Xavier menggelengkan kepalanya, ketika dia kembali dari Rumah Sakit melihat pos satpam sudah tinggal kerangka saja.
Pria tua itu menghela nafas panjang, setelah mendengar penjelasan dari sang penjaga, bahwa Kaeta lah yang sengaja membakar pos satpam tersebut.
“Princess, kenapa gak sekalian aja kamu bakar rumah kita?" Ucapnya sembari menatap putri kesayangannya, tetapi Xavier juga merasa lega, Kaeta tidak terluka.
“Memangnya boleh, Dad?" Xavier tercengang mendengar jawaban putrinya, Kaeta bukan gadis bodoh, tetapi pertemuan dengan Damian benar-benar membuat otak sang putri geser dari tempatnya.
“Boleh saja, asalkan kamu mau tinggal di kolong jembatan"
Kaeta cekikikan dan beberapa detik kemudian dia memeluk Ayahnya. “Maafkan aku, Dad, karena dia terlalu tampan."
Xavier mengusap lembut punggung putrinya, susah payah dia menolak dan mencari cara agar Kaeta tidak jatuh di tangan pria seperti Damian, tetapi malah putrinya sendiri yang mengundang pria kejam itu.
“Kalau Daddy minta jangan dekat-dekat dengan Tuan Damian, apakah kamu akan mendengarnya,Kae?"
Kaeta mendongak guna melihat wajah tampan sang Ayah, dia mengercutkan bibirnya. “Kenapa?"
“Pokoknya kamu harus dengarkan apa kata Daddy."
“Daddy selalu memintaku jangan dekat-dekat Tuan Damian, tetapi tidak pernah memberikan alasan yang jelas" Jawabnya.
Xavier tersenyum. “Tuan Damian sudah terlalu dewasa untuk princess Daddy yang cantik ini."
“Aku suka yang dewasa, biar bisa menjagaku." Xavier mengehela nafas berat.
Tidak ada yang bisa menjaga Kaeta selain dirinya, kalau itu ada, bukan Damian orangnya, karena Xavier sendiri tidak pernah yakin dengan Damian.
Sementara itu di tempat lain, Damian berdiri di depan jendela ruang kerjanya, tetapan tajamnya menembus kaca jendela dan jari-jari tangannya mengetuk-ngetuk meja dengan pelan.
Senyum di wajahnya nyaris tidak terlihat sama sekali. tetapi Jordi yang berada di belakangnya cukup sadar jika sebentar lagi seseorang akan mendapat masalah.
“Aku ingin kau melakukan sesuatu yang membuat Rumah Sakit milik mendiang istri Dokter Xavier sibuk." Ucap Damian dengan tenang dan tanpa mengalihkan pandangannya.
Jordi tersenyum tipis, lalu dia melirik kearah Magnus salah satu orang kepercayaan Damian. “Seberapa jauh, Tuan?" Tanya Magnus.
“Jangan sampai ada korban, Damian hanya ingin Dokter Xavier mengerti kalau ketenangan tergantung pada keputusannya, iyakan Dam?" Sahut Jordi menaikan sebelah alisnya.
Magnus melirik Jordi dengan tajam, meskipun memiliki Tuan yang sama, namun mereka berdua tidak pernah akur, entah apa masalahnya, mereka berdua selalu memiliki bahan untuk beradu argumen.
“Lakukan seperti apa yang Jordi katakan."
"As you wish." Jordi mengangguk senang, ternyata apa yang dia ucapkan sesuai dengan keinginan Damian.
Damian tidak membutuhkan kekerasan untuk menghadapi Dokter Xavier, dia hanya perlu melakukan sedikit peringatan saja. Beberapa proyek kerjasama akan dia hentikan untuk sementara.
Membuat investor menarik dirinya mereka dan membatalkan pemasok alat medis, bukan untuk menghancurkan, tetapi hanya menekan untuk membuat Xavier tidak tenang dan lari kearahnya.
Dia hanya perlu membuat Xavier sadar jika pria sekuat apapun tetap akan memiliki kelemahan dan titik lemah itu adalah putri semata wayang Xavier.
**
“Morning Tuan Damian!!" Sapa Kaeta dengan senyum manisnya.
Damian menoleh, namun ekspresi wajahnya jauh dari keramahan, tatapan matanya begitu tajam. “Apa lagi hah!!" Bentak pria itu membuat Kaeta sedikit terkejut. “Kau datang ingin menertawakan ku?"
“Astaga! Dam, jangan bentak-bentak, sadar dia Kaeta" Ucap Jordi menepuk pundak sahabatnya.
“Ck, kenapa? kamu mau sama dia? Ambil aja.. Aku udah muak sama perempuan yang gak ada harga dirinya!"
Kaeta tercengang, ada apa dengan Damian, bukannya pria itu yang memintanya datang ke cafe karena janji traktiran setelah memadamkan api di pos satpam semalam.
“Kok kamu ngomongnya kayak gitu sih? aku ada salah? oh iya, ini aku bawain kue buatan aku sendiri, nanti di makannya di pos damkar." Ucap Kaeta sembari menyodorkan paper bag di tangannya ke arah Damian.
Brak!!
Tatapan Damian benar-benar berbeda dari sebelumnya, pria itu terlihat sangat menakutkan, Kaeta tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tiba-tiba Damian membentaknya seperti sekarang.
“Aku rasa kau tidak tuli Nona Kaeta, sudah aku katakan, aku sangat muak melihat wajah sok polos ini, sekarang kamu pergi atau mereka yang akan menyeretmu!!" Desis Damian.
Kaeta tersenyum canggung, antara malu dan sakit hati, dibentak di depan umum tanpa dia tau apa kesalahannya.
“Baiklah, aku pergi dulu, ini jangan lupa di makan." Gadis itu meletakkan paperbag di atas meja dengan tangan yang sedikit gemetar.
Dia tidak pernah di bentak oleh Ayahnya, sehingga hati mungilnya sangat ter cubit dan nyeri. Kaeta keluar dari Cafe dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa.
“Dam, kamu kenapa bentak-bentak Kaeta? Dia salah apa?" Jordi sendiri kebingungan melihat sikap sahabatnya.
Damian menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan secara perlahan, dia memejamkan matanya untuk sesaat, setelah beberapa detik dia membuka matanya kembali.
“Dam.. Kaeta.. "
“Biarkan saja." Sela Damian seakan tidak perduli, tetapi matanya menatap ke arah pintu utama meskipun Kaeta sudah tidak terlihat lagi.
Damian mengalihkan pandangannya ke arah paperbag yang Kaeta bawa tadi. “Sialan!" Gumamnya namun masih terdengar oleh Jordi.
“Dam, jangan melampiaskan kemarahanmu pada orang lain, gadis itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalahmu saat ini. Lagian sudah 4 tahun masih belum move on, cih!" Ujar Jordi.
“Diam dan tutup mulutmu. Kau tidak... "
“Tentu saja aku tidak akan merasakan apa yang kamu rasakan, karena kita memiliki cara berpikir yang berbeda, Damian. masalalu cukup untuk dijadikan pelajaran bukan untuk di ulang kembali."
Damian tidak menjawab karena apa yang Jordi katakan adalah kebenarannya, dia masih saja terjebak dalam kisah lama.
“Bangkit Dam, hidup harus tetap berjalan dan kalau kau menginginkan Kaeta menjadi alat untuk menghindari perjodohan yang Daddy mu atur, dapatkan gadis itu dengan caramu sendiri tanpa melakukan ancaman apapun pada Dokter Xavier." Lanjut Jordi menasehati sahabatnya.
Damian masih diam, apa yang dia perintahkan pada Magnus sudah berjalan dan mungkin besok akan ada berita besar dari Rumah Sakit Dokter Xavier.
“Dia yang datang sendiri padaku, untuk membuatnya tidak bisa lari, aku harus melumpuhkan kekuatannya terlebih dulu." Damian melirik sekilas sembari menarik sudut bibirnya.
Jordi hanya menghela nafas panjang, detik kemudian ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk.
“Terserah kau saja, aku sudah mengingatkanmu, sekarang ayo kembali ke markas, kita mendapatkan panggilan darurat!" Ucap Jordi bangkit dari duduknya dan kembali memakai jaket kulitnya.
“Hmm" Keduanya keluar dari Cafe lalu segera kembali ke post setelah mendapatkan panggilan darurat.
Sementara di tempat lain, Kaeta duduk termenung di ruangan Ayahnya, setelah dari Cafe gadis itu langsung menyusul Ayahnya.
“Kenapa dia marah-marah?" Gumamnya.
“Siapa yang marah-marah?" Sahut Xavier menghentikan pergerakan tangannya.
Kaeta menoleh. “Ajg nya Zeta tiba-tiba saja menggonggong sangat keras ketika melihat wajah cantikku, Dad"
Zeta mendelik “Sejak kapan aku punya ajg?" Gumamnya, dia tidak memelihara binatang apapun dirumahnya.
“Mungkin ajg nya cemburu melihat Nona cantik bersama pria lain."
Deg