Bab 9 JP911

1094 Kata
Terdengar suara sepatu bot yang melangkah diatas lantai menggantikan obrolan para petugas damkar di aula posko. Pria tampan berbadan tegap itu berdiri di depan papan strategi, ruangan mendadak hening. Damian, sebagai komandan Damkar yang hampir tidak pernah menunjukkan senyum dan selalu menatap tajam dengan raut wajah yang dingin. Damian menatap satu persatu anggotanya. Tanpa membuang waktu dan dia tidak perlu basa basi lagi, suaranya yang tegas memecahkan keheningan. “Minggu ini data BMKG menunjukkan suhu yang mencapai puncaknya, potensi kebakaran di pemukiman padat meningkat tiga puluh persen." Ujar Damian menjeda kalimatnya. “Aku tidak mau sampai melihat ada yang terlambat memakai turn out gear, target response time kita dari alarm berbunyi sampai armada keluar gerbang, maksimal 60 detik, kurang dari itu, kalian tau sendiri konsekuensinya." Mereka yang mendengar aturan dari Damian hanya bisa menelan ludah dengan kasar, hukumannya tidak pernah main-main, latihan fisik ekstra di bawah terik matahari. “Untuk tim Rescue " Damian kembali menatap mereka sembari jemarinya mengetuk pelan meja. “Ada banyak laporan ular berbisa di pemukiman warga, pastikan Honeycomb duit dan tongkat penjepit siap di armada, ingat jangan ceroboh, satu kecerobohan berarti fatal." Lanjut Damian, tentang keselamatan dia tidak pernah main-main. “Siap, Bos!!.. Tapi kalau laporan evakuasi mantan yang terjebak nostalgia, kita perlu bawa kampak pemotongan juga gak?" Seru Jordi membuat suasana semakin tegang, mereka semua menoleh kearahnya, dialah satu-satunya yang berani bicara ngasal pada Damian. “Jordi!" Desis Damian memberikan tatapan nyalang. “Siap komandan!" Jawabnya langsung menegakkan tubuhnya sembari menahan tawanya. ​"Hari ini kau yang pimpin pengecekan tekanan air pada fire hydrant di sektor B,sendirian, kalau ada satu saja yang macet, kau yang akan menguras tangki truk secara manual." Mata Jordi langsung melebar. “Damian sialan!" Gumamnya, sementara Damian menarik sudut bibirnya, puas melihat wajah sahabatnya yang tertekan. ** “Astaga Zeta, aku benar-benar nggak tau kalau ada tempat seperti ini, mana cowoknya ganteng-ganteng banget" Ucap Kaeta, dia tidak pernah keluyuran di tengah malam, ini pertama kalinya dia lepas dari pantauan sang Ayah. Zeta mengangguk karena dia sendiri juga baru mengetahui ada tempat seperti ini, tempat para berandalan yang sedang melakukan balapan liar. Jalan yang memang biasanya digunakan untuk balapan liar, transaksi jual beli hal-hal terlarang, tempat yang sangat jauh dari pemukiman, benar-benar sangat cocok untuk arena pasar gelap dan balapan liar. Pandangan Kaeta dan Zeta tertuju pada tiga pria yang menggunakan helm yang sepenuhnya menutup wajah mereka, salah satunya Kaeta merasa sangat tidak asing. “Dari postur tubuhnya, mirip banget sama Damian." Ucap Kaeta. Zeta menggeleng. “Ck, nggak mungkin pewaris Wesley ada di tempat seperti ini." “Apanya yang gak mungkin? Siapa tau perusahaannya mau bangkrut, buktinya Damian rela menjadi petugas damkar." Ucapnya. Kaeta hanya memiliki dua pemikiran tentang Damian, karena perusahaan pria itu akan bangkrut atau di usir oleh keluarganya. Zeta tidak ingin menimpali lagi, dia melirik jam di ponselnya. “Udah malam, kapan mulainya." Jam sudah menunjukkan pukul satu malam, namun belum ada tanda-tanda akan di mulai. Kaeta yang memiliki kesabaran setipis tisu tentunya tidak tahan lagi. “Damn!! Jadi nggak sih balapannya!!" Teriaknya membuat semua orang menoleh kearahnya, termasuk tiga pria yang berada di atas motor besar. Zeta tercengang dan reflek menarik lengan Kaeta. “Kaeta jangan teriak, kamu sadar gak disini bukan tempat kita." Bisiknya. “Lagian mereka kelamaan, mau balapan udah kayak lomba cosplay jadi patung." Jawabnya santai, tanpa dia sadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan tajam. Disisi lain, Jordi menatap heran kearah dua gadis cantik yang sedang menjadi pusat perhatian pengunjung jalan gelap itu. “Dam, kenapa dia ada di tempat ini?" Tanya Jordi melihat kearah Kaeta. “Ck, merepotkan!" Gumam Magnus yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Damian. “Tunggu disini Dam, biar aku yang kesana untuk memastikan mereka aman." Ujar Jordi hendak turun dari motornya, namun tiba-tiba Damian menarik lengannya. Kaeta masih berdiri tidak jauh dari kerumunan itu, gadis itu terlihat celingukan kekanan dan kiri. Sampai tanpa di sadari satu motor besar berhenti tepat di hadapannya. “Ayo naik!" “Hah?" Kaeta kaget dan mundur satu langkah begitu juga dengan Zeta. “Kayaknya kita bakalan di culik sama berandalan, Zet" Bisik Kaeta sedikit waspada “Cepat naik, Kaeta!" Bentak Damian. Suara itu sangat tidak asing, Kaeta akhirnya naik ke motor pria itu. “Jor, bawa anak kecil ini, kita pulang." Ujar Damian meminta Jordi membonceng Zeta. Motor Damian melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang sudah mulai sepi, semakin jauh akan semakin sepi dan gelap, Kaeta baru sadar, jika dirinya terlalu jauh dari rumah, bahkan kanan dan kiri sepanjang jalan hanya pepohonan. “Tuan Damian!" Tanya Kaeta. “Panggil Damian, aku bukan Tuan mu." Seru Damian suaranya nyaris hilang di telan angin. ​Mengetahui jika itu benar-benar Damian, Kaeta melingkarkan tangannya di pinggang ramping pria itu, senyum kecil terbit di bibirnya. Sampai tidak lama kemudian motor Damian berhenti tepat di depan rumah mewah Xavier, jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. “Turun Kaeta" Titah Damian, gadis itu masih erat memeluk pinggangnya. “Kaeta!" Desis Damian “Eh! Udah sampai. kenapa harus pulang ke rumah sih Dam, kenapa gak ke taman aja?" Kaeta turun dari motor besar itu. “Orang gila mana jam segini pergi ke taman, udah sana masuk, jangan sampai Dokter Xavier melihatmu di luar jam segini" Jawab Damian. Kaeta memasang wajah malas. “Daddy pasti belum pulang, di Rumah Sakit sepertinya sedang ada masalah. Mending kita ke taman aja yuk?" Ajak Kaeta sembari menarik pelan lengan Damian. “Mau ngapain ke taman, jam segini taman udah sepi." “Menurutmu bagusnya ngapain di tempat sepi?" Tanya Kaeta sembari memberikan tatapan genit. Damian sontak memberikan tatapan tajam, bisa-bisa gadis kecil di depannya ini memberikan tatapan genit. Dia tersenyum tipis. “Belum waktunya, biarkan Ayahmu sendiri yang mengantarkanmu padaku." Gumamnya dan Kaeta sama sekali tidak mendengarnya. “Udah sana masuk!" Titah Damian. “Mau ikut gak?" Kaeta kembali cengengesan. Damian tidak menjawab dan langsung menyalahkan motornya meninggalkan Kaeta yang langsung tercengang. “Benar-benar gak ada perasaan." Gumam Kaeta, detik kemudian tiba-tiba saja ponselnya bergetar tanda panggilan masuk. Daddy : Halo princess..kok belum tidur, jam brapa sekarang? Ouh iya...malam ini Daddy pulang telat. Kaeta : Aku baru saja bangun Dad.. Apakah masalah begitu serius sampai Daddy telat pulang? Daddy : Jangan Khawatir, ada Paman Sam yang membantu Daddy. Kaeta : Benarkah? Daddy : Hmm..Kembalilah tidur, selamat malam princess. Belum juga Kaeta menjawab, panggilan telepon sudah terputus, membuat gadis cantik itu semakin bingung.. “Apakah masalahnya begitu serius?" Gumamnya sembari menatap layar ponselnya. Ting satu pesan masuk dari nomor tidak di kenal. Kaeta menautkan kedua alisnya. detik berikutnya dia melebarkan matanya. “Tidak mungkin.. " Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN