“Dai, Mommy-Daddy pulang!” suara ceriah sang istri begitu memasuki rumah. Yang dicari langsung Daima.
Omara berdehem melihat dan mendengar sebutan mereka untuk Daima. Hal baru dalam kehidupannya yang biasa pulang ke rumah dengan suasana tenang. Paling-paling hanya ada para pekerjanya yang sungkan mengganggunya.
Daisy terus melangkah ringan, sementara Omara mengikuti di belakang dengan langkah berat. Memerhatikan istrinya meraih Daima yang menghampiri, tampak menantikan kepulangan Daisy.
“Anak pintar, enggak nakal kan selama ditinggal Mom? Uhm... kangen ya? Duh gemasnya!” Suara gemas istrinya bersamaan mengangkat Daima lebih tinggi lalu mencium gemas wajah Daima.
Omara tertegun, secinta itu istrinya pada kucing pemberiannya.
“Kamu senang Daddy sudah pulang kan, Dai?” Suaranya mengajak bicara Daima masih terdengar.
Omara melewati mereka, Daima juga seperti tidak menganggap kehadiran Omara penting.
Daisy akhirnya menyusul suaminya ke kamar, menurunkan Daima di sana.
“Kita berangkat jam berapa, Mas?” tanyanya memerhatikan punggung suaminya yang tengah melepas jam tangannya.
“Jam lima dari sini.”
Daisy melirik mesin waktu di dinding kamar, masih ada dua jam lebih untuk bersiap.
“Mas, bisa istirahat dulu kalau begitu.” Ucapnya. Ia meletakan tasnya. Daisy pergi ke kamar mandi untuk membersihkan muka, cuci tangan dan kaki.
Rasanya masih perlu membiasakan diri dengan kehadiran suaminya kini, di kamar mereka.
Ketika ia keluar, Omara sedang bicara dengan seseorang ditelepon.
“Aku ada acara sore ini, sampai malam. Aku baru saja tiba di Jakarta.”
Daisy pilih menuju walk in closet saja, segera membuka lemari besar mereka. Ia memilih sebuah gaun midi berwarna biru yang elegan dengan potongan kerah sabrina yang sopan namun tetap memancarkan pesona mudanya.
Tapi, ia menggelengkan kepala “hanya makan malam di rumah Kakek Catur. Ini terlalu berlebihan. Pilih baju lebih santai, tapi tetap pantas saja deh!” gumamnya dan menyimpan gaun tersebut. Ia menyiapkan baju atasan dan rok yang nyaman.
Lalu setelah itu, ia berpikir “Mas Omara mau kusiapkan juga bajunya, atau enggak ya?” gumamnya.
Daisy memutuskan mencari suaminya, Omara sudah tidak menelepon. Dia sedang duduk bersandar sambil memejamkan mata di sofa.
“Mas,” panggilnya pelan. Daisy selalu saja masih takut mengusik Omara, karena tahu suaminya baru kembali dari perjalanan jauh. “Mas mau aku siapkan bajunya buat nanti malam?”
“Tidak usah,” tolaknya.
Daisy mengangguk, “uhm, Mas sudah makan siang? Mau aku siapkan?”
“Tadi di Bandara aku sempat makan dulu sama Gian.” Jawabnya.
Daisy kembali mengangguk, “ya sudah, Mas istirahat deh.”
Daisy sudah hendak berbalik, akan mengeluarkan Daima juga supaya tidak mengganggu Omara.
Omara akhirnya membuka mata, lalu matanya tertuju pada sekotak perhiasan dari Fifth Avenue yang tadi ia letakkan di nakas. Mulutnya sudah siap terbuka untuk memberikan pada sang istri, tapi Daisy lebih dulu menutup pintu bersama Daima.
Omara menghela napas dalam-dalam, Daisy benar jika ia lelah dan perlunya beristirahat. Omara pindah ke atas ranjang, berbaring tetapi punggungnya mengenai sesuai yang mengganjal tidak nyaman.
Tangannya meraba, tubuhnya miring dan mengambilnya. Dia mendesah, jepit rambut istrinya. Dia bangun, meletakan di nakas sisi tempat tidur. Tapi, matanya justru menemukan beberapa buku bacaan bukan miliknya.
Omara berakhir duduk, menatap kamarnya. Seolah baru menyadari sudah banyak perubahan. Tidak sama seperti terakhir yang ia ingat. Barang-barang milik istrinya ikut mendominasi. Bukan hanya itu, wangi kamar ini berubah. Lebih manis, khas parfum dan wangi istrinya. Omara melempar kepalanya ke bantal, menatap langit-langit kamar. Semua itu menunjukkan bahwa dia memang sudah menikah. Menempati kamar ini, tidak hanya sendiri.
Beberapa menit berlalu, matanya ternyata tidak mau terpejam. Terlalu hening harusnya cukup pas dan nyaman membuatnya beristirahat. Tapi, istrinya yang tidak kembali-kembali membuat Omara penasaran. Jadi, ia memutuskan mencarinya.
Omara baru menutup pintu saat mendengar suara televisi dari ruangan tak jauh dari kamarnya. Ia melangkah, menemukan Daisy tengah duduk dan Daima menjadi raja yang nyaman meringkuk di pangkuannya.
Daisy menoleh, “Mas, enggak jadi tidurnya?”
“Kamu sedang apa di sini? Di kamar kita juga ada TV kalau hanya mau menonton.” Ucapnya. Omara mendekat, ikut duduk lalu dengan tenang meraih Daima. Daisy sudah memerhatikan, berpikir suaminya akan membangun bonding dengan Daima tapi hanya menyingkirkannya ke atas lantai.
Ya, supaya Omara leluasa merebahkan diri dengan pangkuan Daisy sebagai bantalannya.
“Meong!” Daima mengeong, menatap sengit pada Daddy-nya.
Daisy tertawa, tangannya membelai rambut Omara “dia tidak terima kamu pindahkan, Mas.”
“Hm, dia harus paham kalau aku prioritasmu. Kemarin-kemarin dia bebas menguasaimu.”
“Mas cemburu sama Daima?” tanya Daisy tertawa, ia mencubit ujung hidung suaminya. Omara malah membawa tangan itu kembali ke rambutnya. Daisy kembali mengusap-ngusap yang membuat ngantuk Omara kembali.
“Tadi kamu belum jawab aku.”
“Yang mana ya, Mas?”
“Kamu ngapain di sini? Di kamar kita ada TV?”
“Mas kan mau istirahat, aku enggak mau ganggu Mas.” Daisy menjawabnya polos, membuat Omara tertegun sambil menatap wajahnya dari bawah. Daisy menunduk dan tersenyum.
“Kalau aku malah ingin kamu temani, bagaimana?”
“Oh, Mas harusnya bilang saja. Di rumah dari dulu, aku dibiasakan begitu... Kalau tahu Papa, atau Opa dan Mas Tyaga baru pulang dari urusan kerja... enggak boleh ganggu. Mereka butuh istirahat, sudah seharian kerja pasti capek.”
Omara mendengarkan tapi fokusnya pada bibir sang istri, “Bee...”
“Iya, Mas?”
“Aku belum puas merasakan bibir kamu, tadi di mobil.”
Daisy merona hingga mematung, Omara mengubah posisi jadi duduk dan gantian menarik Daisy duduk di pangkuannya menyamping. Tangannya membelai pipi sang istri yang masih malu-malu.
“Sebentar, Mas...”
“Kamu gugup?”
Daisy mengangguk, “itu Daima masih di bawah umur... kita enggak boleh beradegan dewasa di depannya dan ini di luar kamar, gimana kalau ada ART kita yang lihat?”
Omara sampai melongo mendengar Daisy menahan bibirnya dengan tangan hanya untuk mengatakan itu. “Bee, serius kamu ngomong gini? di lantai dua ini, cuman ada kita.” Lebih menggelikan karena ia memikirkan ada Daima di sana.
Kepalanya mengangguk, dan Omara akhirnya tertawa. Suara tawanya bersaing dengan suara dari televisi yang masih hidup. Gemas ia pada sang istri, “dia hanya kucing, Bee..”
“Eh, enggak... dia kan anabul kita Mas! Dia bagian dari kita berdua,” Daisy mencebikkan bibirnya, tidak terima kucing kesayangannya dianggap tidak berarti.
Karena Omara tidak mau menunda, akhirnya ia hanya fokus mengusap wajah istrinya sebelum menarik tengkuknya mendekat. Ia memiringkan wajahnya, mendapatkan yang diinginkan. Mencium bibir Daisy hingga membuat wanita itu sempat kewalahan.
Tangannya membelai punggung istrinya, sebelum menyusup dan cukup mudah melepaskan kaitan bra-nya.
“Mas!” Pekiknya terkejut.
Omara tidak pedulikan nada protes itu, saat kembali mengusai cumbuannya terhadap bibir ranumnya. Ya, meski pernikahan ini tak bisa ditolaknya sekalipun bukan memilih dengan hati. Paling tidak, Omara harus menikmati kehadiran sang istri dalam hidupnya, bukan? Pikirnya.
Beberapa waktu kemudian, setelah pergulatan batin dan fisik yang intens di ruang tengah, waktu seolah berjalan begitu cepat. Suara televisi yang masih menyala menjadi latar belakang sandiwara kecil yang sedang dimainkan Omara terhadap perasaannya sendiri. Namun, tepat saat suasana di sofa itu semakin memanas, ia menjeda saat sadar istrinya butuh ruang mengatur napas, ia melirik jam didinding, sudah menunjukkan pukul empat sore.
Omara melepaskan tautan bibirnya dan menarik jemarinya dari puncak d**a yang merekah damba itu, napasnya sedikit memburu. Ia menatap Daisy yang kini tampak berantakan dengan wajah yang semerah tomat. Daisy buru-buru merapikan pakaiannya, jemarinya gemetar saat berusaha membenarkan bra yang dinaikkan Omara, lalu membenarkan kaitan bra yang sempat dilepaskan Omara.
“Kalau sudah di rumah, hanya ada aku... Aku lebih suka kamu tidak pakai bra.” Bisik Omara nakal.
“Hm, biasanya juga aku begitu. Lebih leluasa, enggak betah pakai.”
“Lalu?”
Ia menunduk, “masih malu ada Mas!”
Omara terkekeh, “kita sudah melakukan lebih jauh, dan kamu masih malu?”
Daisy langsung mengalungkan tangannya di leher Omara, menyembunyikan wajah di ceruk lehernya.
Ah istri kecilnya yang pemalu! Batin Omara yang hanya mengusap-usap punggung istrinya dengan lembut.
“Sudah, kita harus bersiap sekarang, jika kita terlambat... Kakek tua itu pasti akan meneleponiku.” Ujar Omara, suaranya kembali datar dan dalam, seolah-olah gairah yang baru saja ia tunjukkan hal biasa untuknya.
“I-iya, Mas. Aku ganti baju dulu,” jawab Daisy terbata. Ia segera berdiri, hampir tersandung kaki sofa, dan bergegas masuk ke kamar diikuti oleh Daima yang mengeong seolah sedang mengomeli Omara karena telah mengganggu waktu tenang mereka dan mencemari penglihatannya dengan aksi intimnya barusan.
Omara bersandar, mengusap bibirnya yang masih tersisa rasa manis Daisy. Tatapannya berubah dingin, bahkan pada pertunjukkan di layar pipih televisi yang tidak menarik minatnya. Ia raih remote, mematikannya. Menyusul ke kamar, tapi ia menahan keinginan bergabung ke kamar mandi bersama istrinya, sebab bisa benar-benar terlambat jika ia lakukan.