Bab 7 JP911

1089 Kata
Kegabutan Kaeta selalu menimbulkan masalah, di rumah mewah itu dia tidak sendiri, ada beberapa maid yang masih melakukan aktivitasnya. Dan juga Zeta. “Zet, mau hiburan nggak?" Tanya Kaeta dan sontak saja Zeta langsung menggelengkan kepalanya. Zeta tidak ingin mengambil resiko, dia tau jelas hiburan yang dimaksud sahabatnya adalah hura-hura yang akan membuat semua orang repot. Kaeta berdecak sembari memutar bola matanya, lalu melipat kedua tangannya di atas d**a. “Pria tampan itu tidak lagi mendatangiku, padahal dia mengidap penyakit yang begitu serius." Ucapnya. “Sejak kapan detak jantung normal menjadi masalah besar? Tuan Damian bukan orang bodoh Kae, mana mungkin dengan diagnosis palsu mu dia langsung mendatangimu terus menerus." Sahut Zeta sembari kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Kaeta terdiam untuk sesaat, jika Damian tidak mau mendatanginya ke Rumah Sakit, maka dia akan menggunakan cara lain agar pria itu datang. Kaeta berdiri di balkon kamarnya, dari lantai dua dia menatap kearah halaman depan rumah yang begitu luas. Di dekat pintu gerbang terdapat sebuah pos security. Dia memandangi pos tersebut cukup lama, sampai tiba-tiba dia tersenyum lebar, karena sebuah ide gila muncul di kepalanya. “Zet, ikut aku!!" Dia langsung menarik tangan Zeta, lalu kelaur dari kamarnya dan menuju halaman rumah. “Astaga!!.. Kaeta.." Keduanya sampai di halaman rumah dan berdiri tepat di depan pos security, dengan nafas yang terengah-engah. “Nona Kaeta, ada yang bisa saya bantu?" Tanya security tersebut, terheran karena Nona mudanya berada di luar rumah tanpa menggunakan sandal. Kaeta menarik nafas dalam-dalam, lalu mengangguk. “Pinjem korek apinya!" Jawab Kaeta, membuat sang security dan Zeta terkejut. “Tapi Non.. " Kaeta langsung menyambar korek api gas yang berada di tangan pria berseragam security itu. Hanya dalam hitungan detik, pos security itu sudah di lahap oleh kobaran si jago merah, kobaran itu cukup besar untuk membuat kepanikan security dan Zeta. “Astaga!! Nona.. " “Panggil nomor darurat 911" Ucap Kaeta dengan santai. Security tersebut segera melakukan apa yang di perintah oleh Nona muda nya. Security : Halo.. 911?! Tolong! Pos security depan kediaman Tuan saya kebakaran, apinya sangat besar! Operator : Tetap tenang, sebutkan alamat Anda, armada kami akan segera meluncur ke lokasi. Setelah memberikan alamat, Security itu langsung mematikan ponselnya dengan penuh kepanikan, sementara Kaeta berlari ke kamarnya. Hal itu membuat Zeta dan security saling menukar pandangan, beberapa menit kemudian Kaeta kembali dengan wangi parfum, namun ada yang aneh dengan penampilannya. Rambutnya acak-acakan, benar-benar terlihat seperti korban kebakaran. “Kae.. " “Kalian berdua diam, korban kebakaran itu harus panik, tapi tetap harus estetik di depan calon masa depan." Kaeta menyela kalimat Zeta. “Astaga, Non, tapi di dalam pos ada barang-barang saya yang.. " “Hussstt.. Kalau misi berhasil nanti Daddy akan mengganti kerugianmu." Lagi-lagi dia menyela sembari celingukan, mobil damkar belum juga tiba Detik berikutnya terdengar suara sirine menambah keramaian, dua mobil damkar berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah mewah Dokter Xavier. Beberapa petugas dengan sigap langsung turun menarik selang air, dan disana pemimpin yang Kaeta tunggu akhirnya muncul, Damian sang pria tampan yang selalu memasang wajah datar dengan tatapan dingin. Rahang tegas, tatapannya begitu fokus dan seragam yang digunakannya menambah kelipatan kali ketampanannya dan lebih seksi dimata Kaeta. Kaeta segera menunjukkan actingnya yang luar biasa itu. “Komandan tampan, tolong pos security ku kebakaran!" Ucapnya sembari terbatuk-batuk dan dengan sengaja menabrakkan dirinya pada Damian. Dengan sigap Damian menangkap lengan Kaeta." Nona, Anda tidak apa-apa?" Tanya Damian, dia tetap profesional ketika menjalankan tugasnya. “Aku Nggak apa-apa, hanya detak jantungku yang kenapa-napa" Jawab Kaeta menatap Damian dengan mata yang berbinar, sungguh sangat sulit mengindikasikan kegembiraannya. “Aku sangat takut komandan tampan, untung saja ada Anda" Damian menautkan kedua alisnya, merasakan jika ada sesuatu yang aneh, tetapi dia tetap harus profesional. “Baiklah, tetap di belalang saya, Nona, Tim saya akan memadamkannya dalam beberapa menit." Ucap Damian, sebenarnya tidak butuh waktu lama, hanya pos security saja. Sedangkan Zeta dan sang security masih membeku, keduanya bingung, apakah harus mengikuti sandiwara sang pemilik rumah atau hanya menonton saja. Para petugas tengah sibuk menyemprotkan air ke pos security yang mulai padam, tetapi Kaeta sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari seorang Damian. “Komandan tampan, malam ini sangat dingin." Damian melirik sekilas, lalu dia menghela nafas panjang, seharusnya dia sadar sejak tadi, jika semua yang terjadi di sengaja. Dia melepaskan jaket dinasnya yang lumayan besar, lalu menyempurnakannya di bahu Kaeta, membuat gadis itu tersenyum lebar, seakan mendapatkan skor 1-0 untuk Kaeta. Kaeta seperti tidak ingin membuang kesempatan, susah payah dia membakar pos security, masa iya harus di sia-siakan begitu saja. “Komandan, kayaknya habis ini aku bakalan trauma berat, nggak bakalan berani tidur sendiri, lihat jantungku masih dugem, boleh tolong periksa aku?" Kaeta meraih tangan Damian dan mengarahkannya ke dadanya sendiri, Damian langsung menarik tangannya. Dia pria dewasa, bisa-bisanya Kaeta menggodanya begitu brutal. “Saya komandan kebakaran, bukan Dokter gadungan sepertimu." “Komandan, biar aku kasih tau, kalau menolong hidup orang itu jangan nanggung, harus sampai tuntas." Ucap Kaeta membuat Damian menggelengkan kepalanya. “Nona, sekarang... " “Baiklah karena Anda sudah menyelamatkan mahkluk yang paling cantik ini, sebagai ucapan terimakasih, bagaimana kalau besok aku traktir makan, ah.. Jangan menolak demi kesehatan mental ku." Belum sempat Damian menjawab, salah satu petugas damkar menghampiri mereka berdua. ​"Komandan, apinya sudah berhasil kita padamkan." Lapornya, Damian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. “Tapi, kami juga menemukan ini di dekat lokasi," ujar petugas itu sambil menunjukkan barang bukti. ​Damian melihat botol itu, lalu beralih ke arah Kaeta yang tiba-tiba mematung dengan mata yang membulat sempurna. ​Damian mendekatkan wajahnya ke telinga Kaeta, berbisik dengan nada rendah yang membuat merinding. "Sengaja membakar pos security demi memanggil saya, Nona Kaeta? Anda sangat tau kan, memberikan laporan palsu atau sengaja melakukan pembakaran itu bisa dipidana?" ​Kaeta menelan ludahnya dengan kasar "Uh... itu..." ​Damian menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di atas d**a sembari menatap Kaeta yang mendadak kebingungan. Pria itu tersenyum lebar tipis, dia tidak salah jika memilih Kaeta untuk menghadapi Ayahnya. ​"Tetapai karena saya orangnya sangat baik dan ramah" lanjut Damian dengan senyum yang penuh arti juga sangat jarang dia tunjukkan pada siapapun. "Saya akan lupakan kasus pidana Anda, dengan satu syarat." ​"Apa?" Jawab Kaeta dengan cepat. ​"Tawaran mentraktir saya terima. Jangan telat dan pakai pakaian yang lebih hangat. Saya akan jemput jam tujuh malam." Damian mengedipkan sebelah matanya, lalu berbalik memakai helmnya kembali. "Pasukan, bereskan alat-alat! Kita kembali ke pos!" ​Kaeta berdiri mematung di halaman rumahnya yang berasap, masih mengenakan jaket besar milik Damian. Rencananya memang sangat kriminal, tapi melihat hasilnya? Sangat amat sepadan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN