Semua terasa manis!
Daisy tidak pernah merasakan kebersamaan mendebarkan seperti sekarang dengan pria mana pun sebelumnya. Ya, bisa dihitung dengan jari berapa mantan pacarnya. Satu memulai pertama kali saat masih memakai seragam putih-abu-abu hingga kuliah, hampir selama empat tahun, lalu putus dan Daisy dekat dengan senior di kampusnya, salah satu ketua BEM selama dua tahun. Setahun belakangan memang sedang kosong, itu juga setelah akhirnya kakek dan orang tuanya serius mengenai pembicaraan akan dikenalkan bahkan kemungkinan dijodohkan dengan cucu Catur Aji Jagaraga.
Daisy memang gadis penurut, sejak awal tidak pernah menolak tetapi pun tidak mencari tahu walau nama keluarga terpandang itu mudah ditemukan. Makanya, di awal mendapati sapaan Omara, ia tidak mengenalinya sebagai seseorang yang kini menjadi tunangan bahkan calon suaminya.
“Sudah ya, Mas...”
Omara selalu menariknya saat ia akan menjauh, berakhir dengan canda-canda intim yang berlanjut.
Suara tawa Daisy perlahan mereda, berganti dengan deru napas yang memburu saat Omara akhirnya membawanya kembali ke tepi kolam. Gaun putih bermotif bunga biru itu kini benar-benar transparan, melekat pasrah pada lekukan tubuhnya yang menggigil kaku—bukan karena dinginnya air, melainkan karena intensitas tatapan Omara yang seolah ingin menelannya bulat-bulat.
“Gadis ini menyembunyikan keindahannya,” batin Omara betapa sulit hanya untuk menelan ludah—bersamaan bayangan tubuh telanjang Daisy yang diam-diam pernah dilihatnya.
Sejak saat itu, katakan dirinya laki-laki b******k sebab menjadikan bayangan itu untuk memenuhi hasrat saat tiba-tiba menginginkannya.
“Mas, lihat... aku benar-benar basah kuyup,” suara protes Daisy dengan suara serak, mencoba menutupi dadanya dengan tangan, meski ia tahu itu sia-sia di bawah tatapan lapar tunangannya, berhasil kembali membawa Omara pada kewarasannya.
Omara tidak menjawab. Ia justru mengangkat tubuh Daisy keluar dari kolam seolah gadis itu tidak memiliki bobot, lalu ia sendiri naik dengan gerakan yang sangat tenang. Air menetes dari tubuh tegapnya, membasahi lantai marmer.
Mata Daisy memerhatikannya sambil menggigit bibir bawahnya.
Tanpa berkata-kata, Omara meraih handuk besar yang tergeletak di kursi santai, mengulurkan tangan membantu Daisy berdiri. Ia mengikis jarak, langsung membungkus tubuh Daisy, menarik gadis itu ke dalam pelukannya yang hangat dan posesif.
“Sudah kubilang, di dalam ada persediaan baju untukmu, akan kuminta disiapkan untukmu,” bisik Omara, mengecup puncak kepala Daisy yang basah. “Ayo masuk, sebelum suaramu benar-benar hilang karena kedinginan.”
Juga sebelum Omara melupakan ancaman kakeknya, sebab Omara sudah lama tidak menyentuh wanita mana pun lagi sejak resmi dikenalkan dan bertunangan dengan Daisy. Rasa lapar akan kebutuhannya, sudah mulai sampai kepalanya. Tapi, Catur Aji pasti akan menghabisi miliknya jika sampai berani mengauli cucu dari sahabatnya sebelum menikah.
Semua memang tidak luput dari pengawasan Sang kakek yang sangat ketat. Bahkan semalam, ada orang-orang kakeknya yang menjemput paksa dari tempat Party.
“Pulang sekarang, atau aku yang datang dan meratakan tempat itu! Mau taruh di mana wajahku, jika sahabatku...Genji Hyuga Sangaji tahu kelakuan liar kamu yang satu ini, akan dinikahkan dengan cucu kesayangannya!”
Begitulah omelan Kakeknya semalam, berteriak hingga telinga Omara sakit, harus menjauhkan ponselnya segera.
“Mas, di mana kamar mandi, dan kamar yang bisa kupakai?” tanya Daisy sambil menarik diri dari dekap tunangannya.
“Kamarku, yang akan jadi kamarmu juga setelah kita menikah...” tangannya membelai wajah gadis itu. Memerhatikan detailnya, dan menemukan alasan Omara tidak menolak perjodohan.
Selain dari keluarga baik-baik, pun diharapkan keluarganya, Daisy gadis yang penurut dan Omara tidak akan sulit berhasrat padanya.
“Uhm, di kamar lain saja ya. Masa di kamar kamu?”
***
Satu jam kemudian, suasana telah berubah menjadi lebih tenang, setidaknya tubuhnya mulai hangat. Daisy sudah berganti pakaian menggunakan pakaian bahkan dalaman yang disediakan di kamar tamu. Omara tidak berbohong jika ia memiliki persediaan pakaian wanita.
Daisy memeriksa, khusus baju dalaman terlihat baru. Tapi, sebuah atasan kaus putih lengan pendek dengan bordiran bunga mawar berukuran besar di kanan-kiri dadanya dan celana jeans pendek setengah paha yang nyaman. Dari beberapa pakaian yang tersedia di sana, Daisy memilih ini.
Rambutnya masih sedikit lembap, namun wajahnya cerah saat ia menyajikan sup ayam jahe buatannya di ruang makan yang menghadap langsung ke taman belakang.
Omara belum turun, hanya ditemani oleh pekerja rumah.
Rasa penasarannya muncul melihat beberapa pakaian wanita di kamar tamu.
“Bu Zainab...” Panggilnya pada pekerja rumah paruh baya, yang bekerja sudah lama dengan Omara.
“Iya, Non? Piringnya kurang?”
“Oh bukan, sudah cukup kok.” Ia mengulas senyum, semua ajaran Mamanya tertanam baik pada Daisy. Menyiapkan diri sebagai calon istri yang baik. “Boleh saya tanya?”
Ibu Zainab memberi anggukan.
“Ibu sudah lama kerja sama Mas Omara?”
“Sejak Mas Omara pilih tinggal di sini, Ibu dipilihkan oleh mendiang Nyonya besar.”
“Mama Irene?” Itu nama Ibu sambungnya Omara. Daisy tahunya jika orang tua Omara sudah lama bercerai, sejak Omara kecil. Ibu kandungnya meninggalkannya.
“Bukan, istrinya Pak Catur Aji.”
“Oh Nenek.” Gumamnya, dulu saat menjabat istrinya terkenal sebagai Ibu Negara terbaik yang pernah dimiliki negara ini. Mendirikan banyak sekolah rakyat gratis, yang masih berjalan sampai sekarang.
“Iya, beliau sangat sayang sama Mas Omara. Makanya betul-betul diperhatikan yang akan mengurus Mas Omara dan rumah. Mas Omara ini pemilih mengenai makanan.”
Daisy langsung melirik makanan yang dimasaknya, bagaimana jika suaminya tidak suka?
“Uhm, terus... keluarganya ada yang sering datang? misal sepupu atau saudara perempuannya, ya?”
ART itu mengernyitkan kening, “mereka sudah punya rumah masing-masing, Non. Jadi kalau ke sini, paling hanya mengunjungi.”
Pernyataan tersebut buat Daisy terdiam, lantas persediaan pakaian yang ada di kamar tamu milik siapa?
“Terus, itu pakaian yang saya kenakan ini punya siapa?”
Ibu Zainab terdiam, tampak gugup sebelum memberi jawaban... “Itu, uhm...anu ya Non, punya Mbak Au—“
“Wah dari wanginya sedap begini, bikin aku lapar makin lapar!” Omara tiba-tiba datang, berseru memotong ucapan pekerjanya.
Matanya menatap Daisy, mendekat dan mencium pelipisnya. Pekerjanya langsung pamit.
Omara duduk di hadapannya, sudah rapi dengan kaos rumahan, namun matanya yang tidak sejernih biasanya masih mengkhianati rasa lelahnya.
Daisy berhasil teralihkan, ia mengambilkan piring Omara dan mulai mengisinya dengan nasi.
“Jangan banyak-banyak, sudah cukup Bee...”
“Ini, Mas.”
“Makasih ya, kamu masak sendiri?”
“Iya.” Angguknya, “semoga Mas suka ya, jujur saja kalau nanti ada rasa yang enggak cocok sama lidahmu.”
“Iya sayang...”
Daisy ikut duduk, sengaja tidak sarapan di rumah supaya punya momen sarapan bersama tunangannya.
“Bagaimana, Mas... Enak?” tanya Daisy penuh harap saat Omara menyuapkan sendok pertama supnya.
Omara terdiam sejenak. Rasa hangat jahe dan kaldu ayam itu sebenarnya sangat kontras dengan sisa rasa alkohol yang masih tertinggal di pangkal tenggorokannya. Sup ini tulus, sangat tulus, hingga untuk sedetik Omara merasa terusik. Namun, ia segera menepis perasaan itu.
“Sangat enak, Bee. Kamu memang calon istri yang luar biasa,” puji Omara, tersenyum tipis. Ia menatap Daisy yang tersenyum senang mendengarnya, “Kakek tidak salah memilihkan pendamping untukku.”
Daisy mendongak, matanya berbinar. “Aku senang kalau Mas suka. Aku sempat khawatir Mas benar-benar flu. Jangan terlalu sering pulang malam karena urusan kantor, Mas. Kesehatanmu lebih penting.”
Omara hanya bergumam setuju.
Urusan kantor, batinnya sinis.
Jika Daisy tahu bahwa semalam ia baru saja menghabiskan ribuan dolar untuk botol-botol minuman dan dikelilingi oleh asap cerutu bersama teman-temannya serta wanita-wanita yang hanya ia ingat parfumnya, mungkin sup ini tidak akan pernah sampai ke mejanya. Ya, perempuan-perempuan yang mendampingi. Tidak sampai ia sentuh seperti biasanya.
“Mas...” Daisy berpindah duduk ke kursi di samping Omara, meraih tangan pria itu yang bebas.
Gerakan sendok Omara terhenti. Ia meletakkan sendoknya dan beralih menatap Daisy sepenuhnya. “Kenapa? Ada yang mau kamu bicarakan. Masih berubah pikiran, masih ingin memundurkan pernikahan kita?”
“Bukan begitu, sudah tidak bisa karena Papa melihat kita.”
Daisy menunduk, memainkan jemari Omara. “Hanya saja... aku masih takut kalau aku tidak bisa menjadi istri yang baik sementara aku masih harus menyelesaikan kuliahku.”
Omara meraih dagu Daisy, memaksanya untuk mendongak. Di mata Daisy, Omara melihat pengabdian yang buta. Gadis ini siap menyerahkan masa mudanya dan seluruh hidupnya demi pria yang baru ia kenal beberapa bulan. Menurut atas kepercayaannya pada pilihan keluarga mereka.
“Aku yakin kamu bisa. Kamu hanya perlu berada di sisiku,” ucap Omara, suaranya melembut namun terdengar mutlak. “Lain-lainnya, jangan dikhawatirkan.”
Kalimat itu terdengar seperti janji bahwa semua akan baik-baik saja bagi telinga Daisy yang naif. Ia tidak menangkap makna bahwa ada yang janggal.
Daisy tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Omara.
“Aku percaya, tidak ada yang salah dengan perjodohan kita ini. Semua atas restu orang tua, keluarga kita... Kakekku, dan orang tuaku memilihmu, pasti karena yakin kamu suami terbaik untukku, Mas.”
Omara yang mengusap punggung Daisy sampai berhenti, mengepal sesaat dan saat Daisy mendongak, ia memberi senyum lalu mengecup bibirnya.
***
Sore harinya, setelah Daisy pulang karena tuntutan jam malam dari Papanya, rumah besar itu kembali dalam keheningan yang dingin. Omara berdiri di balkon lantai dua, mengamati mobil Daisy yang menghilang di balik gerbang. Perempuan itu menolak di antar. Kucingnya, Daima pun ikut dibawa pulang.
Ia merogoh saku celananya, mengambil sebuah ponsel kecil yang ia sembunyikan dari Daisy sepanjang hari. Ada satu pesan masuk dari salah satu temannya, di grup beranggota enam orang dengan nama Savage Elegance. Persahabatan yang dimulai dengan kecocokan, kenakalan dan seru-seruan masa bebas.
Arsenio Daitya Kamal: [Aku baru sadar semalam Omara menghilang, balik? Sudah siap gabung ke Baginda Dante yang punya batas jam malam? Belum juga nikah, sudah disiplin saja]
Omara menatap pesan itu tanpa membalas. Membiarkan teman-temannya yang membalas. Ia beralih menuju ruang kerjanya, membuka brangkas rahasia tempat ia menyimpan potret wanita dari masa lalunya. Ia menatap foto wanita yang kini sudah menjadi milik pria lain itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Dia memiliki kesamaan sedikit denganmu, datang hari ini membawakanku sup, seperti yang dulu sering kamu lakukan saat kusakit,” gumam Omara sinis pada foto itu.
“Dan pakaianmu sangat pas dikenakannya, sampai aku tadi terpaku seolah teringat, melihatmu saat memakainya.”
Tarikan napasnya dalam sekali.
“Dia gadis muda yang naif. Sangat mudah dicintai... jika saja aku masih punya hati untuk itu...”
Omara tertawa hambar menyadari dirinya bicara kosong pada sebuah foto. Pernikahan yang tinggal menghitung minggu ini bukan lagi tentang mematuhi Kakek Catur, melainkan tentang membangun benteng untuk membuktikan bahwa dia baik-baik saja tanpa cinta yang meninggalkannya dan memilih orang lain.
“Dua minggu lagi, Daisy Raqeela akan jadi istriku. Dan aku akan memastikan dia tidak akan pernah pergi, bahkan jika dia akhirnya tahu bahwa dia hanyalah pelarian dari rasa sakitku. Tidak ada yang bisa meninggalkanku, seperti caramu, Aurelia... Bahkan kamu akan iri, dan menyadari penyesalanmu memilih pria lain, dibanding memberiku kesempatan dan memaafkanku lagi!”
Omara menutup brangkas dengan bunyi terkunci yang tajam. Di luar, langit mulai menggelap, seolah ikut bersiap menyambut badai yang akan segera datang dalam hidup Daisy—seorang gadis yang baru saja pulang dengan hati berbunga-bunga, tanpa menyadari bahwa sup hangat yang ia buat dengan cinta, dimakan oleh pria yang sedang merencanakan cara paling efisien untuk membelenggu hidupnya.
Pernikahan itu bukan lagi sebuah janji suci di mata Omara, melainkan sebuah transaksi akhir yang akan mengunci Daisy dalam sangkar emas Jagaraga selamanya.
Omara mengambil ponsel, mengetikkan pesan.
[Aku akan menyiapkan pesta besar, di malam sebelum hari pernikahanku. Pesta lajang, yang tidak akan kalian lupakan. Atur waktu, termasuk Dante... harus datang]
Pesannya pun terkirim di grup bersama teman-temannya...
"Aku akan bicara dengan para ART, agar tidak pernah membicarakan mengenai Aurelia pada Daisy." Ya, seperti tadi. Hampir saja, nama itu disebutkan salah satu ART seniornya.