Bab 11 JP911

1056 Kata
Malam ini, langit New York terlihat begitu indah, dipenuhi gemerlap bintang, gadis cantik yang saat ini memakai kaos oversize dan celana jens pendek itu sedang duduk menikmati keindahan malam di balkon kamarnya. Jam masih menunjukkan pukul sembilan malam, beberapa hari ini sangat Ayah selalu pulang telat, Kaeta tidak mempermasalahkannya dan sudah memakluminya, sebagai Dokter Bedah mungkin saja ada hal yang Darurat dan membutuhkan bantuan Xavier. Tok! Tok! Lamunan Kaeta buyar ketika dia mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Dia menoleh dan bangkit dari duduknya, lalu mendekat kearah pintu dan membukanya. “Maaf Nona, di depan ada temen Nona Kaeta" Ucap sang maid. Kaeta menaikan sebelah alisnya. “Temen? siapa?" dia tidak punya teman yang datang ke rumahnya selain Zeta. Maid itu menggelengkan kepalanya. “Saya kurang tau Nona, laki-laki berbadan tegap, sekarang lagi ngobrol sama Tuan Xavier." “Daddy?" “Iya Non." Kaeta terdiam untuk beberapa detik, sejak tadi dia duduk di balkon, tetapi tidak melihat mobil Ayahnya dan sekarang sudah ada di rumah? Kaeta menghela nafas panjang, lalu dia berjalan menuruni anak tangga dan menuju ke ruang tamu. Entah siapa yang bertamu malam-malam seperti ini, tidak mungkin jika itu Damian? dia menggelengkan kepalanya. Jelas saja buka Damian, untuk apa pria itu datang menemuinya, atau mungkin itu Daniel, si pria rese yang sering mengganggunya di kampus? “Ahh ini dia princess Daddy, ini ada Daniel katanya kalian udah janjian mau jalan, kok gak cerita sama Daddy sih?" Xavier tersenyum hangat dan memberikan deretan pertanyaan yang membuat Kaeta bingung. “Ya udah Daddy mau istirahat dulu, titip putri kesayangan saya Dan, kalau bisa pulangnya jangan terlalu malam." Ucap Xavier segera meninggalkan ruangan tersebut. Kaeta maju beberapa langkah, tentu saja jantungnya sangat tidak aman. “Ngapain kesini? “Mau ngajak calon istri jalan." Jawab Daniel sembari cengengesan Kaeta melirik sekilas. “Gak usah maksa Daniel, udah sana pulang." “Tapi aku maunya maksa kamu Kae, ayolah." Daniel memasang wajah memelas. “Ck, gak usah kayak anak ayam, ayo!" Pasrah Kaeta, lagian dia juga merasa jenuh. Meskipun kesal, Kaeta menatap Daniel seakan ada yang berbeda dari biasanya, penampilan dan tataan rambutnya juga sepertinya berubah, malam ini terlihat tampan, tapi tetap Damian yang paling tampan. “Pakaian ini Kae" Daniem memakaikan helm pada Kaeta. “Kamu punya motor? nyolong di mana?" Tuduh Kaeta. Daniel menghela napas panjang, “Sengaja baru beli tadi sora, buat ngajak kamu jalan-jalan, Kae" Jawab Daniel santai, dia selalu menunjukkan effortsnya untuk gadis pujaannya itu. “Kirain dapet nyolong, mau ngajak jalan kemana?" “Niatnya sih mau jual kamu ke Bos kaya, lumayan untuk ganti duit yang tadi pakai beli motor." Sahut Daniel benar-benar menyebalkan. Plaakk Daniel tertawa sembari memegangi lengannya. “Becanda, ayo naik." Titahnya di sela-sela tawanya. Kaeta naik di atas motor besar itu. “Pegangan Kaeta, aku mau ngebut, jangan sampai kepalaku lepas dari tempatnya cuma karena kamu gak mau pegangan terus jatoh." ucap Daniel dan Kaeta langsung melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. Daniel ingin sekali bersorak, namun dia sekuat tenaga menahannya agar Kaeta tidak melepaskan pegangannya. Entah kemana Daniel ingin membawa Kaeta, selama perjalanan gadis itu hanya menikmati angin malam. Perjalanan kurang lebih satu jam, mereka berhenti di tempat yang begitu asing bagi Kaeta, tetapi sangat indah pemandangan di malam hari. “Ayo Kae." Ajak Daniel sembari menggengam tangan Kaeta. Kaeta mengikuti langsung pemuda itu dari belakang, dia menoleh ke kanan dan kiri, sangat sepi. “Sialan, kau benar-benar ingin menjual ku, Daniel?" Daniel tidak menjawab, dia terus membawa Kaeta berjalan naik keatas bukit. “Bagaimana bagus gak pemandangannya?" Tanya Daniel tersenyum ke arah Kaeta. “Jangan takut, aku sering datang kesini." kata Daniel, dia melirik Kaeta yang sudah mulai menikmati keindahan malam, Kaeta akhirnya pasrah, berada di atas bukit tidak pernah dia lakukan, bisa ini dibilang pertama kalinya. “Kamu pernah bawa perempuan ketempat ini?" Tanya Kaeta dan menganggukkan kepalanya. “Kau perempuan pertama yang aku ajak kesini, Kaeta." Jawab Daniel. “Kenapa harus aku yang pertama?" “Iya, karena kamu perempuan satu-satunya yang mau aku bawa ke tempat ini." “s**t!!.. Itu karena kamu maksa sialan!" Daniel kembali tertawa, dia tidak sepenuhnya berbohong. “Kae, kamu naksir paman Damian?" Celetuk Daniel tiba-tiba, yang membuat Kaeta langsung terdiam untuk sesaat. Lalu gadis itu menaikan sebelah alisnya. “Kau benar-benar keponakan Damian?" Daniel hanya mengangguk. “Apa yang kamu sukai dari pamanku?" Dia menoleh kearah Kaeta. “Tampan" Daniel menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak kalah tampan, tapi kenapa kau tidak bisa melihat ku?" “Karena kau bukan Damian." Jawab Kaeta santai. “Tetapi, cintamu tidak akan pernah terbalas, Paman Damian dia.. " “Aku akan membuatnya membalas cintaku, meskipun itu mustahil, tetapi tidak ada yang tidak mungkin dan tidak ada perjuangan yang mengkhianati hasil." Sela Kaeta, dia terlalu percaya diri. Daniel kembali tersenyum, jika seperti itu, dia juga akan melakukan hal yang sama, memperjuangkan cintanya, meskipun Kaeta sama sekali tidak melihat padanya. Ada beberapa jenis cinta yang tidak tumbuh dan harus memetiknya, melainkan hanya untuk menjaganya agar tangkainya tidak patah. Meski pun cintanya pada Kaeta hanya di anggap bayang-bayang saja, Bagi Daniel itu itu tidaklah penting Setiap kalimat cinta yang keluar dari mulut Kaeta dan setiap senyum Kaeta setelah mendengar nama Damian, ada dari bagian d**a Danie yang terasa sakit, tetapi dia selalu berhasil menyembunyikannya dengan tingkah konyolnya. ​"Kalau bahagiamu bukan bersamaku, maka setidaknya biarkan aku memastikan tidak ada yang merenggut kebahagiaan itu darimu." Ucap Daniel menghela nafas panjang. “Bahkan kalau memang takdirmu akan bersanding dengan pamanku, aku akan tetap berdiri di sini, aku akan memastikan jalan yang kamu pilih tidak membuatmu terluka." Ucapan Daniel membuat Kaeta terdiam, dia tau jika pemuda itu menunjukkan ketulusannya, tetapi entah kenapa dia sama sekali tidak tersentuh, Damian membuatnya buta akan segala hal. “Daniel" Panggil Kaeta pelan, dia menoleh kearah pria itu. “Terimakasih." “Untuk apa?" “Jangan mengharapkan apapun padaku, kau pria tampan dan sangat baik, carilah kebahagiaanmu dan.. " “Kebagianku hanya melihatmu tersenyum dan bahagia bersama pilihanmu." Daniel memotong kalimat Kaeta, tatapannya begitu dalam dan tulus. “Jangan membuatku seperti perempuan yang menyakitimu, carilah perempuan lain yang bisa membalas perasaanmu." Daniel terkekeh pelan. Dia sendiri tidak tau kenapa sampai se cinta ini pada Kaeta dan tidak bisa membuka hati untuk perempuan lain. “Aku tidak janji, mungkin selamanya aku akan menunggumu, biar kau terlihat seperti perempuan yang paling kejam" Daniel tertawa terbahak-bahak ketika melihat mata Kaeta yang melotot.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN