Catur Aji Jagaraga berdiri di dekat jendela besar, membelakangi ruangan. Bahunya yang tegap tampak kaku. Di tangannya, sebuah gelas kristal berisi air mineral digenggam begitu erat hingga buku-bukunya memutih.
“Katakan sekali lagi, Gian!” suara Catur Aji rendah, namun mengandung ancaman yang mematikan.
“M-maaf, Tuan Besar... Pak Omara tidak ada di apartemen, tidak ada di rumah pribadinya, dan GPS mobilnya dimatikan sejak pukul tiga pagi tadi, saya benar-benar kehilangan kabar keberadaannya,” lapor Gian dengan suara gemetar.
Catur Aji berbalik, "jadi semalam Omara tidak ada di hotel ini, seharusnya dia sudah di sini, bukan?!"
"Iya, Pak Omara menolak ditemani saya. Dia tampak meyakinkan jika tidak akan membuat masalah di hari pernikahannya. Saya benar-benar ceroboh, saya minta maaf..."
Matanya yang tajam bak elang langsung menghujam empat pria yang berdiri berjejer di depannya, para sahabat cucunya yang sama-sama berasal dari keluarga sepadan dengan mereka. Bukan hanya ada Gian.
Galaxy Sanders, Anvaya Dante Sadajiwa, Mohamed Ibra Sakib, dan Arsenio Daitya Kamal. Mereka semua mengenakan tuksedo hitam yang sempurna, terpilih menjadi pendamping cucunya di pernikahan, namun raut wajah mereka menunjukkan kegelisahan yang sama.
Dari keempatnya, menyadari maksud dipanggilnya mereka ke ruangan tersebut.
“Dante, Ibra... kalian yang kuanggap memiliki pikiran lebih dewasa dari yang lain, dan sudah menikah. Katakan dengan jujur. Apa kalian membantu Omara pergi?”
“Tidak, semalam aku memang hadir di Party yang diadakan Omara tetapi aku dan Ibra datang bersama istri-istri kami. Sebelum tengah malam, kami sudah pamit pulang, Kek.” Dante dengan tegas memberitahu kesaksiannya.
Ibra pun memberi pengakuan yang sama, jadi hanya antara Arsen dan Galaxy yang tinggal bersama Omara semalam.
“Kenapa harus hari ini, membuat ulahnya?!” decak Catur Aji, memikirkan dengan yakin calon cucu menantunya, Daisy yang berada di kamar pengantin di hotel ini justru tengah bersiap. Sangat kontras dengan ketegangan disisinya.
“Arsen dan Gala, jadi kalian yang terakhir bersama Omara!” Catur Aji sambil menggebrak meja. “Apa yang terjadi?! Apa dia mabuk dan bersenang-senang seperti biasanya, di mana Omara?!”
Arsenio maju selangkah, mencoba tetap tenang meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
“Kek, semalam Omara memang minum banyak, tapi dia masih sadar sepenuhnya saat dia masuk ke mobil, menolak kami atau sopir kami antar. Dia hanya bilang dia butuh udara segar. Kami pikir dia hanya butuh waktu untuk sendiri, dan benar-benar pulang. Omara tidak terlihat memiliki rencana untuk mengacaukan hari pernikahannya.”
Catur Aji Jagara berdecak dengan rasa pening luar biasa, lagi-lagi Omara membuatnya kesal.
Dante melirik jam tangannya. Sisa empat puluh lima menit sebelum acara akad dimulai.
“Panggil Dierja, kita beritahu lebih dulu padanya—apa yang kemungkinan dilakukan putranya.” Ucap Catur Aji pada Gian.
“Kek, apa tidak ditunggu saja?” Cegah Dante.
“Entahlah, aku selalu salah menilai cucuku sendiri...” Ucapnya dengan nada putus asa.
“Ini bukan hanya mengenai nama besar Jagaraga, tapi rasa bersalahku nanti lebih pada sahabatku dan keluarganya... aku harusnya tidak menghancurkan masa depan seorang gadis sebaik Daisy, karena cucuku yang brengsek.” Gumamnya.
Keempat teman Omara saling tatap, mereka juga tidak akan menyerah.
“Kami akan tetap terus mencari Omara, Kek.” Pamit Dante mengajak yang lain keluar.
Hingga detik-detik terakhir yang harusnya sudah membuat mereka siap untuk melakukan pernikahan, justru ketegangan keluarga Jagaraga itu mencapai puncaknya, menciptakan atmosfer yang begitu pekat hingga seolah-olah oksigen di ruangan itu menipis. Catur Aji Jagaraga berdiri dengan sisa-sisa wibawanya, meski di dalam hati ia merasa kehormatan yang ia bangun puluhan tahun sedang berada di tepi jurang kehancuran. Dierja, ayah Omara, berdiri di sampingnya dengan wajah yang sudah tidak bisa menyembunyikan rasa malu sekaligus marah. Mereka berdua melangkah berat menuju ruangan keluarga besar Sangaji, bersiap memberikan pengakuan paling memalukan dalam sejarah keluarga Jagaraga, bahwa sang mempelai pria telah menghilang tidak ditemukan.
"Kami sudah mencari, nomornya tidak aktif dan menanyai semua teman-teman yang terakhir semalam bertemu dengannya." Ia jeda sesaat untuk menarik napas sambil mengepalkan tangan kuat.
Kemudian, ia lanjutkan “kami pun sudah memegang paspornya, mengecek setiap manifest penerbangan pribadi, namun Omara tidak ditemukan keterangan kepergiannya ke mana pun,” bisik Dierja pada Raiden, ayah Daisy, dengan suara yang bergetar dan kepala menunduk sedikit. Hanya Omara yang bisa membuat Kakek dan Ayahnya tidak berani menatap orang lain untuk pertama kalinya, karena rasa malu.
Raiden menatap calon besannya itu dengan mata yang memerah. Amarahnya nyaris meledak saat ia hendak menanyakan tanggung jawab mereka, namun tiba-tiba Daritri, istrinya, berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Gaun kebaya modern yang ia kenakan tampak kusut karena ia berlarian dari lantai atas.
“Daisy... Daisy tidak ada di kamarnya!” seru Daritri, suaranya parau karena panik.
Berita itu bagai petir yang menyambar di tengah badai.
“Apa kamu bilang, Ma? Tadi Daisy sedang difoto kan?”
“Iya, itu sudah selesai... terus minta waktu sendiri di kamar.” Seluruh ruangan mendadak gaduh. Tamu-tamu di luar sana sudah mulai berbisik, sementara perwakilan dari kantor urusan agama sudah duduk dengan tenang di depan meja akad, menunggu kehadiran dua insan yang akan di satukan. Perwakilan keluarga, berusaha menenangkan tamu. Pikiran buruk mulai merajalela...
Apakah mereka berdua sepakat untuk kabur bersama?
Namun, di tengah kepanikan massal itu, Gian, sang asisten kepercayaan Omara masuk dengan napas tersengal-sengal. Ia langsung mendekati Dierja dan berbisik cukup jelas hingga terdengar oleh Catur Aji.
“Pak Omara sudah datang. Beliau masuk lewat lift khusus untuk menghindari keramaian. Sudah siap, Pak."
Kelegaan sedikit hadir, ditambah kakak laki-laki dari Daisy, Tyaga datang dan memberitahu...
“Mama, Daisy sudah kembali ke kamarnya...”
“Syukurlah!” Ucap Raiden dengan lega. “Mereka membuat kita lebih tegang dari hanya menunggu akadnya...”
Tidak ada waktu untuk bertanya ke mana mereka pergi. Tidak ada waktu untuk interogasi atau sekadar menuntut penjelasan. Protokol pernikahan yang super ketat memaksa semua orang kembali ke posisi masing-masing.
“Jangan ditanyakan dulu, waktunya sudah terlambat... kita fokus pada pernikahannya saja.” Ucap Catur Aji sekali pun sangat ingin memukul cucunya dengan tongkat seperti setiap kali bertingkah.
***
Di dalam kamar pengantin, Daisy berdiri di depan cermin, mencoba mengatur napasnya yang menderu. Gaun pengantinnya sedikit berantakan di bagian bawah, dan ada noda air tipis yang nyaris tak terlihat pada kain sutranya. Ia menatap pantulan dirinya, melihat matanya yang kini memancarkan sesuatu kegelisahan kecil.
Sepuluh menit yang lalu, Omara menemukannya. Bukan di kamar, melainkan di ruang terbuka area taman hotel, Daisy sering bersembunyi saat merasa tertekan atau gugup butuh menenangkan diri. Entah bagaimana Omara juga ada di sana, namun matanya menatap Daisy dengan intensitas yang mendebarkan.
Omara memintanya kembali ke kamar, tanpa menjelaskan dari mana dirinya sendirian.
“Mengapa Mas Omara di sana, datang sendirian? Apa yang terjadi?” gumamnya. Tidak ada yang memberitahunya jika Omara sempat menghilang.
Kini, pintu kamar terbuka. Raiden dan istrinya masuk untuk menjemput putrinya. Ia melihat Daisy sudah berdiri tegak, cantik namun kaku seperti patung porselen.
“Ayo, Sayang. Mas Omara sudah menunggu di depan meja akad,” ajak Raiden, mencoba menutupi ketegangan beberapa saat lalu.
Daisy memberi anggukan, namun sebelum pergi ia menahan lengan ayahnya.
“Ada apa, putri cantik Papa?”
Ada sisa keraguan dihatinya.
“Ba-bagaimana kalau pernikahanku dan Mas Omara, tidak berjalan sebaik pernikahan yang aku harapkan?”
Raiden menyentuh dagu putrinya, “maka kamu hanya perlu bicara jujur, jika tidak lagi menemukan titik nyamannya dalam hubungan kalian nanti, sudah berusaha, memperbaikinya tetapi tetap tidak bisa dan justru merasa tertekan, maka bilang ke Papa, Mama atau kakakmu... Papa akan meminta Omara mengembalikan kamu pada Papa secara baik-baik sebagaimana Papa menyerahkanmu secara baik-baik hari ini. Kami juga melihat kedekatan kalian yang terasa tulus, selama berkenalan dan memutuskan mencoba dekat sampai pada ke hari ini.”
Daisy memberi anggukan, ia ingin menangis. Kakek, Papa dan keluarganya menaruh harapan besar pada Omara dalam menjaganya dan bertanggung jawab sebagai suami.
“Papa yakin kok... kamu bisa melewatinya, Daisy. Keluarga Jagaraga, sangat dekat dengan keluarga kita sejak lama. Terutama Opamu dan Kakek Catur Aji. Omara akan menjagamu dengan baik, bertanggung jawab dan menyayangimu.”
Daisy terdiam, tatapannya bertaut dengan sang Ayah sambil berkaca-kaca.
Benarkah pernikahannya ini, akan sesuai pernikahan impiannya dengan suami yang mencintai, memperlakukannya dengan sangat baik dan sayang?