Hening yang janggal menyelimuti kamar luas itu ketika Omara membuka matanya. Rasa pening yang beberapa jam lalu sempat menghantam kepalanya seperti godam kini mulai menyurut, menyisakan sensasi rasa yang lebih bisa ditoleransi. Ia menoleh ke arah tangannya, plester kecil menutupi bekas infus yang telah dicabut. Di ambang pintu kamar tidur, ia melihat Gian, asisten pribadinya, sedang mengarahkan dokter pribadi keluarga Jagaraga untuk pulang sebab tugasnya sudah selesai di sana. “Kondisi fisiknya hanya kelelahan akut dan dehidrasi, Pak Gian. Pastikan bos Anda untuk minum obatnya dan istirahat total besok,” bisik sang dokter sebelum menghilang di balik pintu. Omara bangkit dari ranjang, gerakannya masih sedikit kaku. Ia membenahi kaus rumahannya, lalu melangkah keluar. Tadi langsung ia ga

