku mau pulang!" Pekik Kaeta sembari memanyunkan bibirnya hingga mengerucut lima senti. ​"Gak usah drama. Udah jam setengah tiga pagi, banyak orang jahat, nanti kamu bisa di jual," Ucap Damian dengan santai. Lalu berjalan ke dapur dan kembali dengan segelas s**u cokelat hangat, lalu menyodorkannya ke depan wajah Kaeta yang masih cemberut. "Nih minum. Lagian apa yang kamu khawatirkan tentang ku, sampai segitunya." ​Sebuah senyum tipis yang sangat jarang terlihat, muncul di sudut bibir Damian, membuat pria menyebalkan itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan, sekaligus membuat jantung Kaeta mendadak berdegup dua kali lebih cepat daripada detak jantung si ikan. Flashback On. Damian duduk di ruang kerjanya, sembari menatap layar ponselnya. Magnus memang berhasil membuat sedikit teguran pada Rumah Sakit tempat Xavier, namun dengan bantuan Sam, semua masalah teratasi dengan muda. Marah? Tentu saja tidak. baginya sangat menarik, penuh tantangan hanya untuk mendapatkan perisainya. “Dam, lihat!" Jordi mendekat sembari menunjukkan layar ponselnya ke arah Damian. Damian melirik sekilas, namun beberapa detik kemudian dia menegapkan duduknya. “Daniel?" ucap Damian melihat kearah Jordi. Jordi menganggukkan kepalanya. “Ternyata Daniel lebih Gentle, dia langsung mendekati targetnya, laki banget, iyakan Magnus?" Reflek Magnus menganggukkan kepalanya. Entah apa masalah Damian sampai membuat hal mudah menjadi rumit. Kaeta lebih dulu mendekati Damian dengan berbagai modus, tetapi Tuan nya itu sok jual mahal dan membuat masalah yang suatu saat akan menjadi bom. “Daniel mengenalnya?" “Mereka satu fakultas, semoga saja cepat.. " Jordi menghentikan kalimatnya setelah mendapatkan tatapan tajam dari Damian. “Magnus, urus semua surat pemindahan Daniel ke Jerman." Flashback Off Damian menatap Kaeta, bukan hanya Daniel yang bisa gentle, dia juga bisa melakukan hal yang sama. “Damian!!.. Kenapa kau lama sekali?" Seru seorang wanita seksi yang tiba-tiba saja muncul dari dalam kamar Damian. Senyum tipis Damian tiba-tiba langsung lenyap begitu saja, tatapan matanya berubah tajam, tetapi ada kecemasan ketika pandangannya bertemu dengan tatapan Kaeta Deg Kaeta melongo sampai beberapa detik, sekarang bukan detak jantung Ikan Koki yang sekarat, tetapi detak jantungnya yang mulai melemah. “Dam, dia siapa?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN