“Bee, kamu masih belum selesai juga?” Omara memanggil istrinya yang masih belum muncul. Padahal Daisy mandi duluan, tapi Omara yang siap lebih dulu.
“Oh, ini sudah siap kok Mas. Maaf ya, aku lama.” Suaranya muncul bersama sosoknya yang keluar dari walk in closet, Omara langsung mendongak dengan mata menelusuri penampilannya.
“Mas, menurut Mas, gini aja cocok tidak untuk makan di rumah Kakek?” tanya Daisy, memutar tubuhnya di depan cermin besar. Wajahnya ceria.
Cahaya sore yang masuk dari jendela kamar menyapu kulit putih Daisy, membuatnya tampak begitu bersinar. Untuk sesaat, Omara tertegun. Ada kemurnian dalam diri Daisy yang selalu membuatnya merasa seperti pendosa paling buruk di dunia ini.
“Mas...” panggil Daisy sambil berhenti berputar, menghadap suaminya.
“Kurang,” jawab Omara.
Lengkung senyumnya perlahan memudar, “ya? Kurang cocok?”
“Iya, bajumu tidak ada lagi? Yang kamu kenakan sekarang seperti sehari-hari kamu ke kampus. Nothing special, Bee. Ayolah, kita akan menemui Kakek, orang tuaku. Makan malam setelah kita menjadi suami-istri pertama kali.”
Daisy murung, Omara memang jujur tapi perempuan akan terluka jika to the point sekali sepertinya. Berharap dipuji.
“Aku ganti—“
“Ikut aku, aku yang pilihkan!” Omara berjalan melewatinya, Daisy mengikuti dengan pasrah. “Aku tunggu kamu lama-lama, Bee. Orang-orang saja akan mengira aku jalan dengan sugar baby jika penampilanmu seperti ini. Kamu perlu terlihat lebih dewasa saat bersamaku."
“Ya, maaf... kupikir ini kan cuman makan malam di rumah.” Bisiknya. Memang apa salahnya penampilan dia? Biarkan saja orang mau menilai apa, kan?
Ia memeluk dirinya sendiri, menatap punggung suaminya yang membuka lemari pakaian. Omara memilih-milih.
“Aku yakin orang tuamu tidak memintamu mengirit, kan?” Omara tahu nilai kekayaan keluarga istrinya. Bisnis dibidang perusahaan ritel multinasional bekerja sama dengan asal Swedia itu, merancang dan menjual furnitur siap rakit atau flat-pack, peralatan rumah tangga, hingga aksesori. Tekenal dengan desain minimalis, fungsional, dan harga terjangkau. Selain itu, di dalamnya ada restoran yang khas, selalu ramai. Bisnis lainnya, keluarganya punya saham di sebuah bank swasta juga.
“Maksud, Mas apa?” Ia mengernyitkan kening heran, sekarang Omara mendikte orang tuanya.
Omara menarik satu gaun, itu gaun yang sempat jadi pilihan pertama sebelum ia pikir berlebihan untuk makan malam di rumah mertuanya saja.
“Coba ganti yang ini.” Sambil mengulurkan, Daisy mengambil tapi Omara menahannya.
“Aku tunggu saja, lepas pakaianmu.” Secepat kilat Omara berubah pikiran, sebab istri kecilnya akan lebih lama lagi nanti.
“Mas!” Protesnya.
Omara terkekeh, “kenapa malu? Aku bahkan yang memberitahumu ada tahi lalat dekat pantatmu.”
Mata Daisy membulat sempurna, wajah hingga telinganya semakin memerah padam, “ish, kamu mah! Kenapa dibahas lagi sih?!” mencebik kesal.
“Cepat sayangku, nanti Kakek dan orang tuaku sudah menunggu kita.”
Daisy menghela napas dalam, menyimpan tasnya dulu kemudian di bawah tatapan suaminya yang intens membuatnya berdebar walau tidak sampai telanjang bulat, tetap saja membuat ruangan itu jadi terasa panas.
“Sekretarisku, Lulu, memberikanmu card kan?”
Kepalanya mengangguk “iya, Mbak Lulu kasih aku card katanya itu untuk aku beli apa pun. Keperluan pribadi. Kalau biaya rumah, pekerja dan lain-lain sudah kamu yang atur,” ia mengingat, sambil berbalik, Omara mendekat langsung mengambil alih tangan yang berusaha menaikkan resleting.
“Iya, kamu gunakan semua itu untuk membeli apa pun yang kamu inginkan.”
“Aku belum pernah gunakan, Mas.”
“Maka mulai besok, gunakan. Beli baju-baju baru, gaun malam... karena kamu akan sering mendampingiku dalam setiap undangan.”
“Bajuku masih banyak,” Daisy merasa tidak perlu belanja, bajunya masih cukup untuk menghadiri beberapa kali acara penting bersama suaminya.
“Tapi, kurasa kurang. Suamimu tidak akan bangkrut sayang, kalau pun hobimu belanja. Aku malah senang, artinya kamu hargai nafkah dariku.”
“Begitu ya, Mas?”
“Iya, Sweety.” Omara benar-benar bersabar menjelaskan pada istri kecilnya itu.
Jemarinya mengusap garis lurus punggung yang buat Daisy meremang apalagi Omara menunduk, mengecup bahu yang terbuka lalu menatap lurus kepada cermin yang menunjukkan seluruh penampilan mereka. Tangan Omara terulur berada di perutnya, tangan lain merapikan helai rambut istrinya, “seharusnya seperti ini Nyonya Jagaraga-ku.” Bisiknya.
“Uhm, katanya enggak mau terlambat.” Daisy mengingatkan.
Omara menyeringai, mencium pipinya lalu melepaskannya. Tapi tiba-tiba ia meminta Daisy menunggu. “Tetap di sini, sebentar... masih belum lengkap.”
Daisy menunggu seperti perintahnya.
“Bee, pakai ini juga,” jawab Omara singkat sambil menyodorkan kotak perhiasan biru tua itu.
“Apa ini Mas?”
Daisy membukanya dan terkesiap. Sebuah kalung emas putih yang sudah pasti terdapat berlian juga, sangat berkilau. Juga ada sepasang antingnya, “Mas... ini cantik sekali. Ini terlalu mewah.”
“Pakai saja, Bee. Anggap itu permintaan maafku karena tidak bersamamu setelah pernikahan kita” ujar Omara datar, meski hatinya mencibir dirinya sendiri.
“Mas, perhiasan dari seserahan kita pun belum aku pakai.”
“Itu pakai untuk acara lain, malam ini pakai pilihanku.”
Ia mendekat, mengambil alih kalung itu dan berdiri di belakang Daisy. Tangan besarnya yang dingin bersentuhan dengan kulit leher Daisy yang hangat saat ia mengaitkan pengait kalung tersebut. Pun membantu Daisy memasangkan antingnya.
Daisy menatap pantulan mereka di cermin. Ia merasa seperti seorang putri, berdiri di samping pria yang tampak begitu memanjakannya.
Daisy berbalik, melingkarkan tangan ditubuh suaminya dan mendongak, ia kecup dagu Omara, “terima kasih, Mas!”
“Kamu senang?” tangannya membelai punggung istrinya.
Daisy memberi senyum yang sangat tulus, Omara sejenak terpaku sebelum segera melepaskan diri. “Kita jalan sekarang, ambil tasmu.”
Tanpa menunggu Daisy, dia segera berbalik. Melangkah lebih dulu, dan membiarkan istrinya mengikuti. Tidak ada gandengan tangan yang Daisy harapkan.
***
Satu jam kemudian, mereka tiba di kediaman megah Catur Aji Jagaraga. Rumah itu tampak lebih terang dari biasanya, dengan deretan mobil mewah terparkir di halamannya. Begitu mereka melangkah masuk ke ruang tamu utama, suasana mendadak senyap.
Catur Aji duduk di kursi kebesarannya, menggenggam tongkat kayu jati dengan ukiran kepala naga. Di sisi kiri dan kanannya, orang tua Omara serta beberapa kerabat dekat sudah menunggu dengan wajah serius. Namun, sebelum sang kakek sempat mengeluarkan suara menggelegar untuk menegur cucunya, Omara sudah lebih dulu melingkarkan tangannya di pinggang Daisy, menarik gadis itu merapat ke tubuhnya.
“Selamat malam, Kakek. Papa, Mama,” sapa Omara dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, sesuatu yang sangat jarang ia lakukan. “Maaf kami sedikit terlambat. Daisy baru selesai bimbingan skripsinya sore, dan aku tidak tega memintanya terburu-buru.”
Omara menoleh pada istrinya, “sayang, beri salam pada Kakek dan orang tuaku, juga yang lain ya.”
Daisy tersenyum manis, memberi anggukan dan langsung menyalami seluruh anggota keluarga dengan tata krama yang sempurna.
“Kakek apa kabar? Semoga masakan Daisy kemarin tidak membuat perut Kakek sakit ya.”
“Masakan Daisy? Apa yang kami lewatkan, Papa?” tanya Irene, Mama mertua Daisy.
“Aku sempat mampir untuk menjenguk Daisy. Dia juga baru pulang kuliah, tapi semangat memasak untuk makan siang kami. Masakannya sederhana, tapi sangat enak.” Beritahunya dengan nada bangga. “Lain kali, Kakek akan datang lebih sering.”
“Kalau begitu, Kakek harus kabariku dulu. Biar Mas Omara pas di rumah, dan aku menyiapkan makanan yang lebih enak!”
Daisy kembali ke sisi Omara. Melihat interaksi itu, gurat kemarahan di wajah Catur Aji sedikit mengendur. Ia menatap tangan Omara yang begitu protektif mendekap pinggang Daisy. Ia tetap curiga, namun ia tidak bisa menyerang Omara di depan Daisy yang tampak begitu bahagia dan bersinar dengan kalung berlian di lehernya.
Catur Aji menarik napas dalam, saat tatapannya beradu dengan Omara, ia sangat yakin melihat seringai penuh makna muncul di wajah cucunya. Ia pasti sengaja membawa Daisy, padahal jelas Catur Aji meminta dia datang sendiri. Untuk dia cecar.